[17+]
Pertemuan Shou dengan gadis yang ia kenal dengan nama Aimi, membuat remaja laki-laki itu pada akhirnya mempunyai sebuah tujuan hidup. Ia ingin menjadi idol seperti Aimi yang ia klaim sebagai cinta pertamanya.
Untuk meraih ambisinya, Shou yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Uno Yukari baru saja menyelesaikan kegiatan klub memasaknya. Baru beberapa hari memang dia menjadi anggota dari klub itu. Dengan membawa sebuah kantong kertas di dalam dekapan, kakinya melangkah ringan menuju gedung olahraga setelah berpisah dengan teman-teman klubnya. Sepoi angin yang menghangat di sekitar, pertanda musim akan segera berganti, menggelitiki wajahnya bersama rambut halus yang hari ini dia ikat menjadi dua bagian.
Yukari tak sabar melihat Kamiya Shou melahap habis ichigo daifuku¹ buatannya. Bagaimana pun, membayangkan pipi Shou yang menggembung dan kemerahan, menciptakan debaran menyenangkan dalam dada Yukari. Lengkung senyum pun tak bisa lepas dari bibirnya.
Namun, melihat tak ada sosok Kamiya Shou di antara para anggota klub basket, membuat tanda tanya besar pada kepalanya.
"Kamiya Shou?" Seorang gadis dengan sebuah peluit yang menggantung di lehernya baru saja menghampiri Yukari yang tampak kebingungan dan hanya berdiri mematung di mulut pintu gedung. Tampaknya, gadis itu adalah manajer klub basket. "Dia tidak datang hari ini. Kudengar dari kapten, dia sakit."
"Sakit? Sakit apa?" tanya Yukari, khawatir.
"Entahlah. Aku tak tahu." Gadis di hadapan Yukari itu lantas menoleh ke arah di mana seorang laki-laki berada, yang baru saja mengambil bola basket dari luar batas permainan. Suaranya yang keluar kemudian terdengar lebih lantang. Bukan ditujukan pada Yukari. "Oi, Tamaki! Kamiya Shou sakit apa? Ada yang mencarinya, nih!"
Seseorang yang diajak bicara ternyata adalah Tamaki Jun, sang kapten tim basket sekolah, yang kemudian berlari menghampiri.
"Panggil aku 'kapten'!" protes Jun, sebelum mengangkat satu alisnya, heran. "Kau tadi berbicara dengan siapa, Manajer?" lanjutnya bertanya.
"Loh--" Gadis yang ditatap Jun jelas terkejut lantaran tak menemukan seseorang yang tadinya diajak bicara. Dengan panik, dia lantas menoleh ke sana kemari. "Tadi ada orang kok di sini!"
"Hee. Jangan-jangan...," ekspresi wajah Jun berubah tegang dan menakutkan, "hantu." Jun jelas menggoda si manajer.
"Kyaa! Kau jangan menakutiku!" jerit si manajer histeris.
Tawa Jun pun meledak. Kapten klub basket itu tak sadar kalau bola basket di tangannya sudah direbut oleh si manajer. Barulah ketika bola itu dipantulkan ke lengannya, ia berteriak dengan hebohnya.
"Aw! Dasar cewek kejam!" rajuk Jun berlebihan, padahal tidak sakit-sakit amat.
"Apa kau bilang?!" bentak si gadis, murka.
Bukannya kapok, Tatsuki Jun masih saja meledek. Kedua tangannya menggantung di depan dada, menirukan pose hantu di film-film. "Tidak ada siaran ulang. Hihihihi~"
Tak butuh waktu lama bagi dirinya kembali menjadi sasaran empuk. Kali ini wajah Jun-lah yang terkena ciuman bola.
Di sisi lain, matahari sudah mencapai puncak langit saat Yukari keluar dari gerbang sekolah. Berbeda dari beberapa saat yang lalu, kali ini ekspresinya mengguratkan kekhawatiran. Dengan langkah mantap dan pasti, Yukari terburu-buru melalui jalan pulang. Dia bahkan kini berlari. Pikirannya terlalu penuh dengan kekhawatiran sampai-sampai tak fokus dan tak sengaja menabrak orang yang bersimpangan dengannya. Usai meminta maaf bersama bungkukan badan, dia kembali melanjutkan perjalanan.