Wildan seorang yang anti sosial atau lebih halusnya sulit bersosialisasi, tiba-tiba bertemu dengan Nina, seorang gadis ceria ekstrovert.
Tak bisa menghindar, Wildan lambat laun terbiasa dengan kehadiran Nina dan segala ocehannya.
Kebiasaan itu mem...
Nina melangkahkan kaki keluar kamar saat ia mendengar bel rumahnya berdenting. Itu ia lakukan karena Bunda sedang keluar rumah untuk berbelanja, untung saja kepala Nina sudah jauh lebih sakit, ia tak merasakan pusing sama sekali, demam nya juga mulai turun, jadi ia bisa keluar kamar tanpa perlu menahan rasa sakit.
Tiba di depan pintu utama, Nina segera membuka pintu. Sosok Marlan berdiri dihadapannya, saat tatapan mereka bertemu, Marlan tersenyum.
"Sakit apa sih lu Nin? kok bisa-bisa nya?" tanya Marlan
Nada bicara Marlan seperti biasanya, seolah mereka tak pernah bertengkar kemarin. Seolah semuanya baik-baik saja dan mereka masih sama.
"Demam doang" jawab Nina singkat
"Kok lu yang buka? Bunda kemana?"
"Belanja"
Mereka diam, masih saling menatap.
"Gua bawa makanan banyak, tadi ada tukang dawet tapi gak gua beli, gua kira lu bisa jadi kena radang juga" Marlan mengangat satu tangan yang memegang jinjingan
Mata Nina menyipit "Gatel sih, tapi gak sampe radang sebenernya. Sial, gua pengen dawet jadinya"
Marlan tertawa kecil "Ini gua gak di tawarin masuk kah?"
"Emang lu mau masuk?"
"Emang lu bisa ngabisin ini semua?" Marlan menggoyangkan jinjingannya yang terlihat super banyak, entah apa saja isinya.
Nina tertawa, mundur satu langkah "Ayo ayo masuk"
Marlan masuk kemudian Nina menutup pintu. "Sambil nonton tv aja yuk Lan"
"Ayo"
Mereka berdua pun duduk di sofa yang ada di ruang televisi, di atas meja berserakan makanan yang di beli Marlan tadi. Nina tak berhenti tertawa melihat makanan-makanan yang di bawa oleh Marlan.
"Lan, menurut lu, gua lagi begini gua boleh makan cilor kah?" tanya Nina
"Kan bukan es, dawet tuh lu gak boleh"
"Tapi itu minyak doang Lan" Nina berdecak menggeleng tak mengerti
"Yaudah makan yang lain, tuh roti anget, tadi lewat depan langsung gua berhentiin. Lu kan suka banget, isi cokelat semua itu"
Kepala Nina mengangguk-angguk "Iya iya, nih gua makan" ucapnya seraya mengambil satu bungkus roti
"Syukur lah lu udah sehat. Gua agak panik dikit. Nyesel dikit juga"
Ucapan Marlan membuat Nina berhenti mengunyah kemudian menoleh menatap Marlan "Nyesel kenapa?"
"Nyesel kita harus adu mulut kemarin. Gua terlalu sensitif. Sorry ya Nin" Marlan menunduk hanya memutar-mutar bungkus roti yang belum di buka nya
"Santai aja, lu kan emang gitu. Gua ngerti"
"Ya, tapi kemarin berlebihan. Sampa gua ikut campur urusan hati lu. So sorry for that Nin. Lu berhak suka sama siapapun dan gua gak berhak maksa lu" Kali ini Marlan menoleh menatap Nina
"Kita masih sahabat kan Lan?" tanya Nina, ia tak ingin memperpanjang masalah
"Iya dong! emang ada yang mau sahabatan sama lu selain gua?!" Marlan dengan cepat merangkul leher Nina, menariknya lalu mengacak rambut Nina asal
"Ih anjir lah! rambut gua makin kusut!!!"
***novurieen***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.