🐯
Daffanka Arka Wijaya dan Devan Adrian Wijaya, sepasang kembar 17 tahun yang sering bikin orang bingung. Gimana enggak? Walaupun lahir dari rahim yang sama, sifat mereka beda kayak langit sama gorong-gorong. Daffa orang nya Cool, kalem, pencinta game sejati, lebih banyak diam tapi tajem kalau ngomong. Sedangkan Devan orang nya Jametnya enggak ketulungan, recehnya minta ampun, pusat perhatian di mana pun dia berdiri.
Tapi kalau ada satu hal yang menyatukan mereka? Jawabannya: debat receh tiap hari.
.
.
.
Hari itu, mereka terlibat perdebatan sengit tentang hal yang sepele tapi penting: warna cat kamar mandi. Daffa berpendapat bahwa putih adalah warna netral yang simpel dan elegan. Sedangkan Devan? Dia ingin mengecat kamar mandi dengan biru neon bercorak bintang.
"Putih mah basi, Daf! Kita kan anak muda, harusnya kamar mandi kita kece badai, kocak!" seru Devan penuh semangat.
"Hmm, mulai deh. Ini pasti bakal lama. Gue jadi pusing dengernya," gumam Jevan, kakak sulung mereka, yang udah terbiasa ngeliat debat nggak berfaedah dua bocah ini.
Daffa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya. "Biru neon? Lo mau ngubah kamar mandi kita jadi apaan, Dev? Gue donasiin lo lama-lama."
Debat makin panas, suara makin kenceng. Jevan yang tadinya tenang akhirnya mencapai batas kesabarannya. "Udah-udah! Kalian berdua ini kayak bocah! Debat mulu gara-gara warna cat kamar mandi! Lo berdua gak capek? Gua yang jadi abang aja lelah!" keluhnya sambil menutup telinga.
"Gue cuma nyampein pendapat, Bang," ujar Devan datar.
"Iya gue paham, tapi pendapat lo itu aneh-aneh semua!" sahut Daffa yang gak kalah datar.
"Aneh bagi lo, mungkin enggak bagi gue. Tinggal terima aja apa susahnya sih, Daf?" Devan melipat tangan, tatapan horornya siap menghakimi Daffa yang nggak bisa mengapresiasi seni warna kamar mandi futuristik ala dia.
Daffa menoleh ke Jevan dengan tatapan penuh harap. "Bang, lo nggak kasian lihat mental gue terkoyak habis sama Devan?"
Jevan, yang sudah nyaris kehilangan akal sehat, akhirnya bangkit dari sofa. "Haduh, kepala abang juga nyut-nyutan dengar suara kalian. Udah, abang mending cabut ke kantor daripada harus dengerin kalian!"
Daffa menatap dinding kamar mandi mereka yang masih putih polos. "Putih itu membosankan," gumamnya dalam hati. Tapi terus dia ingat warna yang Devan usulkan. "Biru neon bintang? Ini anak sebenarnya alien apa gimana sih?" pikirnya sambil menggelengkan kepala.
Seperti yang sudah bisa ditebak, perdebatan mereka enggak ada akhirnya.
Jevan udah menyerah total. Orang tua mereka? Udah males ikut campur. Yang penting rumah nggak kebakar. Urusan mereka ribut tiap hari? Yaudah lah, bonus hiburan aja.
Jevan sudah cabut ke kantor, orang tua mereka entah sibuk di mana, dan sekarang rumah tinggal dihuni dua bocah kembar yang enggak bisa diem ini. Daffa masih duduk di ruang tamu, tatapannya kosong menatap tembok. Dia masih mencerna kenapa Devan bisa kepikiran ide absurd soal kamar mandi biru neon.
Di sisi lain, Devan masih belum move on. Dia duduk bersila di lantai sambil menatap Daffa dengan tatapan penuh niat jahat."Daf, gimana kalau kita kompromi?" katanya dengan senyum sok damai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Puzzle Piece
FanficFeli harus berjuang menghadapi tingkah laku para sepupunya yang sering kali di luar kendali. Baik di sekolah maupun di rumah, mereka selalu bersama, menciptakan kisah penuh warna yang tak pernah membosankan. Layaknya kepingan puzzle, masing-masing m...
