Wildan seorang yang anti sosial atau lebih halusnya sulit bersosialisasi, tiba-tiba bertemu dengan Nina, seorang gadis ceria ekstrovert.
Tak bisa menghindar, Wildan lambat laun terbiasa dengan kehadiran Nina dan segala ocehannya.
Kebiasaan itu mem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nina memejamkan matanya, berusaha tidur walau nyatanya ia tak juga tertidur walau sudah berbaring setengah jam.
Jantung Nina masih berdebar, padahal ini bukan pertama kalinya ia menjalin hubungan, bukan pertama kalinya ada laki-laki yang menyatakan perasaan dan bukan pertama kali Nina mengatakan perasaannya pada laki-laki. Tapi pengalaman Nina di masa lalu seolah tak berguna sekarang, Wildan membuatnya terus berdebar.
Entah apa yang terjadi besok pagi, Nina saja masih berusaha tidur.
Nyebelin
***novurieen***
Marlan menutup jendela kamar, menaruh ponselnya yang baru saja ia gunakan untuk membalas pesan dari Nina. Lalu ia duduk di atas ranjangnya, menunduk menatap kaki telanjangnya.
"Nyesel sekarang juga gak ada gunanya Lan" gumam Marlan
"Kenal dia lebih dulu gak menjamin lu menang. Lu harusnya gak diem aja bertahun-tahun. Bodoh"
***novurieen***
Wildan belum sempat menekan bel rumah Nina namun gadis itu lebih dulu membuka pintu. Mata Nina sangat sayu, sepertinya ia tidak mendapatkan tidur yang nyenyak semalam.
"Masih ngantuk?" tanya Wildan
Kepala Nina mengangguk kemudian mendangak menatap Wildan "Udah coba gua akalin tapi masih ngantuk"
"Mau bolos?"
Bukannya mendapat jawaban, Wildan justru mendapat pukulan pelan di lengannya.
"Jangan bandel! Ayo berangkat" Nina keluar dari rumah kemudian menutup pintu, mereka berdua berjalan menuju mobil Wildan yang sudah ada di depan rumah Nina.
Setelah masuk mobil, menggunakan safety belt masing-masing. Wildan menoleh menatap Nina yang langsung menyandarkan kepalanya.