Jam pelajaran baru saja selesai, setelah Ilora membereskan semua alat tulis, dan memasukkan kedalam tasnya, gadis itu segera pergi meninggalkan kelas.
Ilora berjalan terburu di sepanjang koridor, tangan kirinya membawa beberapa lembaran kertas tugas dari sekolahnya yang harus ia fotokopi. Yang kebetulan tempat fotokopi nya berada tidak jauh dari sekolah gadis itu.
Ilora berjalan dan mulai melewati gerbang, sesekali ia menoleh sambil memastikan waktu yang tepat sebelum melintasi jalan raya yang bisa di bilang mulai terlihat ramai di penuhi kendaraan.
Karena gadis itu memang sedang terburu, sedikit berlari, hingga tiba-tiba ia tersentak kaget saat sebuah mobil sudah mengerem mendadak didepannya.
"Lo nggak papa?" Kata seseorang yang keluar dari mobil, ia bermaksud untuk menanyakan keadaan gadis yang saat ini sedang menunduk, sambil mengatur nafasnya sendiri karena sedikit kaget.
"Ga, gimana?" tanya seorang pemuda dari dalam mobil.
Ilora mendongak saat nafasnya sudah terasa teratur, "Lora nggak papa kok." Jawab gadis itu sambil mengangkat kepalanya yang sebelumnya menunduk.
"Sial!"
"Oh, lo. Tau kalau itu lo nggak bakal gue turun." ketus pemuda itu.
"Bang Refga," lirih Ilora sedikit terkejut dengan sosok yang saat ini berada di hadapannya.
"Ga! Buru masuk. Gerah gue lama-lama! Lo mau sampai kapan deket-deket sama anak yang lahir dari rahim pembunuhan kaya dia?" seru Geri dari dalam mobil. Lelaki itu sama sekali tidak menyangka jika mereka akan bertemu dengan Ilora.
Ilora dapat dengan jelas mendengar kalimat yang Geri lontarkan. "Bunda bukan pembunuh!" dengan tegas Ilora mengatakan hal tersebut.
Saat Refga akan membalas perkataan Ilora, suara klakson berulangkali terdengar dari belakang mobil yang Refga kendarai, hal itu tentu membuat Refga mengurungkan niatnya.
"Ga buru! Jangan bikin macet! Nggak ada gunanya kita berurusan sama itu anak!" seru Geri.
Refga berjalan meninggalkan Ilora, dan memilih untuk kembali masuk ke mobilnya.
TIIINNNNNNNNN
Ilora yang tersentak segera berlari dan melanjutkan niat awalnya.
Dari kejauhan tanpa sadar, Ziega menatap interaksi Ilora dengan kedua lelaki yang secara sekilas Ziega kenal. Ia tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, kecuali dari ekspresi mereka yang sedikit bisa Ziega baca.
"Mereka berdua ada hubungan apa sama Ilora? Kenapa mereka kelihatan marah banget sama cewek itu?"
"Ckckckck! Dasar Ilora, di manapun tempat pasti doyan bikin masalah," dengus Ziega merasa tidak habis fikir.
★★★★★
"Oh, jadi itu anak pindah sekolah?"
"Pantes gue nggak pernah lihat dia lagi di Atlantas."
"Siapa yang lo maksud?" tanya Refga sedikit kurang nyambung dengan pembicaraan Geri.
"Almero lah! Siapa lagi."
Geri dan Refga adalah adik kakak, mereka saat ini berada di kelas 10 dan 12, dan mereka bersekolah di sekolah lama Ilora.
"Mungkin dia males lihat muka lo, makanya milih buat pindah sekolah," celetuk Refga enteng.
"Gue bahkan lebih males lihat muka dia."
"Ga, gue laper. Kita mampir dulu ya nyari makan."
Kedua mata Refga bergulir malas. Ia memandang sinis ke arah adiknya yang duduk tepat di kursi sebelahnya. "Ga! Ga! Biasain coba Ger, lo manggil gue Bang. Ini gue Abang lo heh!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Zielo{On-going}
Ficção AdolescenteSpin Off Yarrow. "Ega pulang bareng Lora ya." "Ziega gue nebeng lo boleh?" Ziega, lelaki itu menghela nafas kasar saat kedua tangannya di pegang oleh gadis yang berbeda. kedua mata mereka sama-sama menatap Ziega penuh harap, dengan maksud agar pria...
