Nina mengikat rambutnya kemudian keluar dari kamar. Hari ini weekend dan Nina begitu semangat karena ia tak perlu ke kampus dan bisa bermalas-malasan di rumah.
Dengan masih menggunakan piyamanya, Nina menuju dapur, ingin mengecek makanan apa yang Bunda masak pagi ini. Namun langkahnya terhenti saat bukan hanya Bunda yang ada di dapur melainkan juga ada Wildan disana. Bahkan laki-laki itu sudah menggunakan apron pink milik Bunda.
"Coba liat siapa nih yang baru bangun? anak gadis kok males" ucap Bunda yang melihat kedatangan Nina
Wildan menoleh, tatapan mereka pun bertemu.
"Lu kok ada disini?" tanya Nina
"Bunda yang minta. Tadi dia kesini jam tujuh, pastilah anak gadis Bunda belum bangun, jadi bunda ajak masak aja. Soalnya anak gadis bunda megang pisau aja kegores" oceh Bunda menjawab lebih dulu
Nina cemberut "Bunda apaan sih" keluhnya kesal
"kan bener" Bunda membuang muka, sibuk dengan bahan makanan di meja dapur
Mata Nina kembali bertemu dengan Wildan. Sudah berapa hari mereka berkencan? tapi terkadang Nina masih merasa canggung dan malu.
"Gua bantu tante dulu" ucap Wildan
"Nina juga mau bantu lah bun" ucap Nina sambil mendekat pada Bunda dan WIldan
"Eh eh eh ... gak usah. Terkutuk dapur bunda kalau ada kamu"
Bibir Nina mengerebut, pipinya menggembung "Bunda kejam banget sih"
"Udah duduk aaja sana. mandi dulu kek, itu gak malu sama Wildan? dia udah wangi kamu masih bau iler" oceh Bunda
"Nina gak ngileh loh Bunda!!!" Protes Nina namun tak di gubris oleh Bunda
Detik berikutnya Wildan mendekat Nina, "Mandi dulu sana"
"Gua gak ileran kok" ucap Nina entah mengapa ia justru berucap seperti itu dan membuat Wildan tersenyum, lebih tepatnya menahan tawa.
Satu tangan Wildan memegang kepala Nina "Iya tahu, gak ileran juga tetep harus mandi kan?"
Hal yang Nina sesali dan syukuri pagi ini, menatap mata Wildan. Saat menatap Wildan jantungnya selalu tak terkontrol, ia kesal namun disisi lain ia juga senang.
"Iya iya, gua mandi. Nyebelin banget Bunda" Nina menggerutu lalu berlari kembali ke kamarnya
***novurieen***
Suara bel rumah Nina terdengar dan Wildan dengan cepat mengajukan diri untuk membukakan pintu sementara Ibunda Nina masih sibuk menyiapkan makanan.
Saat pintu terbuka, kening Wildan spontan mengernyit, Jaydev ada dihadapannya.
"Oh, gua lupa Nina udah punya pacar baru" ucap Jaydev
Sebelah alis Wildan naik, tak paham maksud ucapan dan kedatangan Jaydev ke rumah Nina. Sejak pindah, ini pertama kalinya Wildan melihat Jaydev di daerah rumahnya.
"Gua cuma mau ngasih oleh-oleh ke Bunda, dari nyokap, bukan dari gua" ucap Jaydev seolah tahu Wildan membutuhkan alasan keberadaan laki-laki itu disana.
"Masih pagi udah ada yang mau adu tinju kayaknya nih" suara Marlan membuat Wildan dan Jaydev menoleh cepat
"Ah, gua cuma jadi kurir ke Bunda, kenapa gua malah ketemu dua Herder nya Nina" Jaydev berdecak
Wildan dan Marlan saling menatap. Detik berikutnya Wildan menggerakan kepalanya ke arah Jaydev, meminta Marlan mengatasi laki-laki yang lebih dulu pernah berkencan dengan Nina itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
FALLING FOR YOU
RomanceWildan seorang yang anti sosial atau lebih halusnya sulit bersosialisasi, tiba-tiba bertemu dengan Nina, seorang gadis ceria ekstrovert. Tak bisa menghindar, Wildan lambat laun terbiasa dengan kehadiran Nina dan segala ocehannya. Kebiasaan itu mem...
