15°

4.3K 97 2
                                        

"Hari ini ada temen gue mau main ke rumah. Gapapa, kan?" tanya Gema yang hanya mendapat anggukan dari Gaby.

Ada yang aneh dari Gaby. Ia merasakan perbedaan itu. Tapi entah mengapa rasanya sulit untuk menebak seorang Andrea Gaby.

"By."

Gaby mendongak singkat tanpa menghentikan kunyahannya. Mereka tengah sarapan dengan posisi duduk yang berhadapan.

"Kemarin gue ketemu sama Karisa, jadi dia itu anak angkat Bunda yang sekarang udah tinggal sendiri gak bareng Bunda," jelas Gema sedikit gugup akibat suasana canggung ini.

Gaby tidak tahu soal itu. Mungkin jika ia tahu lebih dulu, mood-nya tidak akan seburuk ini.

"Rame ya di twitter soal gue sama Karisa?" tanya Gema was-was.

"Aku gak punya twitter lagi. Kan udah kamu hapus," balas Gaby tak acuh.

Gema mengusap-usap leher belakang seraya meringis pelan. Bisa-bisanya ia lupa sudah menghapus aplikasi itu dari ponsel Gaby.

"Lo gak marah, kan?"

"Ngapain aku marah? Lagian udah terjadi juga."

"Bukan gitu, By--"

"Cepet abisin sarapan kamu, aku gak mau telat. Soalnya hari ini aku ada quiz."

•••••

Sesampainya di tempat yang Gaby tuju, lelaki itu hendak membuka pintu mobil namun lebih dulu ditahan oleh Gaby.

"Aku bisa sendiri," ucapnya, lalu meraih satu tangan Gema dan menyalimi tangan lelaki itu dengan singkat.

Gaby tahu kebiasaan Gema itu membukakan pintu untuknya. Tapi kali ini ia sangat enggan. Entahlah mengapa. Gaby merasa amat tak karuan dengan suasana hatinya.

Manik tajam milik Gema terus menatap gadis itu yang melangkah semakin jauh dari pandangan.

Dering ponsel berhasil membuat matanya mengerjap. Nama Bunda terpampang jelas pada layar ponselnya.

"Halo, Bun?"

"Tadi Karisa udah ke rumah kamu belum, Nak?"

"Hm."

"Hm apa? Udah atau belum, Algemantra Wiratama ..."

"Udah."

"Astaga. Ngomong udah susah banget kayaknya. Yaudah, nanti malem kamu sama Gaby ke sini, ya. Makan malem bareng sama Karisa juga."

"Bun ..."

"Enggak ada tapi-tapian, Nak. Ayo, lah. Ini Bunda sama Bi Hera udah masak, lho."

"Iya iya. Nanti aku sama Gaby ke sana."

"Nah, git--"

Sambungan telepon diputus lebih dulu oleh Gema. Jujur ia tidak ingin banyak bertemu dengan Karisa. Takut jika Gaby menafsirkan kedekatannya dengan gadis itu berbeda.

Padahal hanya sebatas teman semasa kecil saja.

•••••

Di lain sisi, Gaby berusaha mencari cara agar tidak ikut makan malam. Temannya tidak tahu bahwa Gaby sedang mencari akal-akal agar pulang lebih larut malam.

LEFT BEHIND [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang