Tahun 1997
Senyuman menghiasi wajah Fina. Tangannya menarik sepucuk surat yang diberikan Jody padanya tadi. Sementara lelaki itu sedang bersama teman-temannya diluar kelas.
"Senyum mulu lo dari tadi, sawan lo?" cibir Rika yang jengah melihat Fina terus menebar senyuman.
"Duh, ini coklat dari Jody sayang banget kalau gue makan." ujar Fina dengan mata berbinar menatap cokelat pemberian Jody.
"Terus mau lo apain? Lagian kalau lo makan juga gak apa-apa kali, Jody masih jadi milik lo!" ujar Rika.
Fina tersadar, benar juga. Jody itu miliknya, otomatis jika ia meminta hal apapun dari cowok itu pasti akan dikasih. Jangankan cokelat mungkin barang yang bisa jadi kenangan pun Fina bisa dapatkan dari Jody.
"Bener juga, yaudah gue makan aja nanti pas istirahat."
Helma hanya menyimak percakapan Fina dan Rika. Ada perasaan cemburu dihatinya. Tetapi ia bisa apa. Melihat Fina senang saja ia ikut senang, mungkin memang seperti itu takdirnya.
Baru Helma merasa putus asa, tiba-tiba Toni teman sekelasnya memanggil. "Hel, Andy nyariin lo."
Fina dan Rika memandang Helma penuh tanda tanya. Sedangkan Helma sendiri heran namun mengingat surat yang ia beri pada Jody membuatnya tersenyum tipis. "Oh iya," Helma pun berpamitan pada keduanya untuk pergi menemui Andy.
Melihat bagaimana Helma tersenyum dan pergi dengan berjalan lucu membuat Rika dan Fina saling pandang dan tersenyum penuh arti.
"Helma kita udah besar,"
—
Anggota Boys Team memilih berdiskusi diluar kelas. Jody pun memilih diluar saja karena merasa gugup bila bertemu Fina. Semenjak mereka konser dadakan di lapangan kemarin, banyak para siswi menggoda Boys Team. Mereka bahkan baru memperhatikan keberadaan kelimanya yang jika dilihat-lihat sangat tampan. Terlebih Jody yang membuat perempuan disekolah tiba-tiba menaruh rasa padanya.
"Gilaa, semenjak kita tampil kemarin banyak yang suka sama kita." ujar Dewa. Raut wajahnya sangat senang. Bahkan ia tak hentinya membalas godaan mereka. Memang buaya.
"Belum lomba aja kita udah terkenal," celetuk Andy seraya menyugar rambutnya menambah kesan seksi dan tampan agar para perempuan semakin terpesona.
"Ekhem, jadi gak nih obrolin band kita?" cetus Yaksa memandang sinis Andy, Arjuna, dan Dewa yang tak henti menebar pesona.
Arjuna menyengir, "ayo dah omongin."
Yaksa beralih menatap Jody, "gimana Jo?"
"Jadi gue udah nemuin orang yang bisa ajarin kita bikin lagu," ungkap Jody.
"Beneran? Siapa? Dari produser terkenal ya?" tanya Arjuna bertubi.
"Bukan, temen sekelas kita." Perkataan Jody membuat keempatnya kompak menunjukkan reaksi terkejutnya.
"Hah?!"
"Siapa?" tanya Dewa penasaran.
"Helma," jawab Jody singkat.
"Helma? Kok bisa?" Keempatnya saling memandang heran sekaligus takjub karena mereka kompak. Mengesampingkan itu, kembali pada raut wajah yang keheranan sekaligus menjadi tanda tanya bagi mereka.
"Iya, dia katanya mau ajarin gue bikin lagu." imbuh Jody, jujur. Namun respon mereka saling pandang dan tersenyum penuh arti.
"Ekhem, yaudah panggilin dia coba," sahut Andy.
"Nah iya, biar kita diskusi juga sama dia." timpal Yaksa.
Andy memanggil temen sekelasnya yang tiba-tiba lewat dihadapan mereka. Dia Toni, anak yang lumayan ambis tapi sayang agak culun. Andy menyuruh dia untuk memanggil Helma yang pasti berada di kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masa Remaja Papa
Novela JuvenilNyatanya masa remaja Papanya lebih menyenangkan dibanding masa remaja dirinya Rayen anak satu-satunya dari Jody Mahardika dan sang Ibunda yang telah meninggalkannya saat ia usia 5 tahun. Saat itu Rayen tak sengaja menemukan buku novel milik Mamanya...
