Terobsesi Itu Menyeramkan

66 7 0
                                        

🌸Selamat Membaca🌸
.
.
.
.
.
______________________________________

Di sebuah bangunan yang bisa di sebut sebagai kampus, dimana mahasiswa/i belajar bersama. Terlihat seorang gadis cantik berwajah dingin sedang berjalan cepat di halaman kampus, dengan tas yang ia sampirkan di pundak kirinya dan sebelah tangan yang membawa beberapa tumpukan buku. Dan tangan sebelahnya lagi memegang ponselnya.

Jemarinya sedari tadi sibuk mengetik pesan pada kekasihnya, sudut bibirnya juga tak berhenti untuk terus tersenyum.

Kadang ia mendengus geli sesaat membaca pesan dari kekasihnya yang kadang membuatnya gemas.

*****

Sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba langkahnya terhenti saat suara seseorang memanggilnya.

Lantas ia langsung mematikan ponselnya dan mendongak untuk menatap seorang lelaki yang tersenyum lebar saat tiba di hadapannya.

"Jij bent Nervia toch?" tanya pemuda itu tanpa melunturkan senyum lebarnya.

Ice: ja, waarom? (Tanya Ice dengan nada dingin tanpa menghilangkan ekspresi datarnya)

Pemuda itu mengulurkan tangannya tanpa melunturkan senyumannya pada Ice membuat Ice melirik tangan itu dengan datar.

"Mag ik contact opnemen? Ik ben Maripos Giovano Afterdo, laten we Maripos bellen. Van de school voor danskunsten"

Ice: Nervia Ice Shadow, het is Nervia. Van de medische school (ucap Ice dengan nada dingin membalas uluran tangan pemuda itu)

Pemuda itu tersenyum lebar memandang wajah cantik Ice.

Ice yang melihat itu merasa risih dan berusaha menarik tangannya kembali, tapi tangannya di genggam erat oleh pemuda di depannya membuat nya sedikit takut melihat ekspresi wajah pemuda di hadapannya.

Apa-apaan senyumannya itu?

Ice merasa seperti ada maksud lain yang laki-laki di depannya, yang baru ia ketahui bernama Maripos itu saat tersenyum lebar padanya.

Senyuman itu, bukan senyuman biasa yang seperti kekasihnya perlihatkan. Senyuman Maripos seperti memiliki arti yang Ice rasa, bukan maksud yang baik.

*****

Dengan cepat Ice menarik paksa tangannya hingga genggaman keduanya terlepas.

Dan saat Ice ingin pergi melewatinya, Maripos langsung menghalangi jalannya membuat Ice bertambah takut walaupun ia coba tutup dengan ekspresi datarnya.

Ice: wat ga je doen? Beweeg, ik ga naar de les (ucap Ice dengan dingin tanpa memandang wajah pria di hadapannya)

Karena jujur, ia merasa takut dengan senyuman pria di hadapannya ini walaupun banyak mahasiswa/i lainnya yang berlalu lalang di sekitar mereka.

*****

Maripos yang mendengar itu, bukannya menyingkir malah merentangkan kedua tangannya, seolah melarang Ice untuk melewatinya saat gadis cantik itu berusaha berjalan melewatinya kembali.

Ice: wat ga je eraan doen? (Tanya Ice dengan dingin dan kesal menatap Maripos yang masih menghalanginya)

Maripos tersenyum lebar sembari mendongak ke atas seolah berpikir sebelum akhirnya menatap Ice yang kini masih menatapnya dengan datar.

Cinta Terhalang Jarak (Season 2) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang