Hari ini Chaka sekolah dengan motornya. Ya, ia baru saja dibelikan motor oleh papanya mengingat sang mama tidak membelikannya motor, bahkan uang saku pun tak pernah diberikan. Sampai di sana sekolah masih terlihat sepi, karena bagaimanapun Chaka datang sangat pagi.
Chaka berjalan dengan santai memasuki ruang kelasnya. Tak ada pembulian atau perundungan di sini. Sekolahnya adalah sekolah sehat yang pertemanannya tak memandang apapun. Sekolahnya pun tak sama seperti kakak ketiganya. Sekolah kakak ketiganya jauh lebih elit dan bertaraf internasional, sedangkan Chaka hanya sekolah biasa.
Sampai di kelas ternyata sudah ada orang yang duduk di sana. Tapi, sepertinya Chaka belum pernah melihat orang itu dan satu lagi. Orang itu duduk di sebelah tempat duduknya.
"Permisi," ucap Chaka karena kebetulan kursinya dekat dengan tembok
Tak ada balasan, sepertinya pemuda tersebut tengah tertidur.
"Per...ehhh," kagetnya karena pemuda tersebut tiba-tiba terbangun
"Hmmm," bangun dari kursinya
Chaka pun duduk dan pemuda tersebut duduk lagi lalu menelungkupkan wajahnya di meja. Chaka tak ambil pusing dan membuka bukunya untuk menyelesaikan buku yang diberikan oleh mamanya.
Baik Chaka maupun orang itu sama-sama tidak terusik apapun. Hingga tak terasa bel masuk pun berbunyi. Kini meja sudah penuh dan banyak murid yang memandang ke arah meja Chaka karena tiba-tiba saja ada murid yang duduk di sana.
"Selamat pagi anak-anak," sapa guru yang baru saja memasuki ruang kelas
"Pagi, bu...."
"Itu murid baru yang duduk di samping Chaka bisa perkenalan ke depan," perintahnya
Pemuda di samping Chaka tersebut bangun dan berjalan ke depan.
"Salam kenal, Jiantaka Surya Jaya, Jian," ucapnya singkat dan langsung kembali ke tempat duduknya
Kelas mulai bisik-bisik melihat sikap pemuda yang memperkenalkan diri sebagai Jian karena sifat anak itu yang kelewat dingin bahkan terkesan cuek.
.
.
.
.
Kini kelas mulai sepi karena bel istirahat sudah berbunyi. Tetapi kedua orang yang duduk bersebelahan tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan meninggalkan ruang kelas.
"Lo nggak kantin?"
"Lo nanya sama gua?" Tanya Chaka yang merasa pertanyaan itu tertuju untuknya
"Setan, ya lo lah," jawabnya dengan tidak santai
"Santai aja."
"Gua enggak, lo sendiri?"
Baru saja Chaka menyelesaikan kalimatnya, terdengar teriakan dari pintu kelas.
"JIAN KANTIN YOKKK," teriak seorang pemuda yang memiliki kulit tan
"Suara lo jelek," menjitak kepala pemuda yang teriak tadi
"Njir si bogel, kepala gua dijitak lagi," mengelus kepalanya
"Diem lu," kesalnya
"Udah-udah, berantem mulu," tengah seseorang yang terlihat lebih dewasa
"Tau nih, jodoh aja lo berdua," celetuk seorang pemuda yang memiliki bulu mata lentik
"Idihhh amit-amit ya Allah, bisa kena azab gua."
KAMU SEDANG MEMBACA
Chaka, Congrats!! || ZHONG CHENLE (END)
Roman pour Adolescents(Tahap revisi) (Tolong di perhatikan ya kalau ch 9 dan 10 itu terbalik, sudah coba diperbaiki tapi tetap terbalik. Terima kasih....) Sequel of 'Cerita Kos-an' Hay... ini kisah Chakarana Efendi sebelum Chaka dan mereka menjadi kita. -------- Kehidupa...