37. Antara Duka, Kekacauan, dan Konspirasi.

35 5 0
                                        

Setelah insiden kecelakaan yang menimpa salah satu anggota keluarga Addison, rumah mereka berubah drastis. Biasanya, tempat ini nggak pernah sepi debat antara Rey dan Nevan karena hal receh, Daffa yang berdebat sengit soal siapa pro-player sejati di game terbaru, atau suara Nathan yang sibuk julid gosip keluarga.

Tapi sekarang? Sunyi. Bahkan suara kecoak lari pun terasa lebih berisik daripada mereka.

Rey mencoba mencairkan suasana dengan lelucon recehnya. "Hei, kalian tau nggak kenapa ikan nggak pernah ke sekolah? Soalnya mereka udah di sekolah ikan." Sunyi. Nggak ada yang ketawa. Nevan mencoba taktik lain, memutar lagu paling absurd di playlist-nya, berharap ada yang protes. Tapi tetap saja, rumah itu terasa seperti rumah hantu tanpa hantunya. 

Namun, hidup harus terus berjalan. Besok sekolah, kerja, dan rutinitas tetap harus dilakukan. Pagi harinya, suasana masih terasa berat saat mereka bersiap-siap. Tapi di tengah sarapan, sesuatu terjadi. 

Nevan, masih setengah sadar karena ngantuk, meraih gelas di meja tanpa berpikir panjang. Dia mengira itu susu, tapi begitu air itu menyentuh lidahnya, rasa aneh langsung menyerang seluruh sistem sarafnya.Rey, yang duduk di sebelahnya, menaik-turunkan alis. "Bro, gimana rasanya? Enak?"

Matanya membelalak. Ada rasa asin, sedikit amis, dan... entah apa lagi. Sepersekian detik kemudian.... "BLEGH!" Nevan menyemburkan cairan itu ke udara, nyaris mengenai Rey yang duduk di sebelahnya. Wajahnya berubah total, seperti karakter anime yang baru saja dikerjai habis-habisan.

Dan pecahlah ledakan tawa. Rey terkapar di kursinya, tangannya menghantam meja sambil terpingkal-pingkal. "Astaga, ekspresi lo kayak orang baru nyadar dunia ini cuma simulasi!"

Nevan buru-buru mengelap mulutnya dengan tisu, ekspresi trauma tergambar jelas di wajahnya. "Gue bersumpah, Rey... lo bakal kena karma!"

Belum sempat Rey membalas, suara lain menyela. "Eh, tadi gue naruh gelas disini? ada yang tau ga?" Mereka semua langsung menoleh ke arah Rafa, yang duduk di seberang. Pandangan mereka lalu turun ke gelas yang kini tinggal setengah isinya.

Sunyi

Lalu Rafa menggaruk kepalanya dan berkata polos, "Waduh bang... kayaknya tadi gue yang nyuci tangan di situ. Abis makan seafood, tangan gue masih agak berminyak..."

Nevan membeku. Rey terdiam sebentar, lalu "BRO, LO MINUM AIR BEKAS CUMI!"

Jeritan Nevan membelah udara. "RAFA! NGAPA LO NGOMONG SEKARANG?!"

Rey sudah kehabisan napas karena kebanyakan ketawa, nyaris jatuh dari kursinya. Nevan, dengan wajah panik, langsung melesat ke wastafel, berkumur sekuat tenaga sambil mengutuk nasibnya. Dalam hati, dia bersumpah... BALAS DENDAM INI PASTI TERJADI. Yang lain awalnya diam, tapi akhirnya nggak tahan buat ketawa juga. Itu adalah tawa pertama setelah beberapa hari yang berat. 

Sejak kejadian air itu, rumah para sepupu keturanan Addison grup perlahan kembali seperti biasa. Memang, masih ada kesedihan yang tersisa, tapi mereka sadar bahwa kebersamaan mereka dan tentu saja, keapesan Nevan adalah cara terbaik untuk bangkit lagi. Tapi bukan berarti semuanya langsung normal. Daffa yang dulunya udah dingin sekarang malah jadi lowkey perhatian, walaupun caranya agak awkward. Contohnya, waktu Feli lupa bawa jaket ke sekolah, Daffa langsung nyodorin jaketnya tanpa ngomong apa-apamembuat Feli terkejut, lalu bisik-bisik ke Vero, "Apakah ini tanda kak Daffa normal lagi?"   

Nathan, yang dulunya paling ribut soal gosip keluarga, sekarang jadi kayak Daffa versi 2 kalau chat isinya cuma "ok." atau "hmm." Damian, Javas, dan Jevan mulai merasa kayak mereka jadi babysitter dadakan, harus jagain mood semua orang biar nggak makin hancur. 

Di sisi lain, orang tua mereka sibuk banget. Saham keluarga sempat turun, dan mereka harus kerja ekstra buat beresin semuanya. Marvin, yang seharusnya fokus ke Ujian Nasional dan tes masuk perguruan tinggi, malah makin pusing dengan drama keluarga ini. Pernah suatu malam dia ngeluh ke Nevan, "Bro, otak gue udah penuh. Kayaknya kalau gue masuk ujian nanti, yang keluar bukan jawaban, tapi curhatan hidup."  Tapi, justru di tengah semua kekacauan ini, ada satu momen kocak yang bikin mereka sadar kalau mereka nggak bisa terus-terusan murung. 

...

Tiga tetua anak dari keluarga Addison yaitu Damian, Javas, dan Jevan bukan cuma harus jadi orang tua buat sepupu-sepupu mereka yang emosinya lagi labil, tapi juga harus mikirin satu hal besar: kecelakaan yang terjadi bukan cuma sekadar nasib buruk atau kecerobohan. Mereka bertiga tau betul kalau sepupu mereka yang masih koma itu bukan tipe orang yang asal-asalan saat nyetir. Tapi mereka nggak bisa bertanya langsung, jadi satu-satunya cara adalah mencari bukti sendiri. 

Malam itu, mereka bertiga berkumpul di ruang tengah, laptop terbuka, dan beberapa catatan tercecer di meja. Damian membuka rekaman CCTV jalan raya yang berhasil mereka dapatkan dari kenalan ayahnya. Javas memperhatikan peta lokasi kejadian, sementara Jevan sibuk dengan catatan tangan tentang kejadian sebelum kecelakaan. 

"Ada yang aneh di sini," kata Damian sambil nge pause video di detik tertentu. "Lihat truk putih ini, dia kayaknya sengaja menerobos lampu merah dan menabrak mobil lo Jev." 

Javas memperhatikan lebih dekat. "Iya, ini jelas bukan kebetulan. Ini kayak... sengaja mau bikin kecelakaan." 

Jevan menghela napas. "Pertanyaannya, siapa? Dan kenapa?" 

Mereka bertiga saling pandang, tahu bahwa jawaban dari pertanyaan itu nggak akan gampang didapat. Apalagi dengan kondisi rumah yang masih belum stabil, mereka harus bergerak diam-diam biar nggak bikin orang tua mereka makin stres.   

Besoknya mereka pergi ke bengkel dimana ada mobil Jevan yang sudah ringsek karena kecelakaan kemarin. Saat Jevan dan Damian berdua sampai di bengkel, mekanik yang menangani mobil itu mengerutkan dahi. "Aneh, sistem remnya kayak udah diutak-atik sebelum kecelakaan. Seolah-olah ada yang sengaja bikin dia gagal ngerem pas butuh." Merek bertiga langsung saling pandang dengan ekspresi tegang. Ini bukan kecelakaan biasa. Seseorang memang sengaja menargetkan keluarga mereka. Dan mereka harus cari tahu siapa sebelum ada yang jadi korban lagi.

Damian, Jevan, dan Javas duduk di lantai kamar Javas, mengelilingi laptop yang menampilkan rekaman CCTV kecelakaan Devan lagi. Wajah mereka serius, dan otak mereka bekerja keras untuk menyusun kepingan-kepingan misteri yang semakin membingungkan. Jevan menghela napas berat. Bayangan kejadian hari itu terus menghantui pikirannya. Devan seakan tahu sesuatu bakal terjadi. Dia menyuruh Jevan dan Daffa pergi lebih dulu. Dan detik berikutnya BRAK! Truk besar menabrak mobilnya, menghantamnya begitu keras hingga terseret jauh sebelum menghantam pembatas jalan.

Javas mengetik cepat di laptopnya, ekspresinya serius. "Kalau Devan udah curiga, berarti dia mungkin tahu siapa yang ngincer lo, Jev." Jevan menggertakkan giginya sambil berfikir Memangnya siapa yang ingin mencelakainya?

"Lo ngerasa ada yang aneh pas di kantor?" Damian menatapnya tajam. "Atau ada seseorang yang gak terima sama sesuatu yang lo dapet kemarin?". Kemungkinan itu membuat Jevan semakin resah.

"Bisa jadi," sahut Javas tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. "Banyak pesaing bisnis yang ngelakuin apa aja buat masuk 10 besar perusahaan yang diakui majalah besar. Devan pasti ngeliat sesuatu kemarin,dan dia gak sengaja nemuin orang yang nargetin lo.Makanya dia buru-buru nyuruh lo belok kiri tanpa berhenti di lampu merah."

Jevan mengepalkan tangan. Rasa bersalah menghantamnya seperti ombak ganas. "Gue... gue gak bisa terima ini. Devan rela ngorbanin nyawanya buat gue!" Suaranya bergetar. "Gue sama Daffa liat semuanya. Gue ngeliat truk itu menghantam mobilnya. Gue denger suara tabrakan itu, suara kaca pecah, suara logam remuk..." Jevan menunduk, menggigit bibirnya untuk menahan gemetar. "Kita berusaha narik Devan keluar... dia berdarah, banyak darah di tubuhnya..." Damian dan Javas saling berpandangan, wajah mereka menegang. Jevan menarik napas putus-putus. "Daffa... dia lebih shock dari gue. Dia lihat kembarannya tergeletak, hampir sekarat, di pangkuannya sendiri."

Sunyi. Hanya suara napas berat Jevan yang terdengar. Amarah dan kesedihan berkelindan dalam dadanya. "Siapa pun yang ngelakuin ini... gue gak bakal tinggal diam."

Puzzle PieceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang