9. Strawberry Week [REVISI]

93 5 0
                                        


Ayo, semuanya! Sarapan sudah siap!" Suara Javas yang menggelegar menggema di seluruh rumah, membangunkan para penghuni yang masih setengah sadar dari tidur mereka. Suara dentingan piring dan peralatan makan memenuhi udara saat keluarga itu berkumpul di sekitar meja makan, wajah mereka masih belepotan karena baru bangun tidur.

"Bang, mana Feli?" tanya Rey, sambil menatap kursi kosong di seberangnya. "Dia biasanya ikut bantuin nyiapin sarapan."

"Entahlah," jawab Javas, alisnya berkerut karena bingung. Dia sudah berada di dapur bersama Jevan dan Damian sejak fajar menyingsing. "Mungkin masih di kamarnya."

Saat itu, Damian, Jevan, dan Vero baru menuruni tangga dan bergabung dengan yang lain di meja. Damian langsung nyengir lebar. "Hei guys, dokter ganteng kembali," katanya sambil duduk dan menyendok nasi goreng ke piringnya.

"Ganteng dari mana, Bang? Dari tadi kita ngeliat lo lebih mirip zombie belum update software," balas Nathan sambil mendengus.

"Feli bilang ke Vero tadi, dia nggak enak badan. Katanya sakit perut dari tadi malam. Mungkin lagi PMS," ucap Vero kepada para sepupunya yang lain.

"Kalau dulu biasanya Feli suka tidur seharian kalau lagi PMS. Gue pernah kasih Feli coklat pas dia lagi PMS, dia langsung seneng banget," timpal Rey sambil mengingat kejadian dulu.

"Buset, lo baik banget, Rey. Kalau gue sih mending jaga jarak, takut dicakar," kata Nevan, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Vero.

"Jadi siapa yang mau nganterin sarapan ke Feli?" tanya Jevan, melihat mereka satu per satu.

Hening. Semua orang tiba-tiba sibuk dengan makanan di piring masing-masing, pura-pura nggak dengar. Javas menghela napas. "Yaudah, gue aja," katanya akhirnya, sambil meraih piring penuh makanan. Ia melangkah ke atas, meninggalkan yang lain yang kembali fokus ke sarapan mereka.

Di lantai atas, Javas mengetuk pintu kamar Feli. "Fel, bangun nggak? Gue bawain sarapan."

Sesaat kemudian, pintu berderit terbuka, memperlihatkan Feli yang tampak pucat dengan rambut awut-awutan. Mata setengah tertutup, wajahnya penuh ekspresi "gue capek banget sama hidup ini."

"Hai, Kak," gumamnya dengan suara serak. "gue nggak bermaksud melewatkan sarapan."

"Nggak apa-apa," kata Javas lembut, menyerahkan piring. "Makan yang banyak, biar lo nggak makin lemes. Kakak juga sekalian ngambilin obat buat lo."

Feli menerima piring itu dengan tampang penuh penderitaan. "Ugh, PMS tuh rasanya kayak kena neraka dunia, kak. Lemas, cranky, pengen ngamuk tapi nggak tau ke siapa, terus lapar nggak ada hentinya. Gue kayak monster yang butuh dipuaskan dengan makanan."

Javas terkekeh. "Kayaknya semua cewek kalau PMS jadi kayak vampir gitu, ya? Tapi tenang aja, Kakak punya stok cokelat dan cemilan banyak di kamar. Dijamin bikin mood lo langsung membaik."

Mata Feli sedikit berbinar. "Serius lo, kak? Coklat? Dimana? Buru! Gue butuh itu sekarang juga sebelum gue ngamuk."

"Santai, santai, nih gue ambilin. Jangan makan gue dulu ya," kata Javas sambil berjalan ke kamarnya untuk mengambil beberapa batang cokelat. Setelah kembali dengan sekotak cokelat dan sekotak biskuit, Feli langsung menyambarnya seperti orang yang nggak makan tiga hari.

"Ah, hidup masih ada harapan!" serunya, menggigit cokelatnya dengan penuh kenikmatan.

Javas duduk di ujung tempat tidur Feli, mengamatinya sambil nyengir. "Gue heran, kenapa sih cewek-cewek tuh kalau PMS bisa berubah jadi Godzilla? Padahal cuma beberapa hari doang."

Feli mendelik tajam. "Kak, lo baru aja nyamain gue sama Godzilla?!!"

"Eh, eh, nggak gitu maksud gue!" Javas mengangkat tangan pasrah.

"Bener-bener nggak peka lo, Bang. Ini lo harus paham, ya. PMS tuh bukan sekedar sakit perut. Ini tuh mood swing parah, energi drop, badan sakit semua, bawaannya mau nangis atau marah-marah tanpa alasan jelas. Terus, hormon lagi naik turun kayak roller coaster. Lo bayangin aja lo lagi sakit tapi orang sekitar malah ngata-ngatain lo Godzilla, nyebelin nggak?"

Javas mencoba menahan tawa tapi gagal. "Oke, oke, maaf. Gue nggak bakal sebut Godzilla lagi. Tapi tetep, lo lebih serem dari villain di anime."

Feli hanya mendengus sambil melanjutkan makan cokelatnya. "Yaudahlah, daripada gue debat sama orang yang nggak mungkin paham, mending gue fokus nyembuhin mood gue sendiri."

Tiba-tiba dari bawah, terdengar suara ribut. Marvin dan Rey kelihatannya lagi adu mulut soal sesuatu.

"Lo tuh nggak usah sok tau, bang! Udah jelas film yang gue bilang lebih bagus!"

"Demi Tuhan, Rey, selera lo tuh perlu di-upgrade! Film yang lo suka tuh overrated banget!"

Feli memijat pelipisnya. "Baru aja gue mulai ngerasa tenang, udah ada yang ribut lagi. Tuhan, cobaan macam apa ini?"

Javas ngakak. "Udah biasa, lah. Kayaknya mereka berdua kalau sehari nggak ribut, bisa sakit."

Feli menghela napas panjang. "Gue pengen banget keluar kamar buat nimpuk mereka berdua pakai sandal, tapi badan gue nggak mendukung."

Javas menepuk pundaknya. "Udah, makan aja yang banyak, istirahat. Biar nanti gue yang urus anak-anak berisik itu."

Feli mengangkat jempolnya dengan lemas. "Kak, lo kakak terbaik kalau lagi nggak nyebelin."

Javas pura-pura tersentuh. "Awww, terharu gue. Baru kali ini adik gue muji gue tanpa embel-embel nyuruh gue beliin sesuatu."

Feli nyengir jahil. "Hehe, gue abis ini butuh es krim juga buat terapi mental kak."

Javas menghela napas sambil menatap adiknya dengan ekspresi "gue udah tau bakal diginiin." "Dasar bocah licik. Yaudah, nanti gue beliin, tapi lo jangan minta yang mahal."

"Deal," jawab Feli dengan mata berbinar.

Di bawah, suara ribut masih berlanjut, kali ini ditambah suara benda jatuh. "Oke, kayaknya gue harus turun sebelum ada yang tewas," kata Javas sambil bangkit.

Feli melambaikan tangan. "Hati-hati Bang, kalau mereka mulai lempar-lemparan barang, lo mending langsung kabur aja."

"Noted," kata Javas sambil berjalan keluar kamar.

Feli menghembuskan napas lega, menikmati cokelatnya sambil membenamkan diri dalam selimut. Setidaknya, meski badannya nggak enak, dia masih bisa menikmati liburannya tanpa harus ikut campur dalam drama keluarga yang udah jadi rutinitas sehari-hari.

Puzzle PieceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang