31. 9 Bersaudara vs Hari Pertama Sekolah

42 7 0
                                        

Liburan panjang telah usai. Hari pertama sekolah setelah liburan selalu jadi momen paling menyedihkan dalam sejarah umat manusia. Ini bukan sekadar hari pertama sekolah biasa, ini adalah medan pertempuran. Para siswa masih dalam mode mager maksimal, tetapi sistem pendidikan berkata, "Aku tidak peduli, masuk sekolah lo!". Mereka harus kembali ke realitas kejam sekolah.

Di keluarga besar ini, ada sembilan bersaudara yang harus kembali ke sekolah. Mereka adalah Feli, Rey, Vero, Daffa, Devan, Rafa, Nathan, Nevan, dan Marvin. Sialnya, nasib mereka tidak sama. Marvin, si anak kelas 12, harus menghadapi Ujian Nasional. Sementara yang lainnya sibuk class meeting.

.

.

.

Jam menujukan pukul 06.00 WIB. Tidak ada yang peduli. Kecuali satu orang: Aksara Marvin Sanjaya.

Feli mendengar alarm di hp nya yang berada dibawah bantal. Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat jam dan berkata: "Ah, masih ada 5 menit lagi." Sayangnya, 5 menit lagi berubah jadi 30 menit.

"WOI BANGUN LO SEMUA! JANGAN JADI BEBAN KELUARGA!" teriak Marvin dari arah dapur yang berada di lantai satu sambil menunggu roti panggang nya matang.

Sementara itu, di kamar sebelah, Rey sudah duduk di tepi kasur, menatap kosong ke dinding. "Ini beneran udah Senin? Kenapa kayaknya 2 detik yang lalu kita masih liburan?" katanya dengan suara berat penuh penderitaan. Vero masuk ke kamar Rey, melihat Rey masih belum siap, dan langsung nyemprot, "WOI! KALO GA CEPET BANGUN, LO GA KEBAGIAN KAMAR MANDI!"

Daffa dan Devan, yang sudah duluan saling dorong di wastafel buat sikat gigi. Rafa, Nathan, dan Nevan masih tergeletak di kasur, berharap tiba-tiba sekolah lenyap dari muka bumi. Kedaan Langsung chaos, setelah selesai sikat gigi Daffa yang masih setengah sadar masuk kamar mandi tapi lupa bawa handuk. Akhirnya teriak, "WOI, TOLONGIN, GUE GAK BAWA HANDUK!"

Devan yang baru selesai sikat gigi cuman geleng-geleng, "Kita baru bangun, bro. Pakai kemeja aja, siapa tau jadi fashion statement." Rafa yang emang emosian karena kurang tidur langsung ngomel, "INI SEMUA SALAH BANG DAMIAN. DIA KAN DOKTER, KENAPA GAK CIPTAIN OBAT BIAR KITA GAK PERLU SEKOLAH?!" Damian, yang sibuk di rumah sakit, tiba-tiba bersin di tempat kerjanya. "Ada yang ngomongin gue ya?"

Di sisi lain, Marvin yang duduk di ruang tamu sambil makan roti panggang nya cuma ngelus dada. Dia siswa kelas 12 yang bentar lagi ujian nasional, dan lihat kelakuan saudara-saudaranya bikin dia makin stres. "Kalian tahu nggak sih kalau hidup itu harus ada prioritas?! Gue di sini mau simulasi ujian nasional, bukan ikut sirkus bareng kalian!"

Nathan menimpali sambil ngulet, "Santai, Bro. Gue juga bakal ujian, tapi lo lihat gue? Still chill."

Jam menunjukan pukul 07.15 WIB, semua sudah siap berangkat. Masalahnya? Mobil mereka cuma satu. "Ada 9 orang, tapi mobil cuma bisa muat 7. Siapa yang rela naik angkot?" tanya Feli.

"Tidak ada. Ada yang mau duduk di bagasi?" tambah Rey.

"TIDAK ADA." Akhirnya, setelah ribut seperti orang demo, solusinya adalah Nevan berbocengan dengan Nathan menggunakan motor Nathan sedangkan Devan berbocengan dengan Daffa menggunakan motor Devan, dan sisanya di mobil. Setelah perang pagi yang luar biasa melelahkan, mereka akhirnya berangkat ke sekolah. Sayangnya, perjalanan juga penuh drama.

"Buset, jalanan macetnya kaya antrian sembako gratis!" keluh Nevan sambil memandangi jalanan.

Di perjalanan, Vero ngedumel sambil buka HP. "Coba sekolah online aja lagi. Gue rela deh tugas numpuk asal bisa sekolah dari kasur."

Puzzle PieceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang