3. Punya teman

107 9 0
                                        

Suasana kelas nampak ramai sebab pembagian kelompok pelajaran sejarah. Guru tidak masuk, mereka memilih kelompoknya sendiri-sendiri. Rayen menghela nafas pelan begitu mendengar keributan kelas. Bukan permasalahan kelompok, tetapi obrolan mereka yang mengundang tawa satu sama lain.

Rayen satu kelompok dengan ketiga temannya. Beruntung kelompok sejarah beranggota 4 orang. Kini para anggota mulai berdiskusi. Rayen menyimak dengan baik walau belum mengerti tugas apa yang akan dikerjakan. Teman-temannya pun dapat mengerti keadaannya. Mereka akan membantu Rayen sebaik mungkin.

Rayen yang kebetulan duduk di kursi menghadap keluar kelas secara tidak sengaja matanya menangkap seorang gadis yang duduk dimeja paling belakang dan kepalanya menghadap jendela. Kebetulan saat itu terlihat sunrise yang dapat menyilaukan wajah gadis itu. Terlihat sangat cantik.

Ia tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara Aldi memanggil. "Nanti ngerjain di rumah lo ya, mau gak?" tanya Aldi.

Rayen sempat terdiam karena terkejut juga. Sebab baru pertama kali rumahnya kedatangan teman. Jika papanya melihat mungkin ia akan senang. Pada akhirnya ia mengangguk. Lalu seorang guru sejarah masuk kedalam kelas. 

"Bagaimana, sudah dapat kelompok?" tanya Bu Dini, selaku guru sejarah.

"Sudah Bu!" jawab mereka serempak.

"Saya belum Bu," Kini mata mereka tertuju pada seorang gadis yang bertubuh mungil dan berwajah datar.

"Memangnya tidak ada yang mengajak dia?!" tanyanya dengan tatapan galak.

"Sudah pas Bu, berempat-berempat." jawab gadis bernama Syahdira.

"Berarti ada kelompok yang harus berlima." ujar Bu Dini. Kini matanya menatap seluruh kelas yang murid-muridnya sudah duduk berkelompok.

"Kelompok Aldi. Tidak ada cewek di kelompoknya, tidak apa-apa kan Aldi?"

"Gak apa-apa Bu, seneng banget malah karena nambah anggota." tutur Aldi. Dia mengalihkan pandangannya ke perempuan itu dan tersenyum.

"Yaudah Kayla, sekarang kamu duduk bersama mereka." Gadis bernama Kayla itu berjalan kearah mereka tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Bu Dini dan ia duduk disamping Rayen yang kebetulan spacenya kosong.

"Kalian lanjutkan berdiskusinya, hasilnya dikumpulkan Minggu depan."

"Baik Bu!"

Setelah kepergian Bu Dini dari kelas. Kelompok kembali berdiskusi termasuk kelompok Rayen. Karena kelompok mereka bertambah otomatis pembagian tugas pun dikurang dan dibagi ke Kayla.

"Kay, lo jago gambar kan ya? Nanti artikelnya kita kasih gambar-gambar dikit biar kesannya bagus dan menarik." kata Nathan yang diangguki Kayla.

Saat Rayen menoleh kesamping matanya tak sengaja bertemu dengan mata hitam legam milik Kayla. Hanya selang dua detik sebelum Rayen kembali mengalihkan pandangannya.

....

Rayen menatap bingung kearah seorang perempuan yang tiba-tiba duduk dihadapannya. Gadis itu membuka burger yang dibelinya lalu melahap makanan tersebut. Rayen langsung mengubah wajahnya menjadi datar dan tidak memperdulikan gadis itu.

"Gue terpaksa duduk disini karena tempat udah penuh." ujarnya menjelaskan mengapa ia duduk didepan Rayen secara tiba-tiba. Lelaki itu hanya diam saja tak menjawab perkataannya. Dia juga hanya mengiyakan dalam hatinya.

"Kerja kelompok beneran hari Minggu? Terus kita bakal bikin grup gak buat info-info lebih lanjut?" tanya gadis itu. Dia Kayla, teman sekelasnya yang satu kelompok dengan Rayen.

"Tanya aja ke Aldi," jawab Rayen.

Kayla hanya mengangguk. Suasana kembali hening diantara mereka. Hanya ada suara ricuh samar-samar dari sekitarnya sebab kantin hari ini nampak ramai. Kemudian teman-teman Rayen datang dengan membawa makanan.

Masa Remaja PapaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang