Bab 11

144 28 10
                                    

Haruno Sakura POV

Sabtu

Aku membalas pelukan hangat Sasuke dan membenamkan kepala di dadanya, meneruskan isak tangis di sana. Aku tahu aku sudah keterlaluan dengan menghancurkan pesta seseorang. Namun semua hal yang kami lakukan di sini... termasuk menceritakan masalah pribadiku dan saling memeluk terasa benar. Ini tidak terasa seperti besok akan terjadi badai Kaola.

Entah berapa lama kami saling memeluk satu sama lain. Kami berdua merasa nyaman dan benar-benar lupa waktu. Ibu Sasuke mendatangi kami sembari tersenyum. Mengatakan bahwa anak-anak sudah mengantuk dan saatnya menyudahi pesta. Kami memisahkan diri dengan canggung namun Sasuke tidak mengeluarkan ekspresi selain wajah datar.

Saat aku hendak bangkit mencari anak-anak, Sasuke menggenggam erat tanganku. "Tidur di sini malam ini," ujarnya memerintah. Aku mengangguk. Akan sangat sulit membujuk Hiroshi yang mengantuk untuk kembali ke rumah kecuali jika aku bersedia menggendongnya.

Ibu Sasuke juga tidak mengatakan apa-apa saat kami kembali. Jadi aku membawa Hiroshi dan Seiichi ke kamar, memastikan mereka sudah melakukan rutinitas sebelum tidur dan mencium kening mereka. Aku mengucapkan selamat tidur, mematikan lampu dan tersenyum ke arah keduanya.

Saat aku kembali ke halaman belakang, Nyonya dan Tuan Uchiha sudah tidak ada. Hanya menyisakan Naruto dan Sasuke yang sedang membereskan kekacauan. Aku berdeham. "Butuh bantuan, Boys?"

Mereka mengangkat kepala hampir bersamaan. Sejujurnya aku terkejut mendengar nada suaraku telah kembali seperti biasa. Dan Sasuke sepertinya menyadari hal ini lebih cepat karena mata sipit itu sedikit membulat.

"Kami sudah hampir selesai, Sakura-chan. Sasuke menawarkan vodka setelah ini jadi kau hanya perlu duduk dan biarkan Knight in Shining Armor beraksi," ujar Naruto tersenyum selebar mungkin. Aku memutar mata. Segera duduk di kursi sesuai perintah. Knight in Shining Armor katanya? Naruto benar-benar sudah tidak waras.

Mereka selesai sekitar sepuluh menit kemudian. Sasuke berpamit mengambil sesuatu di dapur dan Naruto seperti ekornya. Sahabatku punya kebiasaan mencuci tangan setiap waktu jadi kurasa ia benar-benar kalut jika tidak segera membersihkan kuman-kuman. Ia terlihat seperti orang yang gila akan kebersihan.

Naruto kembali terlebih dahulu, membawa dua kotak jus; cranberry dan jeruk, meletakkannya di atas meja. Kemudian Sasuke datang dengan satu botol vodka, mangkuk berisi es batu, dan tiga gelas berkaki tinggi. Aku mengerutkan alis. "Kukira seorang dokter sepertimu tidak pernah memiliki persediaan semacam ini." Aku terdengar seperti menghakimi. Namun aku tidak peduli. Hei, siapa tahu dokter memang benar-benar membosankan, kan?

Sasuke mengangkat satu sudut bibir. Mengangsur barang-barang yang ia bawa ke atas meja. "Percayalah padaku bahwa tidak ada dokter yang tidak menyembunyikan minuman beralkohol di balik scrub-nya."

Naruto mengangguk mengiyakan. "Bahkan aparat kepolisian sekali pun butuh ini untuk meredakan beban di kepala." Ia meraih salah satu gelas, menuang vodka, jus cranberry, dan jus jeruk bergantian. Menambahkan satu balok kecil es batu sebagai pelengkap.

Ponsel Naruto meraung meminta perhatian. Ia menatap kami lalu cengiran lebar terlukis begitu saja di wajahnya. "Ah, sepertinya aku punya sesuatu yang harus kujelaskan pada seseorang yang meneleponku."

Dan aku memutar mata. Ia berjalan menjauh setelah menjawab telepon. Aku bersumpah mendengar suara seorang wanita sebelum Naruto benar-benar pergi. Secepat itu Naruto mendapatkan seorang gadis. Aku bahkan tidak tahu apa yang gadis-gadis itu lihat dari sosok sahabatku itu? Ketampanannya, mungkin? Atau karena sikapnya yang ramah pada siapa pun?

"Sex on The Beach?" tanyaku mengerutkan kening, lagi. Atensiku sudah kembali pada Sasuke. Membiarkan sahabat kesepianku bersama wanitanya yang lain sementara aku terjebak bersama dokter sombong di hadapan.

Under These Skies (SasuSaku ver.)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang