4. Areksa

8 0 4
                                    

"Aku ingin menyerah untuk mengejar mu tapi jauh dilubuk hatiku aku masih mencintaimu"
-Vanya Xellyncia

"cinta boleh, tolol jangan"
-Tifanny Gabriella



"Ma-makasih ya untung lu ngerti ama kode yang gue kasih ke lu tadi, kalau engga gue ga tau bakalan dibawa kemana ama driver cabul itu" ucap Vanya menatap penuh haru pemuda yang telah menolongnya tadi

Mereka berdua berada disebuah warung, pemuda itu sengaja singgah ke warung itu untuk membelikan Vanya air minum

"Ya sama-sama, kalau boleh tau nama lu siapa? Kita belum kenalan nih" Tanya pemuda itu mengulurkan tangannya kedepan vanya

"Nama gue Vanya, lu bisa manggil Anya atau Vanya doang" gadis itu membalas uluran tangan pemuda itu sambil tersenyum manis

"Gue Areksa" Vanya hanya mengangguk

hening melanda keduanya, vanya sesekali berdehem untuk menghilangkan rasa canggung. sebenarnya gadis itu ingin bertanya sesuatu dengan Areksa tetapi mengurungkan niatnya karena pemuda itu lebih dulu bertanya

"sorry sebelumnya, ngomong-ngomong kenapa lu tadi bisa"

"ah karena seseorang" potong vanya cepat karena ia lebih dulu mengetahui isi pikiran pemuda itu

"what?" areksa mengernyitkan keningnya bingung dengan jawaban gadis itu "terus semisalnya ga ada gue yang nolong lu, lu kan bisa lomp-"

"ngotak lah, badan gue aja udah kelu buat digerakin gara-gara takut ples panik apalagi tu driver gila bawa motornya laju njir, gue mah mana berani buat lompat" ketus vanya menatap pemuda itu sengit

areksa hanya menggaruk tengkuknya gatal "iyya ma-"

"lu ga ikhlas nolongin gue ya?!" sungut vanya

"ehh engga gituu, gue nanya doang aelah maaf buat lu kesingg-"

"sebentar gue bakalan ganti uang lu, oke?"

"lu hoby banget motong ucapan gue sedari tadi!" areksa meninggikan suaranya karena geram, vanya terjengkat kaget menatap areksa heran

pemuda itu mendengus saat melihat ekspresi vanya yang terlihat menggemaskan itu "maaf maaf.."

"sepertinya bakalan ujan, gue ant-"

"bolehh!!"

areksa membuang nafasnya lelah kala gadis itu memotong ucapannya lagi, tetapi ia langsung berjalan menuju motornya dengan vanya yang mengekor

diperjalanan mereka berdua tidak mengobrol satu sama lain vanya malas jika ada acara "hah?, apa?" karena bisingnya kendaraan, sesekali areksa mencuri-curi pandang melalui spion memandang wajah cantik vanya dengan rambut yang diterpa angin. areksa memang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi karena vanya yang tidak menggunakan helm apalagi jalanan ke rumah vanya itu suka melewati gerombolan polisi yang berjaga dipinggir jalan mencari mangsa untuk ditilang.

vanya menunjukkan rumahnya setelah hampir sampai, areksa pun menghentikan motornya sambil bernafas lega untung saja tidak ada polisi lalu lintas tadi.

Vanya XellynciaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang