27°

3.5K 83 0
                                        

"Gema."

"Hm."

"Coba cek Karel lagi di mana."

"Hm."

"Sekarang, Gema."

"Hm."

"Algemantra."

"Iya istrii," balas Gema dengan suara beratnya, mengecup singkat dahi Gaby.

Dengan malas ia beranjak dari kasur dan melangkahkan kaki mencari Karel. Suara berisik dari ruang televisi membuatnya terdiam sejenak sebelum menuruni anak tangga.

"Astaga Karel," gumamnya, langsung menuruni anak tangga dengan cepat, dan menggendong balita itu, membawa kembali ke kamar.

"Ibu peliii!" teriak Karel, lalu memeluk Gaby yang tubuhnya masih bergulung dengan selimut.

"Di mana?" tanya Gaby pada Gema yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.

"H-hah?"

"Karel tadi di mana?" ulangnya, lalu menuntun Karel untuk berbaring di kasur lagi.

"Depan tv," balas Gema cepat, seraya mengusap-usap tengkuk.

Mendengar hal itu Gaby berdecak kesal. "Kalau dia kepleset di tangga gimana? Kamu mau tanggung jawab? Lain kali kalau aku ngomong tuh dengerin."

Gema tidak menyahut. Ia memilih untuk diam dan merutuki nasibnya yang diduakan oleh Karel.

Ia terdiam sejenak menatap wajah dari pantulan cermin kamar mandi. Tidak bisa dibayangkan jika nanti memiliki anak, pasti Gaby lebih banyak meluangkan waktu dengan anaknya dibandingkan dirinya.

Bingung menyelimuti Gema saat ini. Tapi ia ingin sekali memiliki anak dan membuktikan bahwa ia sudah dewasa secara fisik dan mental. Dan juga otak.

Tok

Tok

Tok

"Om All!! Au andii!"

Gema menghela napas panjang. Membuka knop pintu, melihat Karel yang sudah merentangkan tangan dengan tubuh yang telanjang.

Sedangkan Gaby berusaha tidak malas menjauhi kasur. Sebab pagi ini ia harus ekstra menyiapkan sarapan untuk Gema dan Karel.

Kakinya melangkah keluar dari kamar, menuju dapur. Matanya menyipit kala mendapati ruang televisi yang begitu berantakan.

Kaset berceceran, bantal sofa di mana-mana, serta stoples makanan berhamburan sebagian isinya.

Gaby tidak memusingkan hal itu. Ia kembali melangkah menuju dapur, menyiapkan peralatan dan bahan-bahan untuk membuat sarapan.

"Gembyy???"

Suara itu membuatnya menoleh ke arah pintu. Tante Deca tersenyum merekah ke arahnya.

"Eh, Byy ... Karel di mana?? Maaf banget ya semalem gue lupa jemput dia. Maklum, lah. Lemburr ..."

Gaby menghampiri Tante Deca. "Gapapa, Tan. Aku seneng kalau Karel nginep di sini karna--"

"Itung-itung simulasi punya anak, kan??" sela Tante Deca, tertawa lepas, meledek Gaby.

Gaby tersenyum simpul mendengar itu. Ia mempersilakan Tante Deca untuk duduk di sofa terlebih dahulu, dan ia akan ke kamar untuk membawa Karel ke ruang televisi.

"Ada Tante Deca," ucap Gaby, membuat Gema menghentikan tawanya saat bermain Karel.

"Ndak auuu!!" teriak Karel, menggeleng kepala kuat, dan memeluk Gema dengan begitu erat.

LEFT BEHIND [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang