🐯
Setelah 15 menit perjalanan yang dipenuhi suara knalpot dan obrolan random di jalan, akhirnya kami sampai di kafe yang dituju. Begitu masuk, suasana langsung berubah. Cahaya lampu remang-remang menciptakan vibes yang cozy, alunan musik jazz lembut mengalun di udara, dan aroma kopi bercampur wangi vanilla menyambut kami. Tempatnya lumayan enak buat nongkrong atau ngerjain tugas, banyak anak muda yang juga asik dengan laptop dan kopi mereka.
Kami memilih meja yang agak pojok, dekat tangga menuju lantai dua. Bagi Feli, ini spot yang pas. Lumayan tenang buat healing, tapi tetap bisa lihat sekitar tanpa terlalu jadi pusat perhatian atau setidaknya, itulah harapan awalnya. Sayangnya, begitu para sepupunya duduk, suasana langsung berubah. Tatapan-tatapan dari berbagai sudut kafe mulai tertuju ke arah kami, terutama ke para abang-abangnya yang emang tampangnya nggak ada yang standar.
"Dih, berasa jadi artis gue," gerutu Feli sambil melirik ke kanan, di mana Kak Marvin duduk santai menikmati suasana. "Ini nih yang bikin gue males pergi sama kalian."
Marvin hanya tertawa kecil. "Nikmatin aja, dek. Kapan lagi?" ujarnya santai.
Rey yang duduk di seberangnya mengedipkan sebelah mata. "Lo harus bangga, Fel. Punya abang-abang modelan gini tuh rare."
Feli mendengus, lalu menatap tajam ke arah sekumpulan cewek-cewek yang mulai berbisik-bisik sambil curi-curi pandang. "Lo mah udah sering bang, jadi biasa aja. Gue? Ntar pasti ada yang nge-DM gue buat nanyain IG sama nomor lo semua. Ogah banget gue jadi admin kalian. Gue mau healing, bukan mau jadi customer service!"
Vero, yang duduk di sebelahnya, langsung pasang muka tengil. "Biasain lah, Fel. Lo harus bersyukur punya kembaran sama abang yang ganteng-ganteng ini." Feli langsung menatapnya dengan ekspresi 😒.
"Gue boleh duduk sendiri nggak sih?" gerutunya. "Seriusan, gue berasa kayak cewek yang ketahuan selingkuh sama pacarnya. Padahal pacar aja gue nggak punya."
Nathan, yang dari tadi sibuk scroll HP tanpa peduli sekitar, akhirnya buka suara. "Duduk aja sini, dek. Anggep mereka tuh daun yang bergoyang. Chill. Lo ratu di sini."
Feli cuma mendecak. Baru aja mau balas, pesanan kami datang. Berbagai minuman dan makanan mulai memenuhi meja, dan sebelum si waiter pergi, Feli buru-buru pesan cheese cake buat Rafa.
.
.
.
Obrolan ngalor-ngidul terus berlanjut. Dari ngomongin konspirasi dunia, curhat absurd, sampe debat nggak jelas soal siapa yang paling jago main game. Tanpa sadar, waktu udah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Wah, nggak berasa ya. Padahal tadi gue ngerasa baru duduk lima menit," kata Nevan sambil menggeliat.
"Lo doang yang ngerasa begitu, Van," sahut Marvin. "Gue udah capek ketawa dari tadi."
Akhirnya, kami semua bangkit dan menuju parkiran. Tapi baru aja mau naik motor, tiba-tiba tiga cewek nyamperin. Awalnya sih biasa aja, minta foto doang. Feli udah biasa liat ini terjadi, tapi yang bikin males adalah sesi lanjutannya.
"Eh, boleh minta nomor HP nggak, Kak?" tanya salah satu dari mereka. Cewek dengan pita pink yang dari tadi curi-curi pandang ke arah Kak Daffa.
Daffa yang udah kelihatan capek, hanya menghela napas sebelum menjawab dengan datar. "Sorry, gue nggak nyaman ngasih nomor ke orang yang baru kenal."
KAMU SEDANG MEMBACA
Puzzle Piece
FanfictionFeli harus berjuang menghadapi tingkah laku para sepupunya yang sering kali di luar kendali. Baik di sekolah maupun di rumah, mereka selalu bersama, menciptakan kisah penuh warna yang tak pernah membosankan. Layaknya kepingan puzzle, masing-masing m...
