Uraaaaaa
Author kembali up
INGAT JANGAN JADI SILENT READERS
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
SELAMAT MEMBACA
_________________________________________
"Naya!!!" Teriakan membahana milik cewek bertubuh mungil tapi mulut toa. Siapa lagi kalo bukan Lisa.
Gadis ajaib yang anehnya bisa berteman dengan Naya. Padahal mereka bertolak belakang, kadang kalo gilanya naik baru dah mereka bisa sefrekuensi.
"Sakit tuh tenggorokan, mampus lo" ucap Arga menoyor kepala Lisa. Dan langsung mengambil posisi duduk didepan Naya.
"Badan kecil, mulut toa" ucap Erick
"Rik lo ada dendam pribadi yah, sama gue?" Tanya Lisa bercakap pinggang.
"Enggak tuh" cuek Erick
"Tapi it-"
"Nggak cape? berdiri terus Lis" Tanya Aiden. dan berjalan mengambil pesanan mereka, karena kasihan juga sih Lisanya, berdiri ke anak hilang ditengah-tengah kantin. Padahal ada banyak kursi yang tersedia.
"Cape? Yah iyalah babi! Lo kira gue nggak cape apa berdiri terus?"cerocos Lisa dan segera duduk.
Jadi posisi duduknya tuh seperti. Aiden, Arga, Lisa dan di depan mereka ada Erik, Edward dan terakhir Naya yang sedang tidur.
"Gue juga sebenarnya cape Lis, punya teman spek ke elo. Udah beban, mulut toa, nyusahin pula" ucap seseorang yang baru saja datang dengan semangkok bakso ditanganya. Tak lupa juga 3 orang ibu kantin mengikutinya dari belakang untuk membawah pesanannya.
"Lo mending diam deh Ai, lo sekalinya ngomong gue sakit ati tau nggak" sangat dramastis. Itulah yang terlintas di benak teman-temannya.
"Ai Ai Ai, nama gue tuh Aiden bukan Ai" sunggut Aiden.
"Ganteng ke gini masa namanya Ai" Lanjut Aiden.
"Dua huruf depan nama lo apa?" Tanya Lisa
"Ai" jawab Aiden
"Yah udah, berarti nama lo Ai. Nggak salah dong gue manggilnya"
"Bener juga yah" Aiden pusing memikirkan namanya sendiri.
"Fiks pulang nanti, lo harus ganti nama" sahut Arga
"Apa sih anak monyet, ikut-ikutan mulu lo babi" ujar Aiden dan melempar Arga dengan pentolan baksonya.
"Jorok banget sih lo Ai" Lisa pura-pura histeris untuk memanaskan keadaan.
"Kalian bisa diam nggak?" Ucapan halus bernada ancaman. Seketika membuat mereka diam tak berkutik lagi.
"Nah gini kan enak" ujar Naya. Ia kembali membaringkan kepala nya pada meja kantin. Kembali menyelami dunia mimpinya, dengan sapuan tangan seseorang pada kepala nya.
"Tunggu diancam dulu baru mau diam? Kalian suka yah buat singa yang lagi tidur bangun?" ucap Erick.
"Bu-bukan gitu rik, salahin tuh sih Lisa" ujar Aiden tergagap
"Enak aja, kok gue sih" Lisa tak mau kalah dengan tuduhan tak bermutu dan berbobot milik Aiden.
"Mulai" Edward yang sejak tadi diam bak patung pancoran. Mulai membuka suaranya, memperingati mereka semua untuk tetap diam.
Hari ini suasana hati nya sedang buruk, begitu pun dengan seseorang yang sejak tadi dia elus kepalanya. Entah kenapa tak ada semangat hidup yang ditunjukan oleh orang disamping nya ini.
"Eh kalian bakalan lanjut dimana?" Lisa membuka percakapan, karena merasakan suasana yang sangat awkward.
"Apanya?" Tanya Aiden dengan menaikan satu alisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eleonore
Narrativa generaleKalian pernah melihat seseorang tertawa, bercanda, dan selalu tersenyum lebar? Tapi apa pernah kalian menanyakan keadaan mereka? atau sebaliknya, kalian akan melontarkan perkataan seperti ini "hidup Lo enak banget astaga, semua-semua nya lengkap. ir...
