34. Perjodohan, Pelarian, dan Luna Si Ratu Chaos.

22 4 0
                                        

Hari ini, setelah berbulan-bulan sibuk bekerja, orang tua Javas dan Marvin akhirnya pulang ke rumah. Mereka sudah merencanakan makan malam dengan teman-teman SMA mereka sekaligus ingin menjodohkan anak-anak mereka demi memperluas bisnis keluarga. Sayangnya, Javas dan Marvin sama sekali nggak excited soal ini. Bagi Javas dan Marvin? Ini lebih terdengar seperti hukuman dibanding pertemuan keluarga. Namun, tak bisa menghindar, mereka pun pulang ke rumah untuk bersiap-siap. Setelah mandi kilat dan berpakaian rapi atau lebih tepatnya, berpakaian dengan effort minimal untuk tidak dikira gelandangan. 

Mereka pun berangkat ke restoran tempat acara makan malam berlangsung, tapi suasana di mobil tuh awkward parah. Marvin sibuk scroll TikTok, Javas pakai headset pura-pura nggak dengar, sementara orang tua mereka sibuk ngomongin betapa 'bagusnya' calon pasangan yang bakal mereka jodohin. Sebelum mereka turun dari mobil, datanglah ultimatum maut dari orang tua mereka.

"Dengerin mommy baik-baik," kata ibu mereka dengan nada serius. "Kalau Javas kabur selama acara makan malam dan menolak perjodohan ini, Marvin juga bakal kena hukuman. Kamu nggak boleh keluar rumah, bahkan ke rumah sepupu-sepupumu, sampai Javas setuju."

Marvin langsung syok, merasa seperti pengantin yang lagi dipingit. "Wait, what?! Ini bukan urusan gue, kenapa gue kena imbasnya?! Kok gue yang kena azab juga?! Ini nggak adil, bro!" seakan minta tolong. 

Tapi Javas hanya mengangkat bahu, seolah berkata, "Not my problem."

🦁

Setibanya di sana, meja panjang sudah dipenuhi dengan om-om dan tante-tante nostalgia, sibuk mengingat-ingat masa muda mereka yang katanya penuh perjuangan. Javas dan Marvin hanya duduk di ujung meja, menunggu momen untuk segera menghilang dari pandangan.

Lalu, datanglah pasangan yang telah dijodohkan dengan Javas. Javas harus bertemu dengan seorang cewek bernama Livia, sementara Marvin, untuk alasan yang tidak mereka mengerti, juga dikenalkan dengan seseorang. "Kalian bisa double date nanti," kata salah satu tante dengan riang. Marvin hampir tersedak air putihnya.

Makan malam berjalan dengan normal setidaknya untuk lima belas menit pertama, sampai Javas merasa cukup dan mulai merancang misi pelariannya. Di tengah obrolan, dia mengirim pesan ke Marvin "Bro, gue kabur sekarang. Kalo lo dapet hukuman, anggep aja ini solidaritas."

Marvin membaca pesan itu dan ingin menjerit. "SOLIDARITAS APANYA, ANJIR?!" pikirnya dalam hati. Dia menatap Javas dengan tatapan penuh dendam. "Gue sumpahin lo ketabrak troli supermarket kalau kabur." Tapi tatapan mematikan Marvin tidak cukup untuk menghentikan Javas.

Javas menoleh ke Marvin dengan ekspresi sok bersalah, tapi dalam hatinya dia sudah punya rencana untuk kabur. Dan benar saja, begitu tiba di restoran, Javas pura-pura mau ke toilet, lalu menghilang seperti ninja. Javas langsung kabur ke rumah sakit tempat sepupunya, Damian, bekerja. Damian adalah dokter bedah, dan saat Javas tiba, Damian baru saja selesai melakukan operasi panjang selama tiga jam. Pas banget lagi istirahat, baru mau selonjoran, eh malah disatroni sepupunya yang satu ini.

"Bro, gue kabur dari acara perjodohan," kata Javas santai sambil selonjoran di sofa ruang istirahat dokter.

Damian meliriknya dengan ekspresi lelah. "Lo pikir ini hotel? Gue baru selesai operasi tiga jam, bang. Mau gue operasi juga nggak?"

Javas cuma cengar-cengir dan mulai menghubungi sepupunya yang lain lewat video call, Jevan. "Bro, lo bisa ke sini nggak? Gue butuh curhat. Gue nggak mau dijodohin, tapi juga nggak mau Marvin kena hukuman."

Puzzle PieceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang