17 November 1997
Band di sekolah pertama kali dipopulerkan oleh angkatan ketiga SMU Abadi Nusa. Katanya band itu tercipta secara tidak sengaja, mereka juga hanya iseng berkumpul dan bermain musik. Walau band mereka tidak populer keluar sekolah tapi berhasil menciptakan tren untuk sekolah. Akhirnya dibuat ekstrakurikuler musik, sekolah menyuruh mereka untuk membuat band. Sebenarnya tidak wajib tapi karena band begitu populer di tahun 90an terutama diera sekarang, band begitu melejit.
Sudah hal biasa bagi mereka yang memiliki band untuk bersaing dengan band-band yang sekarang populer. Bahkan tak jarang dari mereka yang berhasil menciptakan banyak penggemar hingga keluar sekolah. Atau paling beruntung lagi bisa diundang di televisi.
"Sepertinya kita harus mulai gila," celetuk Dewa.
"Mulai gila gimana?" tanya Jody keheranan.
"Iya, kita bikin panggung dadakan aja. Di lapangan kek atau enggak di mall boleh juga tuh." ucap Dewa menyalurkan idenya.
"Kalau kayak gitu berarti kita harus punya propertinya dong? Kayak misalnya gitar dan drum." ucap Arjun.
"Tapi ide Dewa bagus juga tuh, kan secara gak langsung itu promosi. Biar orang luar tahu kita." seru Jody dengan senyuman lebar dan berbinar-binar.
"Betul! Tumben Dew lo pinter." ujar Yaksa.
Dewa tersenyum dengan wajah sombong seraya bersendekap dada bangga. "Iya dong, bukan Dewa namanya kalau otak gak cerdas."
"Eh iya, yang buat lagu kita itu gimana Jo?" tanya Andy pada Jody. Mendengar itu Jody langsung masam, dia tidak berbakat membuat lirik lagu. Otaknya terlintas satu orang tapi tadi saja ia mendapat tolakan.
"Enggak tau, kayaknya kita coba buat cover lagu aja deh. Kayak lagu-lagu Dewa 19, Padi, Slank juga oke dibuat cover." usul Jody.
"Boleh. Untuk lagu ciptaan sendiri kita pikirkan saja kapan-kapan. Sekarang kita pikirin tempat-tempat yang mau dibuat panggung dan pastinya harus ditempat yang ramai." ucap Yaksa.
"Kalau di kuburan boleh enggak?" tanya Andy dengan tampang polosnya.
Dewa segera menoyor kepala Andy, "Lo mau bercanda ya? Ngapain manggung di kuburan? Mau ngajak party setan?"
"Ya biar emak tau kalau anaknya itu sekarang jadi personil band." jawab Andy sedikit gelap. Keempatnya langsung menghela nafas.
"Pokoknya gimanapun caranya kita harus bisa ngalahin bandnya kakak kelas songong itu!" tampik Dewa.
"Bener, kalau bisa sih ngalahinnya diatas mereka." balas Jody.
"Berarti kita naik ke badan mereka dong?" celetuk Andy membuat keempatnya lagi-lagi menghela nafas dan menepuk jidat. "Lo diam dulu!" sentak Arjun, greget. Andy memasang wajah masamnya begitu diomelin.
"Kalau gitu kita harus nabung buat beli properti." kata Arjun.
"Boleh tuh, sehari dua ribu?" ucap Yaksa.
"Jangan dong! Uang jajanku saja lima ratus rupiah, dua ratus rupiah baru gue mau." timpal Dewa.
"Bagaimana?" tanya Yaksa kepada yang lain.
"Setuju, dua ratus rupiah ya?" kata Andy.
"Siap!"
"Gue dua ribu juga tidak keberatan." ucap Jody.
"Yaudah, untuk lo dua ribu karena lo kan paling kaya diantara kita." ujar Yaksa yang diangguki mereka.
"Benar, biar cepat ngumpulinnya." seru Dewa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masa Remaja Papa
Teen FictionNyatanya masa remaja Papanya lebih menyenangkan dibanding masa remaja dirinya Rayen anak satu-satunya dari Jody Mahardika dan sang Ibunda yang telah meninggalkannya saat ia usia 5 tahun. Saat itu Rayen tak sengaja menemukan buku novel milik Mamanya...
