12 Agustus 2023
Satu kata yang keluar dari mulut Kayla, "Wow." matanya berbinar kagum pada bangunan di depannya ini serta decakan mulut yang tak henti. "Rayen benar-benar anak orang kaya, pantes aja kakak kelas yang kemarin di toilet bilang kalau ngincar Rayen." monolognya masih enggan memencet bel yang ada di tembok sebelah pagar. Kayla masih betah menatap rumah yang ingin sekali ia punya saat dewasa nanti.
Setelah cukup puas memandangi rumah mewah tersebut, Kayla memencet bel rumah lalu tiba-tiba suara yang asing menyambutnya. "Halo, dengan siapa dan ada yang bisa kami bantu?" kata seorang pria dewasa yang entah dimana keberadaannya. Pastinya berada di dalam rumah Rayen.
"Halo pak, saya Kayla teman sekelasnya Rayen yang ingin belajar kelompok," jawab Kayla. "Oalah temennya ya, oke-oke sebentar neng saya bukakan pagar dulu."
Tak lama pagar dibuka oleh pria yang tadi berbicara dengannya. Kayla menyunggingkan senyum manisnya mencoba ramah, bapak itu juga ikut tersenyum. "Ayo neng masuk aja, bapak anter."
"Oh iya pak boleh," Kayla mengangguk dan mengikuti langkah bapak satpam itu. Lagipula ia takut kalau masuk ke rumah Rayen sendiri, dari luar saja terasa sangat mewah dan pasti didalam itu luas sekali. Benar saja, baru ia masuk ke rumahnya kini ruang tamu yang benar-benar luas bahkan kamarnya saja kalah.
"Kalau gue disandingkan sama Rayen jauh banget perbedaannya. Ini mah udah insecure duluan sebelum maju kalau suka sama Rayen. Pokoknya gue gak boleh pacaran sama Rayen. Nanti orang-orang banding-bandingin kita lagi, ngehina gue karena gak pantas sama Rayen terus lebih parahnya difitnah gue cuma porotin harta Rayen. Eh, tapi kok gue geer banget? Kayak paling iya aja disukai Rayen yang dinginnya kayak kulkas 3 pintu." celoteh Kayla dalam hatinya. Bahkan ia sudah melamun dihadapan Rayen yang kini menatapnya datar.
"Neng!"
"Eh, iya pak?" Kayla mengerjapkan mata begitu baru sadar akan imajinasinya tadi.
Bapak satpam itu tertawa kecil lalu menatap Rayen, "Yasudah den saya pamit berjaga kembali." Rayen mengangguk dan bapak tadi langsung pergi dari hadapan mereka.
"Yang lain belum datang?" tanya Kayla, merasa belum melihat kehadiran teman-temannya. Rayen menggeleng, "Lo kecepatan."
"Eh, emang iya?" Rayen tak menggubris, dia membalikkan badan dan pergi ke kamarnya untuk mengambil bahan-bahan kelompok. Merasa tidak ada langkah yang mengikutinya, Rayen membalikkan badan dan melihat Kayla sedang melihat-lihat sudut ruangan. "Gak mau ikut?" tanyanya. Kayla mengulum bibir sebelum mengangguk mengikuti Rayen.
Sepertinya Kayla tak bosan untuk kagum pada ruangan-ruangan rumah Rayen. Kini ia berada di kamar lelaki itu. Kamarnya tak seperti lelaki kebanyakan, karena kamar ini memang di desain dari pabriknya. Rayen tak mengobrak-abrik warna dinding kamarnya yang seperti dinding kerajaan. Kamar ini sangat mewah bahkan dua kali lipat lebih luas dibanding kamarnya. Mungkin kamar Rayen seukuran rumahnya, tapi rumahnya pun masih kurang untuk dijadikan kamar Rayen.
Rayen berdecak kesal melihat Kayla yang hanya bengong menatap kamarnya. "Bantuin gue!" instruksinya dengan dingin. Kayla tersenyum kikuk dan mengambil alih paper bag berisi bahan-bahan kerkomnya.
"Bawa ke bawah,"
"Bentar Ray!" Rayen menoleh melihat Kayla yang berdiri di depan aquarium ikan peliharaannya. Mata gadis itu berbinar, "woah, lucu-lucu banget warnanya. Ini ikan lo Ray?"
"Menurut lo?" tanya Rayen dingin. Kenapa Kayla bertanya dengan pertanyaan yang sudah tentu saja jawabannya tepat. Kalau ikan itu bukan miliknya kenapa ada aquarium di kamarnya. Basa-basi yang sungguh menyebalkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masa Remaja Papa
Teen FictionNyatanya masa remaja Papanya lebih menyenangkan dibanding masa remaja dirinya Rayen anak satu-satunya dari Jody Mahardika dan sang Ibunda yang telah meninggalkannya saat ia usia 5 tahun. Saat itu Rayen tak sengaja menemukan buku novel milik Mamanya...
