"Bolehkah aku menjadi ayah dari anak itu?"
Bulan Juney harus merelakan masa mudanya untuk mengurus anak di luar nikah yang sedang dirinya kandung. Juney pun terpaksa mengasingkan diri, ia harus hidup dan menghidupi anaknya seorang diri di kota yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Life is like cycling. If you want to maintain your balance, you have to keep moving forward." -Einsten
Fajar menyingsing. Taufan pagi pun dengan tidak sopannya menembusi dinding. Samar-samar terdengar sedikit ricuh suara klakson kendaraan milik orang-orang berdasi berdesing.
Kali pertama baginya terbangun di tempat yang terasa asing.
Sesaat setelah melenguh, kesadarannya pun perlahan kembali utuh. Alih-alih mengeluh, sudah sepantasnya ia bersyukur karena tidak terbangun di tempat yang kumuh.
Dalam sekejap Juney dapat menyadari di mana dirinya berada sekarang. Di sebuah kota yang mungkin sangat jauh dari tempat asalnya. Pun kembali teringat akan apa yang telah ia lalui hingga bisa berakhir di sini.
Sebuah perjalanan yang cukup panjang.
"Tora..., aku sangat membencimu," lirih Juney seraya menatap kosong atap kamar barunya. Ah, sial. Perempuan yang sedang mengandung seorang anak itu merutuki dirinya sendiri setelah teringat betapa menyedihkan dan hinanya ia malam itu.
Sembari sesekali mengelus pelan perutnya.
Jika diperkenankan mengatakan yang sebenarnya, Juney sempat setuju dengan keputusan sang ayah untuk menggugurkan nyawa yang ada di dalam perutnya ini. Bahkan ia pernah beberapa kali mencoba, tak ayal mencoba membunuh dirinya sendiri. Tetapi entah kenapa selalu tidak berhasil.
Seakan tidak diperbolehkan untuk lari dari tanggung jawab. Juney merasa dirinya telah dipaksa untuk menghadapi takdirnya, menyikapinya seorang diri. Tapi apa kabar dengan pria bajingan yang merupakan ayah kandung dari anak ini itu? Dibiarkan kabur begitu saja? Terbang bebas dan mengotori sarang lainnya?
Terkadang dunia memang terkesan tidak adil, ya?
Tanpa sadar tangis lolos dari manik indahnya. Benar, kan? Kini matanya terbuka hanya untuk menumpahkan linangan kesedihan yang tak mampu lagi dirinya bendung. Juney menangis dalam diam, mengasihani nasibnya sendiri, bahkan di saat detik pertama ia terbangun dari tidurnya.
Namun, sesaat setelahnya ia dengan cepat mengusap buliran itu. Perempuan berusia 21 tahun ini teringat akan mukjizat yang telah Tuhan berikan untuknya. Tentang bagaimana seorang siswa sekolah menengah dengan beraninya menghajar copet yang berusaha mencuri tasnya, dan juga tentang bagaimana sepasang kakak-beradik memberikannya tumpangan tempat tinggal.
Juney harus menghargai itu semua dengan cara tetap hidup, bukan?
Untuk itu, mulai saat ini ia akan bertekad. Juney yang sekarang bukanlah Juney yang dulu, seorang manusia lemah yang tak mengetahui banyak hal, manusia yang hanya terbelenggu akan ambisi akademik, dan manusia yang dengan pasrah rela diperdaya manusia keji lainnya.