Bab 12

102 16 6
                                    

Uchiha Sasuke POV

Sabtu

"Tidak. Tidak. Beberapa gelas vodka tidak akan menyakiti siapa pun."

Setelah berkata demikian, Sakura benar-benar menandaskan gelasnya dalam sekali teguk. Aku bergidik ngeri sementara ia justru tersenyum lebar. Mendesah keras seolah baru saja memenangkan pertandingan.

"Lihat? Aku baik-baik saja, kan?" ujarnya mengumandang pertanyaan retoris. Aku hanya mengangguk. Membiarkan Sakura mencerna alkohol. Bahkan kurasa efeknya sudah mulai mendera.

Setelah beberapa keheningan, aku kembali bertanya, "Apa aku harus menuangkan kembali vodka untukmu?"

Sakura mengiyakan dengan mengedipkan bulu mata. Ingin terlihat genit tapi aku justru mengernyit. Apakah kepalanya masih terasa berat karena meneguk alkohol sebanyak itu?

Setelah aku membuat minuman, Naruto bergabung bersama kami dengan gelas kosong di tangan. Ia menelisik ke arah Sakura yang sedang memutar-mutar es batu dalam gelas. Dengan kerutan di dahi, Naruto bertanya, "Apa dia sudah meminum vodka?"

Aku mengangguk. Masih bimbang ingin memberikan alkohol ini pada Sakura atau tidak. "Dia baru saja menghabiskan satu gelas penuh."

Mata Naruto membulat. Segera ia menangkupkan tangan di sekitar wajah Sakura, menatap dalam-dalam wajah merah padam wanita cerewet itu. "Bodoh. Kenapa kau menghabiskan semuanya dalam sekali tegukan?"

Sakura mendecih. Mencibir Naruto yang masih saja mencengkeram wajahnya. "Aku masih sadar sekadar menendang selangkanganmu."

Dan aku terkekeh. Mulut Sakura memang bermasalah jika berada dekat lelaki. Namun kurasa gadis itu terlalu manis untuk mengatakan hal-hal kotor. Sangat kontras dengan tubuh kurus kecil yang ia punya.

Naruto melepaskan tangan. Menatapku dengan tatapan abaikan saja ocehan sahabatku barusan dan aku mengangguk. Ia menyarankan kami bermain uno dan tanpa terduga Sakura memaksakan diri ikut serta. Wanita itu terlalu payah sehingga sering kali kalah. Ia adalah satu-satunya dari kami bertiga yang meminum paling banyak.

Saat botol vodka sudah hampir habis, Naruto menyarankan hukuman diganti; Sakura harus menciumku. Aku berdeham canggung tidak menyetujui namun karena kesadaran Sakura yang sudah tidak bisa diperkirakan, ia mengecup lembut bibirku. Mengirimkan gelenyar-gelenyar hangat menyebar hingga ujung kaki. Aku berusaha tidak menikmati ciuman ini namun rasanya benar-benar manis. Ini tidak seperti ciuman Hotaru yang selalu pasif dan tidak pernah mendominasi.

Naruto menyoraki Sakura. Mengatakan bahwa ia harus bertahan sampai dua menit dan aku tahu Naruto sedang menggunakan ponselnya untuk merekam ciuman kami. Sakura melepas pagutan tepat ketika otakku menghitung hingga seratus dua puluh detik. Ia kemudian melompat dari kursi, memuntahkan isi perut di atas rumput.

***

"Terima kasih untuk vodkanya, Kawan. Kau harus menjaga Sakura selagi kesadarannya belum pulih. Gadis kesayanganku itu memiliki kebiasaan buruk saat mabuk."

Aku mengantarkan Naruto sampai gerbang setelah membaringkan Sakura di kamar. Setelah muntah hebat tadi Sakura sudah terkapar. Jatuh tidak sadarkan diri seperti pecundang. Aku mengangguk menyanggupi perkataan Naruto. "Omong-omong sejak kapan dia tidak minum vodka?"

Naruto mengerutkan dahi sebelum menjawab. "Sekitar delapan atau sembilan tahun lalu saat pesta bujangannya. Setelah ia menikah, ia pindah bersama sang suami dan kurasa ia tidak pernah menyentuh alkohol sampai hari ini."

Aku kembali mengangguk paham. Pantas saja Sakura terlihat sudah kehilangan kesadaran saat meminum gelas pertama. Saat Naruto sudah berjalan meninggalkan pagar, aku segera masuk rumah. Menuju kamar tidurku sekadar memastikan Sakura terlelap.

Under These Skies (SasuSaku ver.)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang