🐯
Setelah waktu berjalan, hari semakin sore. Rumah yang tadi penuh keriuhan mendadak sunyi. Para penghuninya tepar semua, alias tidur, habis main PS lanjut berenang di kolam renang. Feli yang nyaman membaca novel kesukaannya di kamar tiba-tiba terganggu oleh suara gaduh dari lantai bawah.
"Kak Javas sama yang lain udah datang? Tapi ini masih jam setengah enam?" gumamnya sambil menajamkan pendengaran.
...
Ternyata, di bawah sedang terjadi pertarungan sengit antara tiga manusia yang rebutan kamar mandi. Nathan, Nevan, dan Reymond, para penghuni kamar no.2, heboh karena kamar mandi mereka mendadak ngadat. Padahal pagi tadi masih aman.
"Gue yang turun duluan," ucap Nathan, menghadang Rey yang hampir masuk ke dalam kamar mandi.
"Heh, kalian berdua diem dulu! Gue pemilik rumah, jadi gue duluan, oke?" sahut Rey, mencoba memanfaatkan statusnya.
Namun, tangan Rey langsung dicekal oleh dua saudaranya. "Bang, pemilik rumah tuh harusnya menghormati tamu. Karena tamu adalah raja," ucap Nevan dengan nada bijak sok-sokan.
"Anjirr, lo manggil gue 'Bang' pas ada maunya doang, ya?! Ga bakal gue mundur! Gue ada janji sama anak OSIS buat nyusun proposal, jadi gue yang maju duluan!" Rey setengah teriak, mencoba maju selangkah. Tapi naas, Nathan lebih sigap, langsung mencekalnya lagi.
"Sorry, lo berdua terakhir. Gue juga ada janji sama temen-temen gue dan ini udah mepet banget sama jam ketemuan, jadi gue mohon ngalah lah biar gue masuk duluan, oke?" Nathan mencoba nego sambil menepuk pundak mereka.
Alih-alih dapat restu, tangan Nathan juga dicekal. Perdebatan makin memanas, suara mereka menggema seantero rumah. Sementara itu, di ruang tamu, Marvin, Daffa, Vero, dan Devan malah duduk santai, menikmati tontonan gratis. Feli yang sudah tak tahan akhirnya turun ke bawah. Begitu melihat mereka yang duduk santai tanpa inisiatif melerai, Feli makin emosi.
"Bang, di atas ada kamar mandi di kamar Vero, kamar gue juga ada, terus kamar Kak Marvin kosong! Kenapa lo pada ribut kayak bocil berebut permen?!" ucap Feli sambil menghela napas kasar.
Nevan langsung menoleh ke Marvin dengan tatapan tajam. "Bang, kenapa lo diem aja dari tadi? Kenapa gak bilang kalau kamar mandi lo kosong?!"
Marvin angkat bahu santai. "Sorry, lagian enak liat orang debat. Padahal yang diperdebatin udah jelas jawabannya." Nathan, Nevan, dan Rey cuma bisa mendelik sambil bergumam, "Anjing lo, Bang!" lalu buru-buru naik ke lantai atas.
Feli menoleh ke empat manusia lain yang masih duduk santai. "Ini juga! Empat orang di sini nganggur, gak ada yang misahin! Kalian gak pusing apa liat mereka adu mulut?!"
Marvin nyengir. "Sorry, Cil. Bukan gak mau misahin, tapi kita menikmati adegan dramatis tadi. Kapan lagi bisa nonton mereka debat seru?"
Feli pengen nimpuk kepala Vero pake sendal. "Kapan lagi lo bilang?! Lo gak inget tiap hari di sekolah mereka debat?! Lo satu tongkrongan sama mereka, otak sama telinga lo perlu diperiksa ke dokter kali!" Dengan kesal, Feli memilih cabut sebelum otaknya ikut konslet.
🐯
Sore yang penuh drama akhirnya berlalu. Menjelang malam, rumah kembali tenang. Semua sibuk dengan ponsel masing-masing sambil tiduran di ruang keluarga. Hingga akhirnya ketiga kakak tertua mereka yaitu Javas, Jevan, dan Damian datang bersama Rafa, membawa banyak makanan dari luar. Feli langsung berdiri, menuju dapur untuk membantu Kak Ian dan Rafa menyiapkan makan malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Puzzle Piece
FanfictionFeli harus berjuang menghadapi tingkah laku para sepupunya yang sering kali di luar kendali. Baik di sekolah maupun di rumah, mereka selalu bersama, menciptakan kisah penuh warna yang tak pernah membosankan. Layaknya kepingan puzzle, masing-masing m...
