Haiii para pembaca setia! Terima kasih udah sabar nunggu kelanjutan cerita ini 🖤
Aku udah rindu banget nulis untuk kalian, dan semoga part ini bisa jadi pelipur rindu dan bikin kalian makin penasaran!
🦁
Malam turun pelan-pelan, tapi ketegangan di kamar Javas udah kayak uap panas yang nggak bisa keluar. Di layar laptop, rekaman kecelakaan diputar berulang-ulang, tapi nggak ada yang bisa kasih mereka jawaban pasti. Yang mereka tahu pasti ini bukan sekadar kecelakaan. Ini murni sabotase. Dan lebih gila lagi... ini bisa jadi baru permulaan.
"Gue punya firasat buruk," Damian akhirnya ngomong setelah beberapa menit hening. Dia duduk bersandar ke tembok, tangan kanan ngeremas rambutnya sendiri. "Gue ngerasa... ada yang ngawasin kita."
Javas langsung reflek nengok ke jendela. Tirai udah ditutup, tapi tiba-tiba dia bangkit dan ngebuka dikit buat ngintip keluar. Jalanan sepi. Tapi rasa waswas itu nggak ilang. "Lo ngerasa gitu juga, Jev?" tanya Javas sambil balik badan.
Jevan diem. Tatapannya kosong, tapi dalam. "Bukan cuma ngerasa," gumamnya. "Gue nemu ini di laci kantor gue tadi siang." Dia nyodorin selembar kertas kecil yang udah kusut, ada satu kalimat ngeri ditulis tangan dengan tinta merah: "Lo berikutnya."
Damian dan Javas langsung berdiri. "Bro, ini serius," bisik Javas. "Lo harus laporan ke polisi."
"Buat apa?" sahut Jevan dingin. "Kita punya bukti? Nggak. CCTV? Gak nunjuk siapa yang nyuruh truk itu. Polisi cuma bakal anggap ini ancaman biasa. Tapi ini enggak. Ini udah personal."
Javas masih ngotot. "Tapi...."
"Gue bilang enggak." Nada suara Jevan tiba-tiba dingin dan tegas. "Kita gak bisa libatin siapa pun. Kita harus beresin ini sendiri dahulu."
Damian ngangguk pelan. Dia ngerti. "Oke. Kalau gitu, kita harus gali lebih dalam soal siapa aja yang mungkin punya masalah sama lo. Atau... sama pesaing bisnis orang tua lo."
48 Jam Sebelumnya
Di rumah sakit, seorang pria berdiri diam di depan kamar ICU tempat Devan dirawat. Jas hitam, masker, rambut rapih klimis, dan kacamata hitam yang nggak pernah dia lepas bahkan di dalam ruangan. Dia nggak bilang apa-apa. Cuma ngelihatin Devan yang terbaring dengan selang di mana-mana. Tangannya nyaris membentuk kepalan.
"Sayang lo gak mati aja sekalian," gumamnya pelan banget, hampir nggak kedengeran. Tapi senyum sinis di wajahnya keliatan jelas. Dia ninggalin ruangan dengan langkah pelan, sambil nelpon seseorang. "Rencana gagal. Tapi gak apa-apa. Ada langkah dua."
Kembali ke Javas' Room
Penyelidikan mereka makin intens. Jevan nemuin catatan kecil Devan yang ternyata sempat ditulis di notes HP-nya dan otomatis backup ke akun cloud. Isinya kayak puzzle:
"Gue di perusahaan bang Jevan dan menemukan sesuatu. masa pak Prasetya bawa orang asing. Mana muka nya ditutupi sama kaca mata hitam dan masker, ini securty kantor gimana sih? mana gue Nggak bisa liat mukanya dan mereka bisik-bisik. Pas gue deketin, langsung diem. Ada yang gak beres. Gue cuma denger abang gue dalam bahaya, gue harus cari tahu siapa dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Puzzle Piece
FanfictionFeli harus berjuang menghadapi tingkah laku para sepupunya yang sering kali di luar kendali. Baik di sekolah maupun di rumah, mereka selalu bersama, menciptakan kisah penuh warna yang tak pernah membosankan. Layaknya kepingan puzzle, masing-masing m...
