"Udah malem, tidur. Besok kamu ada kelas pagi, kan?"
Sudah hampir lima kali Gaby mengingatkan, namun Gema tetap fokus bermain PS di ruang televisi.
Sepertinya telinga lelaki itu sudah digusur oleh pemerintah, lalu dibangun tol layang di dalamnya.
Lelah mengingatkan Gema, akhirnya Gaby beranjak dari sofa dan menaiki anak tangga untuk menuju kamar.
Ingat, ya. Gaby masih pada ucapannya tadi sebelum sampai lapangan basket kampus. Bahwa Gema tidur di kamar bawah. Persetan lelaki itu akan mengamuk padanya. Toh, Gema juga mengeyel.
Gaby mengunci pintu kamar juga menggeser slot dibalik pintu agar Gema tidak bisa masuk dengan kunci cadangan.
Ia pun naik ke atas ranjang, merentangkan tangannya sejenak untuk melepas penat setelah dua jam lamanya menemani Gema latihan basket.
Tubuhnya berbaring, menatap langit-langit kamar, dan tidak lama kemudian matanya terpejam.
Sedangkan di sisi lain, Gema merasa begitu sepi. Ia tidak lagi mendengar suara lagu dari ponsel Gaby.
Setelah menoleh singkat, ternyata tidak ada gadis itu. Ia segera beranjak dan melangkah menaiki anak tangga, menuju kamarnya.
Tangannya meraih knop pintu, namun tidak terbuka. Gema sungguh lupa pada ucapan Gaby tadi saat di mobil.
"Byy?"
"Gaby."
"Gaby, buka pintunya!"
"Byyy!"
Tidak ada sahutan dari dalam. Gaby juga tidak pernah ganti baju di kamar, lalu menguncinya agar ia tidak masuk.
Gadis itu jika ganti baju pasti selalu di kamar mandi.
"Gabyy ...."
Ia berdecak pasrah tidak mendapat sahutan dari dalam. Saat hendak berbalik ke ruang tv, pintu terbuka.
Niatnya urung kala melihat Gaby membukakannya pintu. Namun gadis itu menahan tubuhnya untuk tidak masuk ke dalam kamar.
"Kamu lupa sama ucapan aku?"
Satu alis Gema naik. "Huh? Yang mana?"
"Tidur di kamar bawah."
"Byyy," rengek Gema, mendorong daun pintu itu, namun ditahan lebih kuat oleh Gaby.
"Aku atau kamu yang tidur di kamar bawah?" tanya Gaby membuat Gema frustasi.
"Kok lo tega sih sama gue?" balas lelaki itu lirih dan penuh kecewa.
Gaby tidak membalas. Ia hendak menutup pintu, namun satu tangan Gema mencekal lengannya.
"Byy, plis lah."
"Apa?"
"Gue tidur sama lo." Bibirnya ditekuk. Hal selucu itu tidak membuat Gaby berubah pikiran. Memang gadis ajaib.
"Aku gak mau sebelum kamu iyain permintaan Bunda."
"Kurang apa lagi sih gue, By? Semua ucapan Bunda udah gue iyain."
Gaby beralih menatap lain seraya menghela napas. "Soal Karisa jadi asisten kamu," ucapnya mengingatkan.
"Gak!" tolak Gema tegas. "Gue gak bakalan mau dia jadi asisten gue," lanjutnya.
Gadis itu tidak membalas ucapannya.
"Byy ..."
Gaby kembali menatap Gema. "Yaudah, aku aja yang tidur di kamar bawah."
Gema berdecak samar mendengar itu. "Iya iya oke gue tidur di kamar bawah." Perlahan ia melepas tangannya yang melingkar pada lengan gadis itu.
•••••
KAMU SEDANG MEMBACA
LEFT BEHIND [END]
Ficção AdolescenteIa ingin membuktikan. Bahwa cinta tumbuh itu bisa dari rasa terpaksa. --Left Behind-- ©9aglie (BELUM REVISI) RANK🎖 #1 married [Sabtu, 9 Maret 2024] Start : Selasa, 24 Oktober 2023 Finish : Kamis, 23 Mei 2024
![LEFT BEHIND [END]](https://img.wattpad.com/cover/354476104-64-k339501.jpg)