36°

3.4K 80 1
                                        

Sesampainya di rumah, Gema langsung mengikuti langkah Gaby dari belakang. Pasalnya ia kini amat takut, karena gadis itu sedari tadi selama perjalanan pulang menuju rumah, sama sekali tidak mengeluarkan suara.

"Gaby."

Gaby hanya bergumam samar membalas pangilan Gema.

"Byyy," panggilnya lagi, kali ini disertai merengek. Tapi tidak membuat Gaby menoleh.

"Mau pudingg ...," pinta Gema, menggoyang-goyangkan lengan Gaby, dan langkahnya terhenti di depan pintu kamar.

Gaby berbalik. Mendongak dengan wajah datarnya. "Kamu malem ini tidur sama Papa."

Refleks kedua alis Gema hampir menyatu. "Ah! Kok gitu sih, By??"

"Pertama. Kamu ngelakuin aneh-aneh kemarin sore. Ked--"

"Ngelakuin apa sih, Byy ...," Gema pasrah, menahan pintu kamar itu dengan tangannya.

Gaby berdecak samar. Mengetuk pelan lengan Gema yang berada di dekat wajahnya.

Wajah Gaby datar namun benaknya amat gemas melihat Gema seperti tidak melakukan kesalahan.

"Kedua ... kamu tadi bohongin aku."

Gaby berbalik dan hendak masuk ke dalam kamar, namun Gema lebih dulu menahan pintu itu.

"Gabyyy ...," rengek Gema lagi.

"Yang pertama apaan emangnya? Gue beneran gak inget."

"Gak usah pura-pura gak inget. Kamu maksa aku buat ngusap perut kamu itu," balas Gaby tanpa membalikkan tubuh dan terus mendorong pintu kamar.

Grep!

Gema langsung memeluk gadis itu dari belakang. Persetan jika Gaby tambah kesal atau bahkan mengusirnya dari rumah. Tidak mungkin juga itu terjadi.

Ah. Intinya Gema sudah gila dengan gadis itu. Lihat saja saat ini ia mengecup bertubi-tubi leher Gaby seraya merengek meminta maaf.

"Aduhh! Manjanya anak Bunda ..."

Refleks Gaby menoleh dan membalikkan tubuh. Otomatis Gema terpaksa ikut menoleh dan menatap Bunda yang berpakaian rapi sepulang dari kantor.

"B-bunda udah dari tadi?" tanya Gaby. Amat malu melihat perlakuan Gema tadi padanya.

Bunda mengangguk cepat seraya tersenyum lebar. "Kasih hukuman aja, By ... biarin dia tidur sama Papa kamu."

Gema berdecak samar lalu menarik tangan Gaby masuk ke dalam kamar. "Eh ehh! Bunda mau ngomong, Algemantra! Dasar anak yatim!"

"Dasar janda!" balas Gema dari dalam kamar.

Gaby memukul singkat lengan Gema namun tidak berefek apapun bagi lelaki itu.

"Gak boleh gitu sama Bunda, Gema."

Bruk!

"Awwsh ..." Gaby meringis ngilu saat tubuhnya dipaksa tidur di kasur dan memandang tajam ke arah Gema yang melepas baju.

"Mau ngapain kamu?" tanya Gaby ketus, mendapat senyum tipis dari Gema.

Gaby berusaha mengatur deru napas. Pasalnya matanya kali ini melihat Gema lebih tampan dari biasanya.

"Gak ngapa-ngapain. Cuman mau main aja sama lo. Boleh, kan?"

Demi dewa neptunus. Suara Gema seperti om-om yang sudah mendapat mangsa.

Saat Gaby hendak terduduk, Gema dengan cepat naik ke atas kasur dan menyelipkan tangan di pinggang gadis itu.

Kini Gaby berubah posisi menjadi tengkurap di atas tubuh Gema yang duduk bersandar di kepala ranjang.

LEFT BEHIND [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang