39. Semua Terluka, Tapi Tak Semua Bicara

27 4 0
                                        

🦁

Devan masih kritis. Sudah hari kelima sejak kecelakaan itu, tapi kondisinya belum banyak berubah. Alat-alat medis masih terus bekerja menjaga napasnya. Ruangan ICU itu jadi tempat semua harapan tergantung setipis garis detak jantung yang terus berkedip di monitor.

Setiap hari, anggota keluarga datang silih berganti. Kadang hanya duduk diam di depan kaca ICU. Kadang bisik-bisik doa, kadang cuma menangis diam-diam.

Tapi satu hal yang pasti: semua orang khawatir.

Jevan hampir nggak tidur untuk terus saling berjaga bergantiin dengan saudara nya yang lain dan terus mencari bukti tentang kecelakaan adik nya bersama Javas dan Damian. Daffa lebih banyak diam dan menghilang. Nathan dan Nevan serta Rafa mulai kelihatan murung. Bahkan Vero dan Marvin, si paling cerewet udah jarang ngomong. Dan Feli? Setiap hari dia datang ke rumah sakit untuk menjenguk serta setiap malam dia kirim pesan tentang keseharian nya menjadi chef dadakan  ke HP Devan yang masih diam di laci meja Jevan.

Tapi di antara semua yang khawatir... ada satu yang menyimpan rasa sakit sendiri. Diam-diam. Tanpa suara yaitu Reymond alias Rey

Dia juga sedih lihat kondisi Devan. Tapi sejak dua minggu terakhir sebelum kecelakaan itu, Rey udah mulai merasakan sesuatu yang aneh. Dadanya sering sesak. Tiba-tiba. Seolah paru-parunya dicekik dari dalam. Kadang pas lagi duduk santai. Kadang pas bangun tidur. Pernah juga pas lagi di kamar mandi. Awalnya dia pikir itu cuma kecapekan. Kurang tidur. Tapi makin lama... makin sering. Kadang bikin dia harus duduk, pegang dada, dan tarik napas pelan-pelan sambil nahan panik.

Tapi dia gak bilang siapa-siapa. Bukan karena gak percaya. Tapi karena gak mau nambah beban. Devan sedang kritis. Semua udah cukup hancur. Kalau dia ngomong sekarang, semua bakal tambah kacau. Jadi Rey cuma senyum, pura-pura kuat dan ceria, pura-pura jadi tempat sandaran. Padahal malam-malamnya... dia sering meringkuk di kamar, tangan menggenggam dada, berkeringat dingin, sambil nyoba tetap tenang.

Suatu malam, setelah dari rumah sakit, Rey pulang lebih dulu. Dia bilang ke yang lain kalau dia mau nyiapin makanan buat besok. Tapi malam itu, sesak nafasnya datang lagi. Lebih kuat. Lebih mendadak. Dia jatuh terduduk di dapur, punggung bersandar ke kulkas. Nafasnya memburu, pandangan kabur. Tangannya gemetar, bibirnya mulai pucat.

"Jangan sekarang... jangan sekarang..." bisiknya pelan sambil mencoba bangkit. Tapi tubuhnya terasa berat. Dunia berputar. Suara detak jantungnya sendiri menggelegar di telinga. Dan di detik itulah... untuk pertama kalinya, Reymond merasa takut. Bukan karena sakitnya. Tapi karena dia sadar... dia gak bisa terus sembunyi. 

Tak lama, pintu depan terbuka. Suara langkah kaki dua orang terdengar dari ruang tamu. Nathan dan Nevan baru pulang dari rumah sakit. Suasana hening saat mereka membuka sepatu, tapi berubah kacau ketika Nathan mendengar bunyi dentingan panci jatuh dari dapur. "Lo denger itu?" tanya Nathan cepat.

Nevan mengangguk. Mereka langsung lari ke dapur. Dan di sana mereka lihat Rey  terduduk di lantai, ngos-ngosan, keringat dingin membasahi wajahnya. Tangannya menggenggam erat sisi meja, berusaha tetap sadar. "REY?! Lo kenapa?!" Nathan langsung panik, mendekat.

Rey menggeleng pelan, tapi jelas dia gak baik-baik aja. "Gak... gak papa. Gue cuma... kecapekan."

"Kecapekan dari mana anjir?! Lo kayak gini bilangnya cuma kecapekan?" Nathan meninggikan suara, nadanya penuh emosi. Nevan langsung sigap ambil segelas air, tapi Nathan masih terpaku di tempat, marah, cemas, dan bingung jadi satu."Lo selama ini kenapa diem aja, Rey?!" lanjutnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Puzzle PieceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang