pt. 14 - suamiku

322 7 0
                                        

Tak terasa, mobil Adnan dan Nasya sudah tepat berada di depan rumah kak Yusuf. Adnan yang menoleh ke sebelah kiri dan melihat Nasya tertidur pun langsung membangunkan nya.

"Khadijah, bangun. Sudah sampai" ucap Adnan sembari mengelus kepala sang istri.

Nasya masih kebingungan karena baru bangun tidur. Ia pun melihat sekeliling baru mengangguk dan tersenyum ke Adnan.

Mereka berdua keluar dari mobil, dan melangkah menuju rumah kak Yusuf. Ternyata semua anggota keluarga sudah berkumpul. Ummi dan abi menyambut kedatangan Adnan dan Nasya.

****

Acara kumpul keluarga pun berjalan dengan lancar. Akhirnya, Adnan dan Nasya pun pamit untuk pulang. Karena sudah pukul 5 sore.

Mereka berdua benar benar melupakan masalah yang sebelumnya mereka hadapi. Pada nyatanya Nasya ingat masalah itu namun rasanya tak enak jika di bahas terus menerus dan membuat Adnan bosan.

Kini Nasya mulai percaya pada suaminya begitu pula Adnan yang mempercayai Nasya sepenuh hati nya.

Di jalan, suasana mobil Adnan hening tak ada gerutukan. Tiba tiba Nasya berteriak yang membuat Adnan me rem mendadak karena terkejut.

Ternyata Nasya melihat kucing yang kelihatan lemah dan tak berdaya.

"Kak, boleh ngga aku bawa kucing itu ke rumah sakit hewan?" Tanya Nasya menunjuk kucing yang berada di trotoar jalan.

"Boleh, hati hati" jawab Adnan menoleh dan tersenyum.

Mendengar jawaban suaminya, Nasya langsung berlari mendekati kucing yang tak berdaya.

Menggendong dan mengelus elus kucing tersebut. Nasya kembali menghampiri mobil Adnan.

Setelah membuka kan pintu untuk istrinya, Adnan tak berhenti tersenyum ke arah Nasya yang sedang mengelus elus kucing tadi.

Adnan tak berani memuji sang istri, ia hanya berani memandangi dan tersenyum kepada istrinya, Nasya.

Sudah setengah jam mereka berdua berada di dalam mobil karena macet. Nasya masih sibuk memaini kucing yang ada di pangkuannya.

"Kucing kamu kok lucu sekalii" ucap Nasya mengelus elus kepala kucing itu gemas.

"Lucuan yang mangku" ucap Adnan yang tetap melihat ke arah jalanan depan.

Nasya tak bergunjing atau pun ber komentar. Ia hanya tertawa kecil sembari mengelus elus kucing lucu berwarna putih.

"Kak Adnan, bisa mampir rumah makan dulu engga? Aku laper lagi" tanya Nasya menoleh ke arah Adnan.

"Ya" jawabnya singkat.

"Mau makan apa?" Tanya balik Adnan.

"Terserah" jawab Nasya yang setelah nya akan menguji kesabaran Adnan.

"Nasi padang? Baso? Nasi campur? Mie ayam? Steak? Ayam geprek? Ayam bakar? Bebek goreng? Sate ayam? Soto iga? Ramen?" Tanya Adnan tak ber belit belit.

"Gamau" jawab Nasya cemberut.

"Mau nya apa?" Tanya Adnan singkat lagi.

"Terserah" jawabnya kembali.

"Yaudah kita makan di rumah aja." Geram Adnan.

"Ihh kak Adnan.. mau makan di rumah makan aja." Jawab Nasya menggigit bibir bawah.

Adnan yang melihat Nasya hampir melukai dirinya sendiri hanya karena menahan tangis, langsung mengalihkan topik sembari menggenggam tangan Nasya.

Itu adalah kebiasan Nasya, ketika ia menahan tangis yang akan ia lakukan hanya melukai dirinya sendiri tanpa sadar.

"Khadijahku, apa kamu gabakal melanjutkan S3? Bukannya itu impian kamu?" Tanya Adnan mengalihkan topik.

"Mau, tapi kan aku istri kakak." Jawab Nasya setengah setengah.

"Apa hubungannya qalbi?" Pertanyaan yang satu ini mampu membuat Nasya salah tingkah.

Arti dari kata qalbi itu adalah hatiku. Nasya tak mampu di buat Adnan untuk diam. Ia senyum senyum sendiri, salah tingkah.

Walaupun istrinya sudah melayang layang jauh di atas langit. Adnan tetaplah Adnan yang tak bisa ber kutik. Bahkan awalnya ia tak menyadari bahwa Nasya sedang salting di buatnya. Dasar tidak peka :(

Waduh gimana ya wir
Kata gue teh
MaaSyaAllah Adnan kesel aku mas
Ndak peka 😔😭
Yaudah segini dulu yaa.
.
.
Assalamualaikum wr. Wb

gus AdnanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang