06

1.8K 187 14
                                        

"Sunghoon, pe-pelan-pelan" Sunoo berusaha mengimbangi langkah Sunghoon yang terus mendorongnya hingga memasuki kamar si Park.

Mina masih di rumah sakit jadi didalam rumah hanya ada mereka berdua.

Menghiraukan tas dan sepatu yang masih terpasang Sunghoon segera mendorong tubuh Sunoo hingga bersandar pada pintu kamarnya setelah benda itu tertutup, tanpa basa-basi ia langsung menyambar bibir Sunoo, menyesapnya kuat-kuat hingga si empu merasa ngilu Sunoo tak tau harus bereaksi seperti apa jadi ia hanya diam dengan menutup kedua matanya membiarkan Sunghoon menikmati 'hadiah' yang ia dapatkan.

Kepala Sunoo mendongak dengan tangan yang setia meremat tas punggungnya, Sunghoon menekan kepala si Kim sedikit menggigit bibir bawah Sunoo yang tebal hingga terbuka dan ia langsung melesakan lidahnya kedalam sana membiarkan dua benda tak bertulang mereka saling menyapa hingga saliva mulai menetes keluar, satu tangannya lagi merengkuh pinggang Sunoo agar lebih merapat dengan tubuhnya, ini bukan hanya sekedar kecupan kecil penenang yang pernah mereka lakukan dulu Sunghoon mendapatkan lebih dan ia sangat senang karena ciuman sesungguhnya sedang mereka lakukan.

Sunoo membulatkan matanya begitu Sunghoon semakin menekan kepalanya seolah ingin memakan habis bibir Sunoo dan ia mulai merasa pusing karena pasokan udaranya mulai menipis, tangannya yang tadi hanya setia pada tasnya kini berpindah meremat seragam depan Sunghoon mengguncangnya beberapa kali hingga mata kelam sepupunya terbuka dan mereka saling menatap.

"Hahhh hngkhh hahhh" Sunoo meraup udara sebanyak-banyaknya setelah akhirnya Sunghoon melepaskan ciuman mereka, dadanya terasa sakit selama beberapa saat, ia menatap Sunghoon yang nampak biasa saja bahkan masih setia pada posisinya dengan terus memperhatikan Sunoo yang terlihat tak berdaya dalam rengkuhannya.

"Apa sudah selesai?" tanya Sunghoon dan tak lama ia kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Sunoo namun si manis memundurkan kepalanya menolak.

"Ya-yang tadi sudah cukup"

"Siapa bilang?"

Sunoo gugup setengah mati, bukankah terlambat jika ia menyesal sekarang?

"Aku tak pernah mengatakan kita akan selesai kapan, semua keputusan ada padaku" ucap Sunghoon begitu mutlak.

"Tapi- hmmph"

• • •

Seorang gadis duduk tenang di atas ranjangnya dengan guling yang ada dalam pelukannya, matanya terfokus pada laptop miliknya yang menayangkan sebuah film romansa remaja, sesekali ia akan menyomot biskuit yang ada pada toples kaca di sebelahnya.

Terlalu asik ia bahkan sampai tak sadar ada seseorang yang membuka pintu kamarnya dan masuk begitu saja, menyandarkan punggungnya pada pintu kemudian bersiul untuk menarik perhatian si gadis.

Wonyoung berdecak rahangnya mengeras, ia berusaha abai pada pria yang terus mengganggunya akhir-akhir ini.

"Jadi pria seperti apa tipemu itu? Sudah aku bilang tak ada yang bisa menandingi pria sepertiku Jang Wonyoung"

"Bukankah aku sudah menunjukan fotonya padamu? Apa itu tak cukup Ricky Shen?"

"Wajahnya saja seperti orang bodoh" ucap Ricky dengan entengnya.

"Apa kau sedang merendahkan seleraku?!"

Tak menjawab namun wajah pria berdarah Cina itu cukup menyebalkan untuk Wonyoung hingga rasanya ia ingin mencabik-cabiknya hingga lebur.

"Terserah apa katamu nona Jang, mau pada siapapun kau jatuh cinta pada akhirnya kita akan menikah" Ricky mendekati ranjang Wonyoung lalu mengelus pucuk kepala gadis cantik di hadapannya,"kau adalah milikku"

That Feeling When || SUNSUNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang