Selang infus kembali terpasang di tubuh lemah Bulan Juney. Kini keadaannya sudah jauh lebih baik setelah menerima penanganan dari tenaga kesehatan yang ada di rumah sakit terbaik kota ini.
"Kita tidak bisa tinggal diam begitu saja. Melihat kondisi fisik Juney, aku rasa ia tidak akan bisa bertahan hidup jauh lebih lama lagi jika keadaan terus menekan dirinya."
Joshua mengangguk mengerti. Mengamini apa yang telah wanita berjas putih itu katakan di hadapannya. Manik serigalanya menyorot Juney yang sedang tertidur lelap di ranjang rumah sakit, terkulai lemas tak berdaya.
Dibanding iba, perasaan marahnya jauh lebih besar sekarang. Iya, marah kepada pria tak bermoral yang telah lari dari tanggungjawabnya itu. Joshua bersumpah akan menghajar pria yang telah membuat Juney menjadi seperti ini nanti jika mereka sampai dipertemukan.
"Lalu, apa menurutmu kita cari dan bilang saja kepada orang tuanya?"
Kalea menghembuskan napas gusar. Jujur, dirinya juga tidak tahu harus berbuat apa sekarang melihat kondisi temannya yang sangat memprihatinkan. Di satu sisi, Jihoon sangat mempedulikan kesehatan fisik Juney. Namun, di sisi lain, ia juga tahu betul dengan kesehatan mental sahabatnya tersebut.
Kalea tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan, bukan?
"Bahkan aku yakin kehadiran orang tuanya tidak akan cukup untuk mengobati luka di hatinya, Joe," ucap Kalea di tengah keheningan di dalam kamar kelas atas rumah sakit tempat dirinya bekerja itu.
Joshua menggaruk tengkuknya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal. "Lalu kau memintaku melakukan apa? Menjadi suami Nona Juney dan menggantikan peran pria bajingan itu?"
"Apa kau pikir Juney akan mau menikah dengan bocah ingusan sepertimu?" ejek Kalea dengan seringai di wajahnya.
Anak sulung keluarga tersohor Murphy itu terperangah tidak terima. "APA KAU BILANG?!"
CTAK!
"Pelankan suaramu, Bodoh! Jangan lupa kau sedang berada di rumah sakit dan ada Juney yang sedang tertidur," omel Kalea setelah berhasil menjitak kepala Joshua dengan puas.
Sementara Joshua hanya bisa memasang raut wajah kesal yang dibuat-buat seolah sedang kesakitan sembari terus mengelus kepalanya. "S-sebenarnya ada satu orang yang bisa menjaganya."
Pernyataan Joshua barusan menarik kembali atensi Dokter Kalea setelah mengecek keadaan Juney. "Siapa?" tanyanya penasaran.
"Adikku."
"Jupiter Murphy."
Kalea memejamkan mata sejenak, berusaha menetralisir pikirannya yang sedang terbang entah kemana. "Apa dia sudah tahu bahwa Juney sedang hamil?"
"Sekarang aku sudah tahu."
Terdapat seorang pemuda berseragam sekolah yang ternyata sudah berada di balik pintu sedari tadi dan telah mendengar semuanya. Sudah jelas, itu adalah Jupiter.
Hal ini tentu mengejutkan Kalea dan Joshua. Keduanya tahu bahwa hubungan Jupiter dan Juney sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Lantas, dengan terkuaknya fakta tersebut, sudah bisa dipastikan akan manambah ketegangan di antara mereka.
Tidak bisa dipungkiri, hati Jupiter terasa begitu sakit sekarang. Pikirannya memaksa memutar kembali ingatannya yang terekam bersama sosok Juney, yang ternyata merupakan seseorang yang sedang mengandung anak dari pria yang tidak dirinya ketahui.
Sebenarnya, alam bawah sadar Jupiter enggan untuk percaya apa yang telah telinganya dengar barusan. Hal ini kompak dengan hati kecilnya yang masih mempertanyakan kebenaran pernyataan tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
EXILE
Romance"Bolehkah aku menjadi ayah dari anak itu?" Bulan Juney harus merelakan masa mudanya untuk mengurus anak di luar nikah yang sedang dirinya kandung. Juney pun terpaksa mengasingkan diri, ia harus hidup dan menghidupi anaknya seorang diri di kota yang...
