"Waduhh! Ketua BEM kita, nih! Senggol, dong," sambut lelaki kribo, bernama Jalu.
"Kusut amat muka lo, Gem." Kalau yang ini namanya Reno. Yang katanya ketampanannya 11 12 dengan Gema. Tapi Gema lebih unggul.
"Pasti abis berantem sama bini," tebak Reno, menuai kekehan dari Jalu.
Gema melepas almamater kampus. Menaruh di atas meja dekat kunci mobil. Ia meneguk gelas berisi es teh milik Jalu.
"Gaby mau ketemuan sama Arza," ucap Gema, lalu mengusap wajah frustasi.
"Anjirr." Jalu mengumpat dengan kedua mata yang hampir keluar.
"Terus lo ijinin gitu aja?" tanya Reno, melihat Gema yang begitu kebingungan.
Suasana riuh kantin fakultas membuat kepala Gema semakin ingin pecah. Ia tidak membalas pertanyaan Reno. Memilih untuk membuka ponsel. Melihat ruang pesannya dengan Gaby.
Gaby
Aku otw ke kafe pake ojol
Terserah nanti kamu mau jemput aku atau enggak
Gue jemput nanti
Setelah rapat
Gema menutup ponsel. Ditaruhnya dekat almamater. "Gue nyerah aja kali, ya?"
"Ah, gila lo. Kalau mau nyerah kenapa gak dari awal aja coba?" Reno menyahut, menghela napas panjang.
"Saran gue mending lo kasih tau nyokap lo. Meski pun dia yang punya kuasa di hubungan lo, tapi gak etis anjir. Udah sah tapi masih ketemuan sama cowok," jelas Jalu, sambil memainkan rambut kribonya.
"Dan lo gak tau kan kalau Arza itu udah bener-bener jadi mantannya dia atau belum? Ya ... walaupun gue tau. Pasti setiap dia mau ketemu sama Arza selalu ngabarin lo, ngasih tau tempatnya di mana. Tapi tetep aja. Gak etis."
Gema terdiam. Ia tidak menyerap kalimat kedua teman kelasnya itu. Sebab Jalu dan Reno selalu mengulang kalimat itu padanya.
Yang artinya, ini bukan pertama kalinya ia bercerita mengenai Gaby yang bertemu dengan Arza.
"Tapi apapun yang lo lakuin sekarang, gue dan Jalu salut sih sama lo. Mungkin kalau gue jadi lo, gue udah milih cerai," kekeh Reno.
Gema menghela napas berat. "Tadi Bunda ke rumah. Bilang ke gue kalau--"
"Harus sayang sama Gaby. Kalau lo sayang sama dia, berarti lo juga sayang sama Bunda. Gitu, kan?" Sela Reno cepat.
"Jadi pertanyaan gue ... lo udah sayang belum sama dia?" tanya Jalu penasaran.
"Kayaknya udah," balas Gema seadanya, menuai helaan napas berat dari Jalu dan Reno.
"Udah hampir sebulan lo nikah sama dia tapi jawaban lo sama aja. Emang gak ngerasain deg-degan atau salting gtu?"
Gema menaikkan bahunya. Sebab ia bingung. Sifat Gaby masih sulit ditebak. Terkadang gadis itu terlihat nyaman dengan status terpaksa ini, tapi terkadang juga gadis itu lupa dengan statusnya saat ini.
"Mana ada Gema ngerasain kayak gitu. Hampir mati rasa kan lo?"
"Enggak juga," balas Gema, menuai tawa dari Jalu dan Reno.
Dering ponsel Gema berbunyi. Menampilkan nama seseorang di layar. "Gue ke gedung F dulu. Udah ditunggu buat rapat," pamit Gema, beranjak dari duduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
LEFT BEHIND [END]
Ficção AdolescenteIa ingin membuktikan. Bahwa cinta tumbuh itu bisa dari rasa terpaksa. --Left Behind-- ©9aglie (BELUM REVISI) RANK🎖 #1 married [Sabtu, 9 Maret 2024] Start : Selasa, 24 Oktober 2023 Finish : Kamis, 23 Mei 2024
![LEFT BEHIND [END]](https://img.wattpad.com/cover/354476104-64-k339501.jpg)