36. Javas dan Luka yang Tak Sembuh

26 5 0
                                        

🐯

Javas Alexander bukan tipe cowok yang gampang jatuh cinta. Dulu, dia pernah percaya bahwa cinta itu indah, sampai akhirnya dia diselingkuhi oleh pacarnya sendiri... dengan sahabatnya sendiri.  Saat itu, Javas dan Dira (mantannya) sudah pacaran selama tiga tahun. Dia pikir semuanya baik-baik saja, sampai suatu hari dia melihat sendiri Dira dan sahabatnya, Reza, berdua di kafe favorit mereka. Bukan sekadar berdua, tapi pegangan tangan, tertawa, dan saling menatap penuh makna. Dan itulah hari di mana Javas sadar: dia hanya figuran di cerita yang sudah mereka buat diam-diam. 

Setelah patah hati yang lumayan bikin dia kehilangan arah, Javas mencoba membuka hati lagi. Lalu datanglah Luna, cewek yang awalnya terlihat menarik, penuh semangat, dan selalu bisa bikin dia tertawa. Tapi lama-kelamaan, Javas sadar... Luna bukan sekadar cewek ceria. Dia agak... gila.  Bukan gila dalam arti sebenarnya, tapi Luna punya cara pikir yang aneh dan sering melakukan hal-hal yang bikin Javas lelah batin. Mulai dari ngambek tiba-tiba tanpa alasan, mengancam akan kabur ke luar negeri setiap kali mereka bertengkar (padahal nggak punya paspor), sampai sekali waktu mengirim 67 chat hanya untuk menanyakan kenapa Javas belum balas "iya" di chat sebelumnya. 

Setelah semua drama itu, Javas menyerah. Dia memutuskan untuk hidup damai dan menjauh dari urusan cinta. Tapi masalahnya, keluarganya justru ingin menjodohkannya dengan anak teman bisnis ayahnya.  "Javas, kamu udah dewasa. Saatnya menikah," kata mommy nya suatu hari. 

Javas hanya tertawa pahit. Menikah? Setelah semua yang dia alami? No, thanks. Luka dari pengkhianatan Dira dan Reza masih ada, ditambah trauma dari pacaran dengan Luna yang bikin mentalnya terkuras.  "Mom, Javas nggak nolak jodoh, tapi Javas juga nggak mau cari masalah baru," jawabnya santai. 

Mommy nya menghela napas. "Jadi kamu mau sendiri terus?" 

Javas menatap langit, lalu tersenyum tipis. "Lebih baik sendiri daripada salah pilih lagi. Capek, Mom." 

Dan untuk pertama kalinya, dia merasa damai dengan keputusannya. Mommy Javas langsung menghela napas panjang, jelas masih belum menyerah dengan ide perjodohan ini. "Itu kan Luna, Nak. Calon yang ini beda," katanya mencoba membujuk. 

Javas memutar matanya. "Mom, kemarin Luna bikin party gila di kafe, bawa badut tiga biji, sewa DJ, dan bilang itu acara perpisahan buat kuku jarinya yang patah. Aku nggak mau ambil risiko kena yang lebih parah lagi." 

Mommy-nya menahan tawa, tapi tetap berusaha terlihat serius. "Tapi kan nggak semua cewek kayak Luna..." 

"Exactly, makanya Javas nggak mau coba-coba lagi. Nanti tiba-tiba calon jodoh yang ini malah bawa sirkus ke rumah." 

Mommy Javas akhirnya menyerah. "Ya ampun, Nak... Segitunya traumanya?" 

Javas mengangguk mantap. "Traumanya lebih dalam dari laut Atlantik, Mom." 

Dan dengan itu, Javas melanjutkan hidupnya... tetap single, tetap damai, dan yang pasti, jauh dari cewek-cewek yang berpotensi bikin hidupnya jadi telenovela.

Mommy Javas menatap putranya dengan ekspresi antara pasrah dan masih sedikit penasaran. "Baiklah, Mommy nggak akan maksa... for now. Tapi suatu hari, Javas, kamu pasti butuh seseorang." 

Javas menghela napas, lalu tersenyum kecil. "Mom, I already have someone. His name is peace of mind." 

Mommy hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa kecil. "Dasar anak satu ini." 

Puzzle PieceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang