06°

6K 144 3
                                        

Gema menepati janjinya. Ia akan menunggu Gaby sampai selesai kelas di kantin FEB. Biarlah ini dibilang hal bodoh jika Reno dan Jalu melihatnya.

Terlebih lagi kedua sahabatnya tahu bahwa kantin FEB terlihat seperti rawan untuk seorang Algemantra Wiratama, ketua BEM Universitas Afreeda (Unreeda).

"Gema."

Ia menoleh. Mendapati Gaby menekuk bibirnya dengan wajah murung. "Kenapa?" Satu tangannya menarik agar Gaby terduduk di kursi sampingnya.

"Tadi banyak yang ngomongin kita, kalau kita nikah karena aku hamil di luar nikah," papar Gaby amat pelan, lalu menenggelamkan wajah di atas meja.

Gema mengernyit heran. Tidak biasanya Gaby memasukkan setiap omongan negatif orang lain ke dalam hati.

"Lo masih dateng bulan?"

Gaby mengangguk dengan posisi yang masih sama. Nah, kan. Pantas saja gadis itu masih sensitif.

"Aku jadi males masuk kelas."

"Nanggung, By. Satu SKS itu gak lama. Apalagi matkul Pak Hendra."

Akhirnya Gaby menegakkan tubuh. Menatap sekilas Gema yang duduk di sampingnya. "Emang kamu pernah diajarin sama Pak Hendra?"

Gema berdeham singkat seraya mengangguk. "Lo masuk kelas, oke? Gue bakal tungguin di sini."

"Emang gapapa?"

"Apanya?"

"Kamu nungguin aku di sini."

Satu tangan Gema mencubit gemas pipi Gaby. Membuat gadis itu meringis pelan. "Dari awal kenapa lo gak nanya gini ke gue coba? Kalau tau kan gue nunggu di rumah aja."

Gaby menghela napas panjang. "Kan, kemarin kamu yang bilang mau nungguin aku di sini."

Hening.

Suasana kantin untung saja tidak terlalu ramai. Sebab jika angkatan Gaby mulai keluar kelas, Gema takut dirinya tidak selamat dari banyak paparazi.

Apalagi--bahasa kasarnya--ini bukan lingkungan Gema. Sebab hampir seluruh mahasiswa Unreeda tahu bahwa Gema adalah anak Teknik Mesin.

"Yaudah aku ke kelas," pamit Gaby, beranjak dari duduk dan berjalan menuju kelas yang tidak jauh dari kantin.

Gema menoleh sebatas bahu hingga gadis itu hilang dari penglihatannya. Ia membuka ponsel. Menelpon Bunda menanyakan apakah wanita itu ada di rumah atau tidak.

"Halo, Bun. Ada apa?"

"..."

"Nanti aku sama Gaby mau nginep. Bunda ada di rumah, kan?"

Dahi Gema hampir mengernyit mendengar Bunda harus mendadak ke luar kota untuk menjenguk ponakannya yang masuk rumah sakit.

"Iya, gapapa. Nanti aku bilang sama Gaby."

"..."

"Gak tau dia kemarin nangis. Terus aku cerita kalau Bunda mimpiin dia nginep di sana."

"..."

"Iya kangen Mamanya kali."

"..."

"Iya."

"..."

Gema berdeham samar menyetujui Bunda yang menutup sambungan telepon lebih dulu.

Sudah hampir tiga jam lebih ia duduk di kursi kantin. Sudah lebih dua botol minuman juga habis.

Gema tidak pernah mempermasalahkan itu. Ia hanya takut Gaby merasa sedih yang berlarut-larut akibat menangis kemarin.

Dering ponselnya berbunyi. Menampilkan nama Jalu di sana.

LEFT BEHIND [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang