28°

3.4K 74 1
                                        

Gema dan Gaby bisa diibaratkan seperti langit dan bumi soal pertemanan.

Gaby terbiasa dengan sepi dan sendiri, sedangkan Gema terbiasa dan tidak bisa lepas dari dunia luar yang berhubungan dengan teman dan lingkungan sekitar.

Malam ini ia mengajak Jalu, Reno, Disa, dan Viola ke rumah untuk bermain santai sebelum datangnya UTS.

Sudah setengah jam lamanya mereka asik di ruang televisi. Viola dan Disa mengobrol cantik, sedangkan ketiga lelaki itu bermain game di ponsel sesekali mengumpat kesal.

"Eh anying!" pekik Jalu, terus menarikan jarinya di layar ponsel. Sesekali satu tangannya masuk ke dalam stoples berisi wafer, lalu dikunyah nikmat.

"Ck, ah. Gak seru," keluh Reno, menyandarkan tubuh pada ujung sofa.

Sedangkan Gema terus fokus dan asik bermain tanpa mempedulikan Reno yang mulai bosan.

"Eh, Gem. Bini lo gak keluar kamar?" tanya Reno penasaran, menatap ruangan lantai dua yang kelihatan dari tempatnya duduk.

Gema hanya menggeleng samar tanpa beralih dari ponsel.

"Ajakin sini aja, sih. Kasian ege. Ngerem mulu di kamar. Lama-lama bertelur gimana?" ledek Jalu, terkekeh samar. Beralih melirik Viona dan Disa yang tengah berbincang tidak jauh dari pandangannya.

"Jangan-jangan si Gaby lagi hamil," imbuh Jalu menuduh, menuai gelak tawa dari Reno.

"Boro-boro hamil, paling disentuh dikit sama Gema langsung alergi."

Gema tidak membalas celetukan Jalu. Sebab ia tidak ingin kalah dari permainan ini.

"Renn!" teriak Disa, membuat Reno menoleh cepat.

"Apaan?"

"Udah malem, Viola anterin, nih. Lo jadi pacarnya gimana, sih? Gak becus banget," omel Disa pada Reno.

Reno berdecak pelan mendengar itu. "Bilang aja lo gak mau belajar sama gue," gumamnya, yang masih bisa didengar oleh Viola.

"Apaan, sih? Orang lo nya aja pake urat kalau ngajarin. Udah cepet anterin. Anak orang lo bawa nyampe malem gini." Disa mendumel kesal.

Akhirnya Reno beranjak, menyambar jaket dan mengulurkan tangan pada Viola.

Perlahan wajah Disa berubah menjadi tak terbaca melihat perlakuan manis Reno untuk Viola.

Dengan ragu Viola menerima uluran tangan Reno, lalu beranjak dan diikuti oleh Disa. "Aku pamit duluan, ya, Dis," ucap Viola amat lembut.

"Iya, udah sana balik. Gue tau lo strict parents," balas Disa, membuat Reno mendelik.

"Mulut lo sopan dikit bisa kali," cibir Reno, lalu menarik lembut tangan Viola keluar rumah, menuju motornya terparkir.

Mendengar hal itu berhasil membuat Disa mengurungkan niat mengantar mereka sampai ambang pintu. Ia berdiri, terus memandang dua punggung yang berjalan sejajar.

Otaknya berputar cepat. Membandingkan diri dengan Viola yang terlihat lebih feminim, lembut, dan seperti perempuan seutuhnya.

Sedangkan dirinya, terlihat tomboy, seperti preman yang sering menguras dompet di pasar, serta suaranya yang tak pernah lembut dan santai.

"Dis," panggil Jalu, membuat Disa mengerjapkan mata dan berbalik.

"Apaan?"

"Lo ajak main Gaby sana. Kasian dia di kamar mulu," suruh Jalu, membuat Disa mengernyitkan dahi se per kian detik.

Jalu menepuk bahu Disa, lalu berjalan santai menuju dapur untuk mengambil minum. "Bilang aja disuruh Gema."

•••••

LEFT BEHIND [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang