Rayen memasuki rumah yang terbilang mewah. Begitu masuk ia sudah disambut oleh sang Papa. Dahinya mengerut samar, namun ia menghampiri pria tersebut.
"Hai Boy," sapa Jody begitu sosok Rayen tiba dihadapannya.
"Papa tumben ada dirumah sekarang." Dia bertanya begitu sebab tahu kalau Jody berada di rumah itu malam jadi sangat aneh melihat papanya ada dirumah jam segini.
"Papa ada perlu sebentar, nanti bakal balik lagi. Sini duduk." titahnya sembari menepuk-nepuk sofa empuk, menyuruh Rayen untuk duduk disebelahnya. Anak itu pun menurut.
"Nanti malam kamu temenin Papa ya ke reunian." ajaknya membuat Rayen langsung menggeleng keras. "Kenapa?"
"Gak mau. Aku mau dirumah aja, banyak tugas."
"Masa sih? Kan baru pertama hari sekolah," Rayen hanya mengangguk tanpa memberikan penjelasan lebih. Jody menghela nafas kasar, ditatap anaknya yang wajahnya berkali-kali lipat mirip sekali dengan wajahnya dimasa muda.
"Disekolah gimana?" tanya Jody mengalihkan topik.
"Biasa aja," jawab Rayen. Wajahnya saja yang sama tetapi sifatnya jauh.
"Tapi kamu sudah punya teman?"
Rayen terdiam sejenak, ingatannya jatuh pada ketiga temannya yang mengajak ia makan bersama di kantin. Perlahan tapi pasti Rayen mengangguk. Seketika senyum Jody terbit. "Papa bilang juga apa, kamu pasti bakal dapat teman. Gak selamanya masa-masa di sekolah itu buruk."
Papa benar, Rayen menganggukkan perkataannya dalam hati. Tetapi ia juga tidak bisa menjamin baik kedepannya, bisa saja teman-temannya itu ada yang mengkhianatinya atau bahkan nanti menjauhinya. Ia tidak mau hal itu terjadi.
"Kalau perempuan?" tanya Jody dengan wajah menggoda. Namun Rayen tak mengerti, ia justru mengernyitkan dahi keheranan.
"Perempuan?"
Jody mengangguk, "Ada cinta pertama di sekolah gak? Biasanya hari pertama selalu aja mata kita akan tertarik akan satu perempuan."
"Aku enggak tuh, Papa aja kali itu mah." Skak. Perkataan Rayen membuat Jody menghela nafas kasar dan hanya bisa menarik kesimpulan. Jika anaknya itu bukan seperti dirinya dimasa muda.
"Papa gak menjamin kedepannya kamu bakal jawab gini sih. Suatu saat nanti juga kamu akan membahas perempuan ke Papa. Kalau kamu jatuh cinta sama seseorang datangi sang ahlinya ya?"
"Siapa?"
"Papa lah. Gini-gini Papa ahli akan cinta dan setia, buktinya cinta papa ke Mama gak pernah hilang."
Diam-diam Rayen tersenyum tipis mendengar penuturan Jody yang membuat hatinya hangat. Ia jadi merindukan Mamanya. Andai aja Mamanya masih ada dan ikut andil mengobrol bersama mereka saat ini.
"Udah ah Papa mau ke kantor lagi. Papa sudah siapkan baju untukmu. Jam 7 malam kamu harus sudah siap, Papa langsung jemput kamu." ujar Jody langsung pergi tanpa mendengar suara protes dari Rayen. Anak itu menghela nafas kasar dan segera menaiki tangga menuju kamarnya.
Ditatapnya baju dengan setelan anak kantor. Yang benar saja, menghadiri acara reuni tetapi pakaiannya formal seperti ini. Rayen melupakan satu fakta kalau Jody memang selalu memakai pakaian formal, bahkan lemarinya penuh dengan setelan jas seperti ini.
....
Acara reunian apa ini yang diadakan di hotel bintang lima. Rayen tak habis pikir sekaligus bertanya-tanya, siapa yang melakukan anggaran dana untuk reunian satu angkatan saja. Rayen dan Jody keluar dari mobil dengan gagahnya. Anak dan Bapak itu dapat mengalihkan perhatian banyak orang. Buktinya kini semua mata tertuju pada mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masa Remaja Papa
Novela JuvenilNyatanya masa remaja Papanya lebih menyenangkan dibanding masa remaja dirinya Rayen anak satu-satunya dari Jody Mahardika dan sang Ibunda yang telah meninggalkannya saat ia usia 5 tahun. Saat itu Rayen tak sengaja menemukan buku novel milik Mamanya...
