Nina merenggangkan tangan, saat ia akan bangun, tiba-tiba saja ia merasakan sakit kepala yang sangat menusuk hingga membuatnya meringis dan tidak bisa bangun. Ia kembali membaringkan tubuhnya, mencoba menahan rasa sakit kepalanya sambil memejamkan matanya, meringis.
"Sial, perasaan kemarin gak kena kepala deh hujannya" keluh Nina
"Nin! Kamu kuliah enggak? itu Wildan nyamperin" suara Bunda memanggil dari luar kamar
"Bun..." Nina berusaha berteriak namun suaranya tak keluar dengan kencang, ia pun berdeham mencoba merenggangkan tenggorakannya
Saat Nina akan berteriak lagi, Bunda lebih dulu membuka pintu membuat Nina bersyukur karena ia tak harus berteriak.
"Kok kamu masih tiduran?" tanya Bunda
"Bun, kepala aku sakit banget" keluh Nina dengan suara yang lemah
Bunda pun mendekat, duduk di sisi ranjang kemudian memegang kening Nina. "Duh, kamu demam. Izin dulu deh"
Kepala Nina mengangguk "Tolong bilangin Marlan ya Bun"
"Yang di bawah Wildan tuh" ucap Bunda, Nina lupa tadi Bunda nya menyebut Wildan bukan Marlan
"Ya tolong bilangin mereka berdua ya Bun, nanti Marlan nungguin juga lagi" ucap Nina
"Yaudah, Bunda sampein dulu. Kamu di kasur aja jangan kemana-mana dulu, nanti Bunda ambilin sarapan sama obat. Selain pusing sama demam kami ngerasain apa lagi?" tanya Bunda
Nina berpikir sebenatar, lalu ia memegang leher nya "Kayaknya mau batuk juga deh Bun"
"Duh .. es terus sih kamu itu" oceh Bunda dan Nina tak bisa menjawab apapun karena ia sedang tak bertenaga sekarang
"Yaudah, bunda ke bawah dulu. Jangan kemana-mana"
Setelah mengatakan itu Bunda meninggalkan Nina.
Sakit adalah hal yang paling Nina benci, karena jika sudah seperti ini ia tidak bisa mengobrol banyak, pergi jalan keluar rumah apalagi bermain. Ia tidak suka di dalam kamar tanpa kegiatan.
Melamun sambil menunggu Bunda kembali, suara ketukan pintu terdengar membuat Nina menoleh cepat. Tak biasanya Bunda mengetuk pintu lebih dahulu. Biasanya suara nyaring Bunda yang akan terdengar lebih dulu.
Mata Nina fokus pada pintu yang perlahan terbuka, matanya melebar dan spontan ia menarik selimutnya hingga menutupi separuh wajahnya saat ia melihat Wildan masuk sambil membawa nampan dengan mangkuk, gelas dan botol obat di atasnya.
"Kok lu disini?" tanya Nina bingung
"Demamnya udah di cek belum? berapa?" Wildan menaruh nampan di nakas yang ada di samping ranjang Nina.
Kepala Nina menggeleng "Lu kok disini ? Bunda mana?"
"Ke rumah Marlan" jawab Wildan singkat
Masih dengan menutup diri hingga setengah wajah, Nina menatap Wildan. "Bunda yang nyuruh lu kesini?"
"Gua yang mau" Wildan menunjuk sisi ranjang Nina "boleh duduk disini?"
Kepala Nina mengangguk kecil "Lu gak kuliah emangnya?"
"Gampang, lu bisa duduk gak? makan terus minum obatnya"
Kepala Nina mengangguk lagi "Bisa, tapi lu balik aja gih. Gua malu belum mandi"
"Lagi sakit gak mandi gapapa"
"Bukan itu, gua kumel, bau" Nina masih berusaha menutupi wajahnya
Bukannya segera pergi, Wildan justru tersenyum "tetep cantik Na"
KAMU SEDANG MEMBACA
FALLING FOR YOU
RomanceWildan seorang yang anti sosial atau lebih halusnya sulit bersosialisasi, tiba-tiba bertemu dengan Nina, seorang gadis ceria ekstrovert. Tak bisa menghindar, Wildan lambat laun terbiasa dengan kehadiran Nina dan segala ocehannya. Kebiasaan itu mem...
