Tahun 2023
Tubuh yang menjulang tinggi itu tak sedikit mengundang perhatian murid yang lewat. Seorang lelaki tampan yang perlahan namanya naik untuk dikagumi. Berlomba-lomba menyatakan cinta lewat sepucuk surat di kolong mejanya atau bahkan lewat pesan pribadi. Sayangnya, semua itu mendapat penolakan mentah-mentah dari Rayen.
Baginya cinta dengan pesan rahasia sangat buang-buang waktu untuk penasaran siapa orangnya. Rayen hanya menyukai orang yang selalu ada tepat di depan matanya. Seperti sekarang, dia berjalan tidak seorang diri melainkan di samping tubuh besarnya ada tubuh gadis kecil yang tingginya 160 cm. Rayen yang tingginya 180 cm, tentu gadis itu kalah telak di sampingnya.
"Mereka parah ya ninggalin kita," celoteh Kayla merujuk pada Aldi, Nathan, dan Baskara.
Rayen hanya diam saja, dia justru berterima kasih pada mereka karena bisa berdua dengan Kayla. Kayla menoleh menatap Rayen yang tak meresponnya. Dia mendengus lalu mengomel kembali. "Jalannya bisa lambat gak sih? Gue capek nyamain mulu, kaki gue sama lo beda, ya!"
Rayen tersenyum kecil lalu menghentikan langkahnya hingga Kayla ikut berhenti. Matanya memandang netra hitam Rayen yang teduh dan lembut. Rayen berdiri di hadapannya lalu menunduk sedikit hingga wajahnya sejajar dengan wajah Kayla.
Refleks tubuh Kayla mundur walau wajahnya tidak terlalu dekat tapi Kayla merasa malu dan was-was. "Ke-kenapa?"
"Makanya jangan jadi kecil." ejek Rayen kembali menegakkan badannya sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Rayen kembali berjalan dan Kayla langsung mengejarnya.
"Lo ngatain gue pendek?!" sentak Kayla merasa tak terima.
"Gue gak bilang." jawab Rayen, singkat.
"Tadi bilang gue kecil!" ujar Kayla.
Rayen dengan keberanian penuh dan ajaran dari Baskara beberapa hari yang lalu. Dia kembali menghentikan langkahnya dan mengusap kepala Kayla dengan lembut. "Kecil bukan pendek, lo imut." pujinya langsung berlari kecil meninggalkan Kayla. Dia juga ikut jantungan dan panas dingin karena salah tingkah.
Tubuh Kayla menegang seketika dan pipinya muncul semburat merah bak tomat. Rayen belajar dari mana hal seperti itu. Ia merasa kalau itu bukan Rayen. Sepertinya anak itu kemasukan penunggu buah ceri di parkiran sekolah.
....
Tubuh besarnya tiba-tiba ada di ruangan divisi karyawan. Keberadaannya mengundang tanda tanya para karyawan disana. Walau tidak heran karena Jody akan selalu pergi ke salah satu divisi yang perlu Jody tanyakan mengenai tugas. Namun, tubuh itu tak kunjung mondar-mandir melihat kerjaan para karyawan itu. Dia mematung di sudut pintu bagai patung.
"Si bos kenapa diam mulu disitu?" tanya seorang karyawan dekat dengan meja Nadhira saat ini.
"Gak mungkin merhatiin kita segabut itu 'kan?" tanya di sebelahnya lagi.
Nadhira turut melihat Jody yang seperti orang bodoh berdiri di sudut pintu. Mata keduanya bertemu sebelum lelaki itu membuang muka dan pergi dari sana.
"Lah, malah pergi." ujarnya.
"Mungkin dia lagi cari angin kali," sahut Nadhira.
Jody segera kembali ke ruangannya usai tatapannya dengan Nadhira bertemu. Pasalnya bukan tanpa alasan ia pergi kesana, melainkan disuruh oleh sekretarisnya. Seorang bos disuruh oleh bawahannya. Jody menatap tajam Hendrian yang sedang menelepon sang istri.
"Udah dulu ya sayang, ada bos nih lagi kebingungan deketin cewek. Bye sayang!" Hendrian memutuskan panggilan setelah menyindirnya secara terang-terangan. Senyuman menyebalkan menyapa Jody. "Gimana bos, berhasil?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Masa Remaja Papa
Fiksi RemajaNyatanya masa remaja Papanya lebih menyenangkan dibanding masa remaja dirinya Rayen anak satu-satunya dari Jody Mahardika dan sang Ibunda yang telah meninggalkannya saat ia usia 5 tahun. Saat itu Rayen tak sengaja menemukan buku novel milik Mamanya...
