13. Basket

53 6 0
                                        

Jupiter memandangi punggung cantik perempuan berambut panjang yang saat ini terlihat sedang mengantre untuk mendapatkan se-cup eskrim. Juney sudah lama tidak memakan salah satu camilan favoritnya itu, maka dikala netranya melihat truk penjual eskrim yang terparkir di serambi kanan gedung olahraga kota ini, saat itu juga ia memutuskan untuk membelinya.

Ulasan senyum kecil terpatri di bibir pemuda sekolah menengah itu, gemas menyaksikan seorang ibu hamil yang bertingkah tak jauh berbeda dari anak usia sepuluh tahun.

Saat ini keduanya sedang berada di stadion untuk menyaksikan turnamen basket antarsekolah yang sedang digelar. Lebih tepatnya untuk memberi dukungan kepada salah satu pemainnya yaitu Joshua Murphy. Tim basket sekolahnya berhasil masuk ke babak semi-final, jika hari ini mereka menang, maka akan kembali berjuang pada babak grand-final bulan depan.

Banyak stan makanan yang dijajakan di sepanjang pelataran luar stadion berkapasitas lima ribu lebih kursi penonton ini. Seolah lupa dengan kehamilannya, hal tersebut tak luput dari antusias Juney untuk mencicipi atau sekadar melihat-lihat ke beberapa stan.

Tak hanya makanan, kini manik Jupiter tertuju pada stan yang menawarkan jasa photo-booth. Tidak lama setelah itu Juney kembali dengan membawa dua cup eskrim rasa vanila dan cokelat di kedua genggaman tangannya. Ia menyodorkan eskrim rasa cokelat kepada Jupiter karena vanila ialah perisa favoritnya.


"Kau membelinya untukku?"


Juney mengangguk. "Tentu, karena kamu sudah sabar menungguku dari tadi," jawabnya kemudian.


Tanpa berpikir panjang Jupiter langsung menerima cup eskrim cokelat itu dan segera memakannya dengan lahap. Tak lupa dirinya juga mengucapkan terima kasih kepada perempuan yang jauh lebih tua darinya itu sebelum kembali melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi seluruh stan yang berada di tempat ini.

Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Masih tersisa banyak waktu sebelum pertandingan yang akan dimulai pada pukul 12 siang nanti. Cuaca yang sedang bersahabat dengan sukarela mengantarkan suasana baik kepada keduanya. Terpaan halus sang taufan menyejukkan hati mereka di tengah teriknya matahari.


"Kak Juney, ayo ikuti aku!"


Juney yang sedari tadi masih sibuk dengan acara memakan eskrimnya itu pasrah digandeng Jupiter yang ternyata berjalan menuju ke arah stan yang menawarkan jasa photo-booth. Tidak buruk, pikirnya. Dengan berfoto, mereka akan memiliki bahan untuk mengenang momen ini di kemudian hari. Ya, momen yang belum tentu akan terulang kembali.

Tidak banyak antrean, setelah satu grup yang berisikan empat orang wanita dengan pakaian nyentrik itu selesai dengan sesi fotonya, kini tiba giliran Jupiter dan Juney.

Kedua manusia dengan status hubungan yang tidak bisa dideskripsikan itu terlihat sangat menikmati beberapa jepretan kamera yang memotret gaya-gaya absurd yang mereka perlihatkan secara natural. Ah, benar, jangan lupakan se-cup eskrim yang masih bertengger manis di genggaman tangan mereka masing-masing itu, ikut hadir dalam beberapa potret.

Setelah membayar dan mendapatkan beberapa lembar foto, Jupiter dan Juney keluar dari stan photo-booth dengan senyuman merekah berseri di paras wajah keduanya. Lengan kokoh Jupiter melingkar sempurna di pinggang Juney, sedikit membantunya untuk berjalan ke luar, melewati beberapa tanaman dan garis antrean yang sedikit menghalangi.

Detik berikutnya manik tajam Jupiter melihat penampakan salah satu teman perempuannya di sekolah. Itu adalah Mia, perempuan tomboi berdarah Jepang yang handal dalam bela diri. Mia menyadari kehadiran Jupiter, maka dari itu tanpa banyak pertimbangan ia langsung menghampirinya.

EXILE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang