🐯
Saat Javas, Jevan, dan Damian harus cabut ke luar kota buat kerjaan mereka masing masing, mereka sebenarnya udah was-was ninggalin Feli, si bocil bungsu kesayangan. Tapi ya masa iya mereka gak percaya sama sepupu dan saudara kandung nya? Ada Vero kembaran Feli si galak tapi care, Rey kakak kandung Feli yang sok bijak, Daffa yang selalu santai, Nathan si tukang debat, Devan dan Nevan duo troublemaker, plus Rafa dan Marvin yang kadang lebih drama dari sinetron. Mereka pikir, "Ah, pasti aman lah."
Namun, mereka tiba-tiba mendapat kabar mengejutkan dari Vero bahwa Feli sering keluar malam sampai jam sebelas lebih dengan alasan study grup, meskipun sudah dilarang Feli tetap melakukan nya. Padahal mereka belum genap satu minggu dinas di luar kota tapi sudah dibuat kelimpungan dengan keadaan di rumah. Mendengar kabar itu, Javas, Jevan, dan Ian langsung mode panik. "Lah, ini bocil dikasih kepercayaan malah ngeprank kita?" Ian menggerutu sambil nyetir mobil dengan kelajuan tinggi buat balik.
.
.
.
.
Sementara itu, di rumah, geng sepupu juga lagi heboh. Vero, yang biasanya cool tapi galak, udah kayak alarm kebakaran. "Gue udah larang, udah ceramahin, tapi si Feli emang keras kepala!" katanya sambil mondar-mandir. Rey, yang sok bijak, malah sibuk ngetik di grup keluarga, bikin thread panjang tentang "Dampak Negatif Keluar Malam bagi Remaja". Daffa? Masih santai sambil ngemil keripik. "Bocil pasti kena batunya nanti," katanya santai.
Pas Feli akhir nya pulang jam 1 pagi gara-gara mobil temennya mogok, dia masuk rumah dengan langkah mengendap-endap, berharap bisa lolos tanpa drama. Tapi begitu nyalain lampu ruang tamu—BOOM! Semua sepupu nya udah pada nungguin di sofa kayak juri sidang persidangan.
"KITA UDAH TAU SEMUANYA, FEL!" suara Vero menggema.
Feli langsung freeze. "E-eh? Kalian kok belum tidur?"
"Lo pikir kita lagi gathering pocong jam segini?!" Nathan nyeletuk.
Belum sempat Feli kasih alasan, pintu rumah kebuka lagi. Masuklah Javas, Jevan, dan Ian, tampang mereka udah kayak polisi abis lembur. "Oh, jadi ini kerjaan lo pas kita gak ada?" suara Bang Javas pelan tapi serem. Feli langsung tahu: "tamat riwayatnya."
Abang-abangnya langsung ceramah hard mode. Ada sesi "kita tuh khawatir", ada sesi "keselamatan lo penting", sampe sesi "dulu abang juga nakal, tapi gak separah ini" yang ternyata malah dikoreksi sama Vero karena abang-abangnya dulu lebih parah.
"Lo tau sekarang jam berapa, Fel?" suara Jevan terdengar dingin. Tapi Wajah abang nya menunjukkan kombinasi kekhawatiran dan kemarahan.
"Mobil temen gue mogok kak! Masa gue tega ninggalin dia sendirian?" Feli mencoba membela diri.
"Jadi lo lebih tega bikin kita semua khawatir! Kita bahkan langsung pulang dari luar kota demi lo!" ujar Javas, suaranya sedikit bergetar karena emosi.
Setelah panjang lebar ceramah, akhirnya Bang Jevan nyuruh Feli angkat tangan. "Sekarang, lo bersumpah: gak bakal keluar malam tanpa izin lagi!"
Feli, yang udah capek dan keringetan gara-gara interogasi, akhirnya mengangkat tangan. "Baik, saya, Feli, bersumpah atas nama kepercayaan keluarga... bakal jadi anak yang lebih bertanggung jawab dan gak bikin abang-abang serta sepupu-sepupu gue makin tua sebelum waktunya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Puzzle Piece
FanfictionFeli harus berjuang menghadapi tingkah laku para sepupunya yang sering kali di luar kendali. Baik di sekolah maupun di rumah, mereka selalu bersama, menciptakan kisah penuh warna yang tak pernah membosankan. Layaknya kepingan puzzle, masing-masing m...
