Cinta bisa ditemukan dimana saja, tapi mampukah mereka bertahan saat jarak memisahkan?
Mereka berjuang menjaga rasa di tengah rindu dan waktu, hingga ujian yang tak pernah mereka duga datang menghampiri... Memaksa mereka memilih, bertahan atau mele...
Di ruang makan terlihat seorang gadis tengah memakan makan malamnya dengan lesu.
Sifatnya yang berbeda dari biasanya membuat sang ibu khawatir. Karena biasanya putrinya ini akan terus menceritakan kejadian yang terjadi di sekolahnya dengan penuh keceriaan, bahkan sambil makan pun ia sanggup berbicara.
Dan karena sifatnya yang berubah seperti itu membuat sang ibu membuka suara di antara keheningan yang tercipta di meja makan tersebut.
"Fannie kamu kenapa?" tanya wanita paruh baya itu dengan lembut.
Taufan hanya melirik ibunya tersebut dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan sang ibu, seolah ia berkata kalau ia baik-baik saja.
Tapi, melihat tanggapan putrinya seperti itu malah semakin membuatnya khawatir.
"Kamu ada masalah di sekolah? Cerita sama ibu" ucapnya dengan penuh kekhawatiran pada putri satu-satunya ini.
Taufan tersenyum pada ibunya, atau bisa di baca senyum terpaksa.
Mendengar ucapan putrinya tersebut, apakah ia percaya?
Oh tentu saja dia....
Percaya.
"Ibu kirain kamu ada masalah di sekolah. Ternyata bosan toh" ucapnya sambil menuangkan air ke dalam gelas putrinya.
Taufan yang mendengarnya hanya cengengesan.
"Ya sudah habiskan makanannya" lanjut ibunya lagi sebelum akhirnya ia melanjutkan makan malamnya yang tertunda karena sifat aneh putrinya.
Taufan hanya diam dan memakan kembali makan malamnya.
*****
Taufan menghela nafas saat sudah sampai di dalam kamarnya.
Dengan cepat ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang setelah menutup pintu kamarnya.
Taufan: apa gue terima aja ya tawaran Oni tadi?
Setelah beberapa menit ia terdiam, akhirnya ia buka suara dan bertanya pada dirinya sendiri.
Tapi setelah ia bertanya pada dirinya sendiri, dengan gusar ia merubah posisi telentangnya menjadi tengkurap di atas ranjang.
Taufan: tapi gue gak kuat kalau sama orang introvert. Gue maunya Gempa! Tapi kenapa Gempa pilih Yaya? Apa gue terlalu bodoh buat dia? Gue tau, gue gak pintar kayak Yaya. Tapi kan... Gue bisa berubah buat dia. Bahkan gue udah berhenti buat ulah di sekolah cuma buat biar dia suka sama gue. Iya benar berhasil dia suka gue. Tapi sebagai teman gak lebih! Aagrrr!! (Teriaknya tertahan oleh bantal di akhir kalimat setelah mengeluarkan apa yang menjadi beban hatinya)
Taufan mengangkat kepalanya dan membuka laci meja di sebelah ranjangnya, kemudian kembali berbaring telentang sambil menatap foto yang berada di tangannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Taufan: lo! Ihhh... kenapa sih gue harus suka sama lo? Dan kenapa lo sifatnya baik banget? Gue tuh baperan sama sifat manis lo Gem. Lo dulu dekat sama gue, eh pas gue jatuh cinta sama lo, lo malah milih Yaya. Lo kalau mau mainin perasaan gue jangan perlahan-lahan gini. Langsung hantam aja biar gue gak terlalu lama ngerasain sakit dan mengharapkan lo (ucap Taufan pada foto Gempa yang ia pegang)
Taufan lantas menghempaskan foto tersebut ke sisi tubuhnya dan menghela nafas.
Taufan: gue harus gimana? Gue pengen punya pacar. Tapi kalau cowok yang Oni bilang itu introvert. Aa... Gue gak sanggup sama orang pendiam kek batu es! Tapi kalau gue masih mengharapkan Gempa percuma juga. Orang Gempa milih Yaya (Gerutu Taufan lagi sembari mengacak rambutnya dengan frustasi)
Satu menit...
Lima menit...
Tujuh menit...
Sepuluh menit...
Taufan menghela nafasnya dan segera bangun dari acara rebahannya untuk duduk di atas ranjang.
Taufan: oke, gue bakalan coba terima tawaran Oni. Gue bakalan coba move on dari Gempa. Tapi kalau teman satu sekolah, kakak dari sahabat gue. Emang gue bisa move on? (Ucapnya lesu di akhir kalimat)
Taufan kembali menghela nafas lelah kemudian beranjak menuju meja belajarnya dan duduk di sana sembari membuka buku bernuansa biru malam dan mengambil pulpen.
Taufan: oke, gue bakalan coba terima tawaran Oni. Siapa tau karena dia, gue bisa cepat move on dari Gempa
Taufan tersenyum mendengar ucapannya sendiri dan mulai menuliskan bait demi bait hingga menjadi kalimat di atas sebuah kertas pada buku bernuansa biru itu.
Ia sudah mengambil keputusan malam ini. Dan semoga saja keputusannya malam ini berpengaruh baik buat dirinya kedepannya nanti.
Ia akan mencoba melupakan Gempa dengan cara mendekati si cowok introvert tersebut.
Dan semoga saja berhasil.
"Gue harap dengan begini gue bisa cepat melupakannya" batin Taufan sembari tersenyum memandang bintang-bintang malam yang bertaburan di langit.
______________________________________
Halloguys!!
Kira-kira Taufan bisa gak yah move on dari Gempa( ͡°з ͡°)
Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan Taufan?
Mau tau?
Tunggu di chapter berikutnya✧(。•̀ᴗ-)✧
Dan juga terima kasih buat yang sudah membaca cerita author, semoga suka.
Dan ingat!
Jangan lupa vote, komen yang positif dan share ya teman-teman.