Ujian Pernikahan?

368 14 2
                                        

“Ujian dalam rumah tangga itu akan selalu ada. Mereka di uji hanya untuk membuat satu sama lain kuat. Agar mereka bisa saling menguatkan. ” —Gus Bizar

•Keikhlasan Cinta•





“Dek!” panggil Gus Bizar pada istrinya.

Ning Saffa baru saja memasuki kamar, setelah gadis itu pamit Ning Saffa memutuskan untuk menyusul suaminya.

“Kenapa mas?”

“Ada yang mau mas bicarakan, sini duduk samping mas!” Gus Bizar menepuk kasur dan sebelahnya. Ning Saffa pun menurut.

“Mas diamanahkan sama Abi untuk mengajarkan dan ngebimbing Sakilah, adek setuju nggak?” Ning Saffa seketika terdiam. Mencerna apa yang diucapkan oleh suaminya.

“Mas minta izin sama adek, tapi kalau nggak diizinkan nanti mas bisa bicara lagi sama Abi,” lanjutnya.

“Tapi ngebimbing dalam artian jadi gurunya aja kan?” tanya Ning Saffa memastikan.

Gus Bizar mengangguk, “Iya lah, dek. Hanya sebatas guru aja, ya walaupun dia udah jadi murid mas di kelas, tapi Abi meminta untuk mengajari anak itu.”

“Iyaudah aku setuju aja, mas. Yang penting mas nggak macem-macem,”

“Yo, ndak to, dek. Mas ngga akan macem-macem,” sahutnya.

“Ehmm, mas ...” panggil ning Saffa.

Gus Bizar menatap lekat wajah istrinya, “Kenapa dek?”

“Besok lusa aku izin keluar boleh?”

“Mau kemana memangnya?”

“Mau jalan sama mbak Asri,”

Mbak Asri adalah santriwati yang sangat dekat dengan Ning Saffa. Dia juga sering membantu memasak di ndalem, sekaligus abdi ndalem.

“Iya mas izinkan, tapi hati-hati yah, jangan sampai malem juga keluarnya,”

“Iya mas, nggak sampe malem kok,”

***

Perjalanan mereka lumayan memakan waktu, hingga akhirnya mereka sekeluarga telah sampai di pondok pesantren At Tadzkir, Surabaya. Tepatnya kediaman Gus Farhan, anak sulung Kyai Helmy dan Umi Farah.

“Alhamdulillah sudah sampai,” ujar umi Farah.

“Iya, Alhamdulillah sampai juga, ya mi.” balas Ning Saffa.

“Yaudah yuk, masuk!” ajak Gus Bizar pada umi Farah, Kyai Helmy dan istrinya. Mereka keluar dari mobil.

Ning Saffa membawa Tote bag yang berisikan kue yang kemarin ia buat bersama Umi Farah.

Suasana pesantren disini sangat sejuk sekali karena banyak pepohonan yang tumbuh di pelataran pondok. Banyak santri-santri yang berlalu lalang, ada yang sibuk dengan hafalannya, juga ada yang sibuk dengan kitab-kitab yang mereka pegang. Ada juga sebagian santri merapikan halaman pesantren.

Sesampainya di ndalem mereka berempat disambut dengan baik oleh keluarga Ning Jihan—istri Gus Farhan.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” salam kyai Helmy.

Keikhlasan Cinta {Slow Update}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang