Perhatikan tanggal, bulan dan tahun
15 November 1997
Jody Mahardika seorang anak tunggal dari keluarga Mahardika. Satu-satunya anak orang kaya di Boys Team, maka itu teman-temannya sering meminta Jody traktir. Ia juga merupakan pewaris keluarga Mahardika sebab ia cucu laki-laki satu-satunya di keluarga besar kakeknya. Maka itu banyak Om dan Tantenya berbondong-bondong melahirkan seorang anak laki-laki agar harta waris kakeknya tidak jatuh banyak pada Jody.
"Assalamualaikum," teriak Jody begitu sampai dirumah mewahnya. Tak lama seorang wanita yang terlihat masih cantik datang menghampirinya.
"Walaikumsalam, Anak Ibu sudah pulang," sambutnya dengan senyuman yang amat manis. Jody tersenyum manis dan menyalami punggung tangan Ibunya.
"Aku lapar Bu, mau makan." ucapnya dengan bibir mempout dengan gemas. Salma, Ibunya itu tersenyum dan mengusap rambut anaknya. "Ibu sudah masak, ganti baju dulu lalu makan bersama."
Jody mengangguk dan langsung pergi ke kamarnya dengan bersenandung kecil. Jody memang anak yang beruntung, dia lahir di keluarga kaya sekaligus harmonis. Itu adalah anugerah baginya, maka dari itu ia menjadi anak yang baik sebab keluarganya yang memberinya dampak positif.
Selesai makan ditemani Salma yang memang menunggu anaknya untuk makan bersama. Jody kembali ke kamar untuk mengerjakan tugas sekolah sekaligus membuat konsep tentang bandnya. Kedua orang tuanya belum tahu mengenai dirinya yang membuat band di sekolah. Bukan tanpa alasan, ia memang belum mau karena takut mereka tidak setuju mengenai dirinya yang suka musik.
Seharusnya Jody tak merahasiakan itu dari kedua orang tuanya tapi dia takut dengan tahta keluarganya. Walaupun mereka tidak membatasi apapun yang Jody lakukan dan sejauh ini tidak ada kendala yang membuat masa remajanya stres dengan kemauan mereka. Tapi Jody masih tetap untuk belum memberitahu kedua orang tuanya apalagi keluarga besar.
"Kayaknya kita harus bikin lagu untuk Boys Team. Tapi diantara kita siapa yang jago buat begituan?" monolog Jody dengan sebuah nota buku yang berisi coretan abstrak tentang konsepnya.
Jody tak pandai dalam membuat rangkaian kata menjadi sebuah nada lagu. Apa dia harus menyewa seseorang untuk membuatkan band mereka lagu. Bisa saja, tapi siapa. Dia tak mengenal penulis lagu.
Pusing memikirkan itu semua, Jody memilih merebahkan dirinya di kasur sampai matanya terpejam dan tertidur.
—
Seorang gadis bernyanyi dengan suara yang mengalun merdu dan sangat indah. Siapa saja yang mendengarnya maka mereka akan suka. Suaranya lembut apalagi wajahnya yang memang sangat cocok dengan suara itu. Apalagi gadis itu bernyanyi dengan petikan gitar yang semakin mengalun indah.
Hal itu tak luput dari perhatian Jody. Lelaki itu tak sengaja melewati ruang kelas tempat latihan anak-anak musik. Dia melihat bagaimana gadis itu bernyanyi. Tiba-tiba botol minuman yang berada di tangannya jatuh sehingga menimbulkan bunyi keras yang dapat mengalihkan perhatian gadis itu.
Jody langsung mengambil minumannya dan seorang gadis keluar dari kelas dengan wajah datar. Dia adalah Mike, gadis bermuka datar. Tatapannya yang dilayangkan biasa saja lalu ia pergi tanpa mengatakan apapun. Semua orang memang tahu jika dia adalah vokalis di geng Wonder Woman.
Namun Jody memegang lengannya sehingga menghentikan langkah Mike yang ingin pergi. "Kenapa?" tanyanya. Jody melepaskan cekalan tangannya dan memandang Mike. "Suara lo bagus," pujinya.
Raut wajah Mike nampak biasa aja mendengar pujian dari Jody. Lelaki itu heran, mengapa bisa ada manusia datar seperti Mike. Dia baru saja mendapat pujian, reaksinya hanya seperti itu. "Ada lagi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Masa Remaja Papa
Ficção AdolescenteNyatanya masa remaja Papanya lebih menyenangkan dibanding masa remaja dirinya Rayen anak satu-satunya dari Jody Mahardika dan sang Ibunda yang telah meninggalkannya saat ia usia 5 tahun. Saat itu Rayen tak sengaja menemukan buku novel milik Mamanya...
