14 Agustus 2023
Bagaimana rasanya begitu tahu cinta pertama Papanya itu bukan Mamanya? Rayen merasakan ada kekesalan dan kecewa pada sang Papa. Ia baru saja membaca novel kisah orang tuanya dimasa remaja. Memang sangat seru tetapi di bagian ini Rayen kesal sehingga ia bersikap cuek pada Papanya.
Pagi ini seperti biasa Papa dan anak akan duduk di meja yang sama. Begitu pelayan sudah menyiapkan sarapan untuk keduanya. Rayen sudah mulai menjalankan aksinya. Dia ingin mendiami Papanya. Menyadari akan sikap anaknya yang pendiam-ralat memang pendiam hanya saja auranya berbeda seperti biasa.
"Kamu kenapa?"
"Kenapa apanya?" tanya balik Rayen yang terkesan dingin.
"Lebih diem gitu,"
"Aku emang gini." elak Rayen acuh tak acuh. Ia melahap rotinya dengan wajah datar sampai Jody meringis.
"Enggak. Papa tau kamu emang dingin dan pendiam tapi insting seorang Papa itu benar." ujar Jody sembari memicingkan mata.
"Insting apa?"
"Kamu marah ya?" sela Jody.
Rayen tak menjawab namun dengan diamnya Rayen, Jody jadi mengerti. "Marah kenapa? Marah sama Papa?"
Rayen menggeleng, ia segera menyelesaikan sarapannya setelah itu mengambil ranselnya. "Aku berangkat," pamit Rayen seraya mencium punggung tangan Jody.
"Eh kamu belum jawab. Kamu marah sama Papa?" tanya Jody, kesekian.
Rayen mengendikkan bahu. "Papa cari aja kesalahan Papa di tahun 97." ujarnya berlalu pergi. Jody mengerutkan keningnya bertambah bingung. Apa maksud anaknya, ia harus pergi ke tahun 1997 begitu? Dimana masa remaja SMA-nya dulu.
"Kok jadi 97? Tuh anak tau dari mana masa itu? Gue ngapain emang di tahun itu, ya?" monolognya semakin bingung begitu ia memikirkannya. Ia sudah tua, sudah bingung. Kenapa anaknya malah menyuruh ia mengingat masa remajanya dulu.
....
"Kantin gak nih?" ajak Baskara. Bel sudah berbunyi sejak tiga menit yang lalu. Mereka terjebak dikelas karena harus mencatat terlebih dahulu.
"Kuy lah!" sahut Aldi dan Nathan. Keempatnya bangkit dari kursi dan hendak pergi keluar kelas. Aldi melihat Kayla yang tengah memainkan ponselnya dipojok. Aldi lantas menghampiri Kayla.
"Kay, kantin gak?" tanya Aldi bermaksud mengajak. Kayla menatap Aldi lalu menggeleng. "Duluan aja."
"Lo emang mau nyusul?" tanya Aldi, lagi. Sedikit khawatir sebab wajah Kayla yang nampak pucat namun ia tak ingin berkata langsung.
"Gak tau sih, ya, pokoknya lo kesana aja. Temen-temen lo pada nunggu tuh!" cetus Kayla seraya melihat ketiganya yang ada didepan.
Sementara didepan sana melihat Aldi dan Kayla yang saling mengobrol. Baskara menyeletuk, "Tuh kan bener kata gue! Aldi kayaknya demen deh sama Kayla."
"Emang kapan lo ngomong gitu?!" tukas Nathan, mengkerut samar.
Baskara menyengir, "hehe, kapan ya?"
"Aldi tuh cuma ngajak Kayla kantin bareng, lagian Kayla juga udah jadi temen kita." ujar Nathan.
"Iya sih,"
"Samperin?" tanya Rayen membuka suara.
"Gak usah, bentar lagi tuh." sahut Nathan.
Benar saja. Aldi menghampiri mereka dan langsung mengajak keluar kelas. Rayen menatap Aldi dengan bertanya-tanya, "Kayla gak mau ke kantin?" tanyanya setelah keraguan tadi menguasainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masa Remaja Papa
Novela JuvenilNyatanya masa remaja Papanya lebih menyenangkan dibanding masa remaja dirinya Rayen anak satu-satunya dari Jody Mahardika dan sang Ibunda yang telah meninggalkannya saat ia usia 5 tahun. Saat itu Rayen tak sengaja menemukan buku novel milik Mamanya...
