"Bolehkah aku menjadi ayah dari anak itu?"
Bulan Juney harus merelakan masa mudanya untuk mengurus anak di luar nikah yang sedang dirinya kandung. Juney pun terpaksa mengasingkan diri, ia harus hidup dan menghidupi anaknya seorang diri di kota yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sometimes, we just need to escape to be able to breathe."
Ia sudah mati.
Kehidupannya kini telah hancur berantakan, sesak akan porak-poranda penyesalan, menyisakan puing-puing harapan yang tak beralasan. Memang tidak ada lagi alasan untuk menghidupkan kembali kehidupannya, tidak sedikit pun.
Semenjak malam panjang yang telah ia lewati beberapa waktu lalu, semuanya mulai menghitam, gelap gulita, sesak, hampa, juga pudar.
Hatinya pun kian menutup, hanya kelopak matanya yang masih terbuka. Itupun cuma untuk meneteskan linangan kesedihan yang tak sanggup lagi dirinya bendung.
Bulan Juney sudah mati.
PYAAAR!
Perempuan bersurai hitam kecoklatan itu terperanjak kaget, rungunya menangkap suara pecahan kaca dari lantai bawah rumahnya. Meskipun enggan untuk tidak bergeming dari bawah selimut tebalnya, kaki jenjang Juney membawanya beranjak, rasa penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi pun juga tak kalah besar.
Perlahan Juney mengendap-ngendap menyusuri lorong, mengambil tempat di balik dinding. Samar-samar dapat ia dengar rintihan kepedihan dari sang Ibunda, yang tanpa sadar turut mengiris si relung hati.
Netra hazel itu kembali mengadar, mendapati pecahan kaca yang berserakan di lantai dapur bersama sang Ibu yang terduduk lemas di antaranya. Kembali mengoyak kewarasan dari seorang remaja yang kini mulai beranjak dewasa berteman kekecewaan itu. Juney menangis. Kali ini lebih hebat, dengan menggigit bilah bibir bawahnya berusaha meredam raungan.
Maniknya bergulir ke arah bawah, memandangi perutnya yang membuncit hari demi hari. Terbesit di benak, hal inilah yang menjadi penyebab utama atas kekacauan keluarganya sekarang. Ya, semua ini adalah salah Juney.
"Apa lagi yang kau perbuat kali ini?"
Tangis Ibu Irene sejenak terhenti. Mendongakkan wajah menghadap ke arah sang suami yang kini tengah membantunya kembali berdiri. Sejujurnya, Irene masih enggan berbicara dengan pria tampan yang mengambil peran sebagai kepala keluarga itu. Ia masih marah lantaran suaranya tak didengar.
"Karena masalah Juney, kau kehilangan dirimu, Sayang."
Wanita berparas bak Dewi itu menatap nanar Harris, menyiratkan ketidaksetujuan. "Ini semua karenamu," lirih Irene.
Harris menghela napas dengan berat. Jemarinya ia gunakan untuk mencengkeram kedua bahu sang istri lembut. "Hei, dengarkan aku du---"
"Aku tidak mempermasalahkan kehamilan Juney, itu semua terjadi di luar kendalinya," potong Ibu satu anak itu dengan tegas.