Begitu turun dari bus, udara pegunungan yang sejuk langsung menyambut seluruh peserta. Setelah berjam-jam berada di dalam kendaraan, banyak siswa refleks meregangkan tubuh sambil menghirup udara segar yang terasa jauh berbeda dari udara kota. Di kejauhan tampak beberapa tenda besar yang sudah berdiri rapi, pos relawan PMI, serta area simulasi yang akan digunakan untuk kegiatan rescue selama satu hari penuh.
Sean ikut berhenti sejenak untuk memperhatikan pemandangan di sekitarnya.
Hamparan pepohonan hijau membentang sejauh mata memandang, sementara udara dingin yang berembus perlahan membuat suasana terasa jauh lebih tenang dibanding sekolah yang selalu ramai setiap hari.
Beberapa menit kemudian, suara peluit terdengar nyaring dari arah lapangan terbuka.
Seluruh peserta segera diarahkan untuk berkumpul.
Para pembina tidak memberi banyak waktu untuk beristirahat. Setelah memastikan seluruh peserta sudah hadir, mereka langsung memulai briefing mengenai rangkaian kegiatan yang akan dilakukan sepanjang hari. Penjelasan mengenai jalur simulasi, prosedur keselamatan, pembagian tugas, hingga area-area yang tidak boleh dimasuki disampaikan secara rinci sebelum akhirnya peserta dibagi ke dalam beberapa regu kerja.
Sean mendapat Regu Barat bersama Kai, Nino dan beberapa anggota lainnya.
Selesai briefing, seluruh peserta dipersilakan makan siang terlebih dahulu sebelum memulai tugas masing-masing.
Sean dan Kai memilih duduk di area yang tidak terlalu ramai.
Awalnya mereka hanya makan sambil membahas perjalanan tadi. Namun perhatian Sean perlahan teralihkan oleh satu pemandangan yang terus berulang sejak beberapa menit terakhir.
Nino.
Ia terlihat beberapa kali mendekati Zio dengan berbagai alasan. Mulai dari menawarkan minuman, mengajak mengobrol, hingga mencari alasan untuk duduk di dekatnya.
Awalnya Sean mengira itu kebetulan. Namun setelah melihat hal yang sama terjadi berkali-kali, rasa penasarannya mulai muncul.
Ia baru saja membuka mulut untuk bertanya ketika Kai mendahuluinya.
"Iya."
Sean berkedip bingung.
"Dia suka sama Ka Zio."
Sendok di tangan Sean langsung berhenti bergerak.
"Hah?"
Kai tampak santai seolah baru saja membahas cuaca.
"Semua anak PMR juga tau."
Sean menatapnya selama beberapa detik untuk memastikan bahwa temannya itu tidak sedang bercanda. Namun ekspresi Kai terlihat terlalu serius untuk ukuran sebuah lelucon.
"Serius?"
Kai mengangguk.
"Terus lo tau nggak? Dia pernah nembak Ka Zio."
"HAH?!"
Suara Sean langsung melengking tanpa sengaja. Beberapa siswa yang berada di sekitar mereka refleks menoleh. Menyadari kesalahannya, Sean buru-buru menutup mulut sementara Kai justru tertawa pelan.
"Pelan dikit napa."
Sean langsung merendahkan suaranya. "Terus?"
"Ya ditolak lah."
Kai kembali melirik ke arah Zio dan Nino yang saat itu sedang berbicara beberapa meter dari mereka.
"Katanya udah suka dari lama. Gua juga kaget pas tau ceritanya waktu awal gabung PMR."
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)
Ficción GeneralAda orang yang kita kenal lewat tatapan. Ada orang yang kita kenal lewat percakapan. Dan ada orang yang tanpa sadar sudah menjadi bagian dari hidup kita, bahkan sebelum kita mengetahui siapa mereka sebenarnya.
![Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)](https://img.wattpad.com/cover/367594146-64-k388941.jpg)