Tribun begitu penuh dan riuh teriakan pendukung Vagastor, klub basket Unreeda.
Sesekali--dalam pertandingan--Gema menoleh ke arah Gaby yang terduduk sendiri di kursi VIP, dekat dengan lapangan dan bersampingan dengan kursinya yang diisi tas ransel.
"Halo," sapa seorang gadis berambut panjang namun berbentuk amat keriting, membuat Gaby menoleh. "Anak FEB bukan?"
"Iya," balasnya, tersenyum simpul.
Gadis itu menjulurkan tangannya ke arah Gaby. "Aku juga anak FEB. Btw, aku sering liat kamu di kelas. Tapi kita beda kelas. Hehe."
Gaby kembali menatap lurus. Bagaimana coba ceritanya ia tidak sekelas, tapi gadis berambut keriting itu sering melihatnya di kelas. Apakah gadis berambut keriting itu penguntit?
Uluran tangan gadis itu diabaikan oleh Gaby. Bukan bermaksud apa. Ia hanya ingat ucapan Gema saat itu. Banyak sekali cara gadis lain untuk mendekatinya. Termasuk cara dekat dulu dengan orang terdekatnya.
Tapi sedetik kemudian Gaby menoleh. Menerima uluran tangan itu. "Gaby," balasnya singkat memperkanalkan nama, dan kembali menatap lurus.
Ia takut dicap sombong dan jutek. Meskipun demikian seringkali dibilang jutek, tapi Gaby berusaha abaikan cibiran itu.
"Aku Disa," ucap gadis berambut brokoli itu, memandang Gaby dari samping. "Kamu istrinya Kak Gema, kan?"
Gaby mengangguk samar tanpa mengeluarkan suara. "Tuh kan bener. Soalnya kamu sering banget dibicarain sama anak FEB. Termasuk kelas aku."
Sungguh suasana yang sulit untuk Disa berteman dengan Gaby. Ternyata benar kata Abangnya, bahwa sifat Gaby sulit untuk ditebak. Bahkan sulit sekali untuk didekati.
Saat pertandingan dijeda, Gema menghampiri Gaby yang terduduk di kursi. Di mana kursi samping gadis itu terdapat tasnya yang berisi baju ganti dan air minum.
Refleks Gema menempelkan tangan pada dahi Gaby. Menuai teriakan dari atas tribun.
"Gema." Gaby menegur pelan. Takut jika lelaki itu bertindak lebih dan tribun semakin riuh.
"Udah gak anget lagi," ucap lelaki itu, lalu terduduk di samping Gaby. Pasalnya beberapa jam lalu dahi dan suhu tubuh Gaby sangatlah hangat.
"Jangan gitu. Malu banyak orang," desis Gaby, menoleh pada Gema dan menjauhkan tangan lelaki itu dari dahinya.
"Ada temen se-prodi aku juga."
Satu alis Gema naik menatap Gaby. Ia mengintip siapa gadis yang duduk di samping Gaby.
"Oh, dia. Adeknya Jalu," balas Gema, melihat Disa yang kini berbincang dengan teman satu klub basketnya.
"Jalu itu temen kamu?"
"Iya si Jalu. Yang rambutnya kayak dia juga."
Gaby membulatkan mulutnya seraya menganggukkan kepala. "Aku baru liat," gumamnya yang masih bisa didengar oleh Gema.
•••••
"Ah anjir!!" Pekikan itu membuat Disa berdecak. "Gara-gara lo gue jadi kalah," keluh Jalu, mengusap rambutnya kasar. Lalu menaruh stik PS itu di karpet.
"Ck, apaan sih Bang. Gak jelas lo orgil," balas Disa, lalu terduduk di sofa. Menaruh makanan itu di karpet. Tepat di samping Jalu duduk. "Eh, Bang. Ternyata bener ya kata lo."
"Apaan?!" balas Jalu sewot.
"Gaby ..."
"Oh, dia. Ya emang! Lo batu banget gue bilangin. Udah tau Gaby backingan-nya Gema. Gak usah sok berusaha buat jadi bestinya tuh cewek, deh. Takdir lo emang gak punya sahabat, ya udah gak punya."
KAMU SEDANG MEMBACA
LEFT BEHIND [END]
Fiksi RemajaIa ingin membuktikan. Bahwa cinta tumbuh itu bisa dari rasa terpaksa. --Left Behind-- ©9aglie (BELUM REVISI) RANK🎖 #1 married [Sabtu, 9 Maret 2024] Start : Selasa, 24 Oktober 2023 Finish : Kamis, 23 Mei 2024
![LEFT BEHIND [END]](https://img.wattpad.com/cover/354476104-64-k339501.jpg)