Scarlett memang belum memiliki keinginan untuk menikah, tapi jika pria seperti Harrison Luna mengajaknya berkencan dia sialan tidak akan mungkin menolak. Rasanya bagaikan mimpi saat atasannya itu mendatangi Scarlett di coffeshop setelah siaran dan mulai berbasa-basi. Meskipun Scarlett harus menunggu lama untuk itu, tapi dia tetap merasa senang karena pada akhirnya Harrison Luna mengajaknya makan malam bersama di salah satu restoran berbintang di San Francisco.
Harrison begitu santun, cara bicaranya lembut tapi tegas, dia memiliki senyum yang indah dan ramah, senyuman yang menyentuh mata saat dia menyampaikan niat baiknya yang ingin mengenal Scarlett lebih jauh.
"Jadi, aku akan menjemputmu pada pukul delapan, kau tidak keberatan?" tanya lelaki bersurai keemasan itu.
Scarlett memgangguk setuju, "Ide bagus, Mr Luna"
"Harrison saja, Scarlett" ralatnya, "Di luar urusan pekerjaan kita berdua hanyalah Harrison dan Scarlett"
"Y-ya, baiklah" jawab Scarlett, merasa gugup.
"Aku permisi, aku harus pergi untuk menghadiri rapat, sampai ketemu nanti malam" lelaki itu mengambil tangan Scarlett dari atas meja lalu mengecup punggung tangannya dengan sangat manis. Scarlett tersenyum malu dan menjadi salah tingkah, dia merasa seperti Cinderella yang sudah menemukan pangeran beserta sepatu kacanya.
Setelah Harrison meninggalkan coffeshop Scarlett meloncat kegirangan di tempat duduknya. Beruntung pada jam segini cofeeshop sepi, jadi yang menyaksikan kekonyolannya hanyalah barista yang tidak lagi heran melihat tingkah Scarlett yang selalu aneh setiap kali wanita itu semangat akan sesuatu.
Oh, jika saja Becca masih hidup Scarlett pasti akan langsung menghubungi sahabatnya dan menyampaikan bahwa bosnya yang tampan mengajaknya berkencan!
Mengingat Becca, pikiran Scarlett lantas jatuh kepada Daisy. Dia terlalu antusias dengan ajakan kencan Harrison Luna sehingga dia lupa kalau setiap malam selain minggu malam, adalah jadwalnya mengasuh Daisy. Oh, bagaimana caranya agar Scarlett dapat pergi berkencan malam ini? Membawa Daisy jelas bukan ide yang bagus mengingat ini adalah pertamanya bersama Harrison, meninggalkan gadis kecil itu bersama Xavier juga dirasa tidak adil, tampaknya satu-satunya cara adalah Daisy harus meminta bantuan Kimmy, remaja di seberang rumah yang dulu sering Danny dan Becca gunakan jasanya untuk menjaga Daisy apabila mereka harus meninggalkan bayinya di rumah.
***
Xavier menyesal pernah meragukan kemampuan Scarlett dalam mengasuh Daisy, karena pada kenyataannya wanita itu dapat melalukannya dengan sangat baik. Dari seorang wanita karier Scarlett belajar dengan cepat menjadi seorang ibu, wanita itu terus berusaha memberikan segenap perhatian dan kasih sayang yang tak terbatas kepada gadis kecil yang sama-sama mereka asuh.
Melihat usaha keras Scarlett membuat Xavier juga berusaha untuk tidak mengacau atau membuat wanita itu merasa kesal lagi. Dia berusaha hidup dengan rapi, tidak pulang larut, dan yang paling penting tidak membawa teman wanita ke rumah! Keluh kesah yang Scarlett ungkapkan membuatnya merasa tertampar menyadari kalau selama ini dia tidak memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup kepada Daisy. Dia mengurus gadis kecil itu dengan setengah hati dan masih memikirkan kesenangannya sendiri sehingga Scarlett sama sekali tidak merasa terbantu oleh kehadirannya di sini. Wanita itu justru merasa terbebani, sekarang Xavier harus rela menerima kenyataan bahwa hidupnya tidak lagi sama sejak Daisy menjadi tanggung jawabnya.
"Xavier, aku punya acara malam ini"
Sesosok wanita cantik dengan gaun berwarna burgundy yang baru saja keluar dari kamar membuat Xavier terpukau. Scarlett Silverstone tampak sangat elegan dan mengagumkan di balik gaunnya. Rambut brunettnya yang panjang wanita itu tata dalam bentuk messy bun, sehingga memamerkan lehernya yang panjang dan juga pundaknya yang seksi dengan tulang selangka yang menonjol.
Sialan. Umpat Xavier di dalam hati. Scarlett memang selalu punya cara untuk merusak akal sehatnya.
"Xavier...halo? Xavier!" Xavier tersentak ketika wanita itu berteriak di depan wajahnya. Tanpa Xavier sadari dirinya tenggelam di dalam lamunan sambil memandangi keindahan yang tersaji di hadapannya. Keindahan yang tak dapat dia sentuh apalagi miliki.
"Kau keluar malam ini?" tanya Xavier.
"Yeah, aku punya janji kencan" wanita itu tampak sangat riang. Sementara Xavier yang mendengar kata kencan mulai merasa kesal tanpa alasan yang pasti. "Bagaimana penampilanku?" tanya Scarlett sembari berputar di hadapannya.
Xavier bangkit dari sofa dan memperhatikannya dengan teliti. Scarlett terlihat mengangumkan, selalu seperti itu, tapi Xavier tidak akan mengatakannya sementara Scarlett berdandan untuk pria lain "Jelek" kata Xavier, meledek.
Scarlett berdecak sebal, "Oh, aku salah karena bertanya kepadamu, dasar penghujat!"
Xavier mendekat padanya. "Bagaimana dengan Daisy? Jangan katakan kau lupa kalau kau harus menjaganya malam ini"
"Jangan khawatir aku telah meminta bantuan Kimmy"
"Kimmy?"
Bel berbunyi sebelum Scarlett sempat menjawab pertanyaan Xavier. Gadis itu segera menuju ke pintu, Xavier membuntutinya. Di depan pintu sudah berdiri gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Kimmy, remaja yang tinggal di seberang rumah mereka dan biasa mengasuh Daisy apabila Danny dna Becca pergi.
Yah, mau tidak mau Xavier harus membiarkan Scarlett pergi. Dia tidak lagi punya alasan untuk menggagalkan kencan wanita itu.
Tak beberapa lama setelah Kimmy datang, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah keluarga Emerson. Scarlett segera keluar dari rumah dengan senyum yang lebar, sedangkan Xavier dengan yang diam-diam merasa cemburu mengintip dari jendela. Dadanya terasa terbakar saat dia melihat seorang pria tinggi berambut pirang keluar dari mobil tersebut. Xavier tidak mengatakan lelaki itu lebih baik daripada dirinya, tapi dia kenal Scarlett dan dia tahu kalau pria itu adalah seratus persen tipenya sehingga mau tidak mau Xavier harus mengakui kekalahannya.
Tapi sialan, kekalahan atas apa? Mereka bukan sepasang kekasih. Mereka hanya pernah berbagi kehangatan satu malam. Itu saja.
Daisy berjalan dengan tertatih-tatih, kabur dari Kimmy. Dia menghampiri Xavier yang masih berdiri di dekat jendela dan ikut mengintip apa yang pamannya lihat di luar rumah. "Bagaimana menurutmu Daisy, apakah dia tampan?"
Daisy mendongak untuk menatapnya kemudian tanpa Xavier duga gadis kecil itu menganggukkan kepala. Wajah Xavier menjadi semakin ketat, dia menutup tirai jendela dengan kasar begitu mobil mewah itu meninggalkan pekarangan rumah. "Kalian para gadis memang punya selera yang payah!" cetusnya.
- TBC -
Hai guys, dapatkan potongan harga pada setiap pembelian semua karyaku di KaryaKarsa dengan menggunakan kode voucher : DISKONJAN
jumlah voucher terbatas jadi buruan klaim sebelum kehabisan!!
Jangan lupa untuk vote dan comment, perhatian dan dukungan sekecil apa pun dari pembaca sangat berarti untuk penulis dalam berkarya!
KAMU SEDANG MEMBACA
The Accidental Parents (Tamat)
RomanceWarning : Adult and explicit sensual content! Selain di ranjang, Scarlett dan Xavier bagaikan air dan minyak, mereka sangat berbeda dalam berbagai hal dan tidak dapat dipersatukan. Mereka saling membenci tanpa alasan yang jelas dan sering berdebat s...
