...
Pagi ini matahari memancarkan sinar dengan sangat cerahnya. Membuat siapapun yang ada di bumi terbangun karena cahayanya. Termasuk seorang laki-laki yang kini sudah berbalut kemeja biru muda rapi dengan lengan yang di gulung sampai siku, laki-laki itu di temani oleh sepupu perempuan nya yang berdiri di depan kompor dengan apron hello kitty yang terpasang di dadanya. Dengan rambut cepol dan anak rambut yang acak-acakan, Feli membantu Damian untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga.
Damian pulang kemarin malam, namun tak bisa berlama-lama bercengkerama dengan semua sepupunya. Karena pagi ini ia sudah mendapat panggilan darurat dari rumah sakit, jadi mau tak mau ia harus kembali ke rumah sakit lagi.
"Nanti jangan lupa bangunin semua anak-anak ya Fel, kalo susah siram aja pake air. Kalo mau main boleh, tapi jangan pulang malem-malem. Kasihan nanti yang nyariin." Ucap Damiam dengan terburu-buru.
"Iya" jawab Feli malas.
"Oh iya, nanti jangan lupa sarapan. Pokonya jangan sampe ninggalin sarapan, atau kalian ga bakal abang kasih waktu buat main lagi," ancam Damian.
Feli yang merasa terancam pun langsung memberi posisi hormat pada Damian, dengan maksud mengerti akan ucapan Damian tadi. Setelah kepergian Damian, Feli langsung kembali ke dapur untuk mengambil panci dan juga sodet.
"BANGUN! BANGUN! WOI KALO TIDUR JANGAN KAYA KEBO! CEPETAN BANGUN, ATAU GUE SIRAM!" teriak Feli dari lantai bawah tak lupa juga dengan ritual memukul-mukulkan sodet ke panci untuk membuat suara bising.
Tak ada yang tidak terganggu dengan ritual yang dilakukan oleh Feli, termasuk salah satunya adalah Nathan. Karena suara bising yang di sebabkan oleh Feli, ia terpaksa bangun dari mimpi-mimpinya. Nathan berjalan keluar kamar dengan bantal di tangan kanannya. Di lemparkannya bantal itu tepat pada Feli yang masih asik memukul-mukul panci. Sang korban hanya mendelik tak suka karena ulah saudaranya tadi.
"Berisik banget lu, kayak anak ayam." setelah ucapannya tersebut, Nathan pergi meninggalkan Feli yang masih mencibir tak suka atas perlakuannya.
"GUE DI SURUH BANG IAN, KALO GA KARNA BANG IAN GUE JUGA OGAH BANGUNIN LO PADA!" teriak Feli dengan nada kesal.
...
Ritual yang di lakukan oleh Feli pagi tadi rupanya berhasil membuat semua orang yang ada di rumah terbangun dari tidurnya. Semua orang terlihat sudah berkumpul di meja makan, dan menikmati sarapan dengan tenang. Tenang? Pernahkah kalian melihat mereka hanya duduk tenang tanpa membuat keributan alau hanya ribut kecil? Tentu belum.
"Masa pagi-pagi makannya nasi goreng sih?" ucap Devan sambil menatap nasi goreng yang sudah dingin di depannya.
"Iya tuh, sarapan tuh roti kek apa," imbuh Nevan.
"Gegayaan banget lo sarapan pake roti, di kasih susu aja muntah." cibir Nathan kepada kembaranya dan di ikuti gelak tawa dari para saudaranya.
"Napa buka kartu as disini si," cibir Nevan pada saudara kembarnya itu.
"Lagain, siapa si ngide bikin nasgor buat sarapan?" tanya Rey.
"Masih mending ya gue masakin, kalo enggak mau makan apa kalian?" balas Feli dengan kesal.
"Dih, lu pikir kita ga punya chef pribadi? tuh si Devan lebih jago masak daripada lo," ucap Rey.
"yaudah jangan di makan kalo emang gamau makan. Emang manusia manusia ini ga ada syukur nya" ucap Feli kepada para saudaranya
"Udah gausah ribut, masih pagi juga udah ribut aja. Cepet abisin yang udah ada, gausah ngerengek minta yang lain." potong Marvin.
Feli dan Rey yang mendengar itu hanya saling menjulurkan lidah, Marvin udah tau kalau debat ini lanjut pasti ni piring makan udah berakhir di wastafel dan Feli pasti merajuk pada mereka.
...
"Akhh boring banget sumpah, masa liburan kegiatannya di rumah aja." ucap Rafa sambil mengganti-ganti channel TV menggunakan remote kontrolnya. Wajahnya sudah mulai bosan
"Iya nih, bosen kalo aktivitasnya gini-gini aja," imbuh Vero sambil melempar bantal sofa ke arah Rafa.
"Main aja yuk!" ajak Nevan dengan semangat, matanya berbinar-binar.
"Yuk, kemana bang?" Timpal Rafa ikut bersemangat
"Kalo main ke mall gimana?" Balas Nevan dengan menatap bergantian para wajah saudara nya, sambil mengangkat alisnya.
"Siapa yang berani minta ijin ke bang Javas?" tanya Daffa, nada suaranya sedikit ragu. Bang Javas adalah kakak tertua mereka
"Tadi sih kata bang Ian boleh main kita, asal jangan pulang malem-malem." celetuk Feli dari lantai atas, suaranya terdengar ceria. Ia sudah siap-siap dengan pakaian terbaiknya
"Sip kita udah mengantongi izin dari bang Ian, ayo kalo gitu" seru Nevan dengan semangat, langsung berdiri dari sofa.
"Tapi ke mall tuh mau ngapain? paling yang belanja nanti cuma si Feli aja." Ujar Nathan, sambil mengangkat bahu acuh tak acuh.
"Bilang aja gamau nemenin gue kan lo kak? Tabiat saudara gue kaya gini ternyata" cibir Feli, menjulurkan lidahnya.
"Emang bener sih yang di ucapin Nathan. Malesin tau nemenin cewe belanja apalagi nemenin nyokap belanja, kaki gue mau copot rasanya" balas Nevan kepada Feli, sambil tertawa kecil.
"Wah bener bener anak durhaka lo, besok gue laporin ke bibi soal ini. Lu juga jangan nolep-nolep napa sih kaya ga pernah ke mall, di mall ga cuma ada tempat belanja. Kan bisa ke Timezone,main game seru-seruan," balas Rey, ikut-ikutan menggoda.
"Yaudah ayok, siap-siap dulu. Oh iya Fel, inget jangan pake gaun lagi," ledek Devan yang di balas lirikan tajam oleh Feli. "Nanti lo kesandung sendiri, malu-maluin."
"Biarin! Lagian siapa juga yang mau dengerin lo," balas Feli kesal.
Mereka semua tertawa terbahak-bahak. Akhirnya, setelah berdebat sebentar, mereka pun sepakat untuk pergi ke mall.
Bagaimana cerita kali ini? jangan lupa bagi opini di kolom komentar ya....
Jangan lupa tap bintang nya.... terima kasih🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Puzzle Piece
FanfictionFeli harus berjuang menghadapi tingkah laku para sepupunya yang sering kali di luar kendali. Baik di sekolah maupun di rumah, mereka selalu bersama, menciptakan kisah penuh warna yang tak pernah membosankan. Layaknya kepingan puzzle, masing-masing m...
